Minggu, 08 November 2009

Cerpen-cerpen Seorang Soekarnois


A. Kohar Ibrahim


Bung Karno


oleh Asep Sambodja

Abdul Kohar Ibrahim adalah seorang Soekarnois sejati. Dalam novel Sitoyen Saint-Jean, A. Kohar Ibrahim (2008) memperlihatkan jati dirinya secara jelas, bahkan dengan penuh kebanggaan sebagai seorang Soekarnois. Ia menulis seperti ini:

Karena Presiden Republik Indonesia yang benar sebenar-benarnya adalah republiken Bung Karno, pembina bangsa, pejuang dan proklamator kemerdekaan yang antikolonialis dan neokolonialis serta imperialis. Sedangkan HMS adalah pengkhianat atasnya. Pengkhianatan yang mendatangkan bencana tragedi sampai pada menyengsarakan sebagian besar rakyat Indonesia. Salah seorangnya adalah diriku sendiri (Ibrahim, 2008: 11)

Seketika aku kangen pada BK. Sang Presiden Republik Indonesia, pembina bangsa dan pemimpin perjuangan kemerdekaan melepas belenggu feodalisme, kolonialisme dan neokolonialisme serta imperialisme. Presiden yang aku hormat hargai dan dicintai oleh rakyat Indonesia. Juga dihormat hargai oleh para pejuang kemerdekaan dan rakyat Asia Afrika. Pun, Presiden yang ahli pidato, penulis dan pencinta seni yang berjiwa besar (Ibrahim, 2008: 15).

Konkretnya, selain turba atau turun ke bawah demi lebih mengenal dan lebih mendorong maju perjuangan yang selaras dengan garis Bung Karno, juga menyusun ragam macam tulisan berupa reportase, esai budaya, juga kreasi prosa dan puisi. Yang, jika tidak dimusnahkan rezim militer fasis Orde Baru, tentu bukti-buktinya bisa dilacak di berbagai surat kabar dan majalah zaman itu yang tersimpan di Perpustakaan Nasional (Ibrahim, 2008: 20).

Kutipan di atas memperlihatkan betapa A. Kohar Ibrahim begitu gandrung dengan sosok Presiden Soekarno. Kecintaan Kohar kepada Bung Karno itu juga tercermin melalui cerpen-cerpennya yang terdapat dalam Laporan dari Bawah yang dihimpun oleh Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan (2008). Cerpen-cerpen itu berjudul “Danau Tigi Merah Berdarah”, “Ombak Terus Bergelora”, “Pesan”, “Penyergapan”, dan “Keinginan Seorang Perempuan”. Empat cerpen pertama berkisah tentang orang-orang yang berada di lini paling depan dalam pertempuran. Sementara cerpen “Keinginan Seorang Perempuan” berkisah tentang keinginan seorang istri yang sedang ngidam, yakni ia mengidam suaminya memanggul senjata.

Hampir semua tokoh dalam cerpen-cerpen itu menjadi anak wayang yang dimainkan sang dalang. Dalam arti, pengarang sangat berperan betul dalam cerita itu. Tokoh-tokohnya tidak diberi ruang ataupun kesempatan untuk berpikir, berbicara, dan bertindak menurut kata hati tokoh itu sendiri, melainkan semuanya tergantung pada sang pengarang sebagai dalang. Akibatnya, watak tokoh-tokohnya hampir sama pula. Dan pembaca harus membaca dengan sabar karena seperti mendengar dongeng yang hendak disampaikan oleh pengarang. Pembaca seperti menempati ruang sempit untuk berimajinasi dan berfantasi sendiri. Namun, pembaca diuntungkan dengan penggunaan kata dan bahasa yang bagus oleh pengarang.
Kecintaan Kohar kepada Bung Karno itu dicerminkan dengan pesan yang disampaikannya melalui cerpen-cerpennya. Dalam “Danau Tigi Merah Berdarah” Kohar bercerita tentang perjuangan membebaskan Irian Barat. Sementara dalam cerpen “Ombak Terus Bergelora”, Kohar menyinggung peristiwa konfrontasi dengan Malaysia. Kedua topik itu sangat relevan dan bersetuju dengan kebijakan Presiden Soekarno. Tokoh utama dalam kedua cerpen itu adalah pejuang yang selalu berada di garis depan. Sama halnya dengan tokoh utama dalam cerpen “Pesan” dan “Penyergapan”.
Ada yang menarik dalam cerpen “Danau Tigi Merah Berdarah” dan “Ombak Terus Bergelora”, yakni tokoh utamanya sama-sama tertembak di bagian lengan. Ada keberanian, ada semangat pengorbanan yang diperlihatkan tokoh-tokoh dalam cerpen-cerpen A. Kohar Ibrahim. Saya kutipkan adanya kesamaan “nasib” dua tokoh utama dalam dua cerpen itu.

Rumah-rumah rakyat dibakar Belanda! Dengan gila dan biadab! Marius menyelisip di antara belukar, memberi aba-aba pada anak buahnya yang tersebar di tempat-tempat tersembunyi. Lalu memuntahkan peluru senjatanya ke arah musuh yang bertebaran. Suara jerit parau dan tangis yang menyakitkan hati tak terindahkan lagi. Tetapi tiba-tiba Marius menyeringai, dirasakan hangat dan panas pada lengannya yang ditembus peluru. Terhuyung-huyung ia menyelinap di balik batu-batu sambil menahan nyeri, lalu merangkak. Tetapi tak kuat... tubuhnya berpeluh dingin.
(“Danau Tigi Merah Berdarah”)

Ketika Fatimah sibuk mengurusi seorang yang terluka dekat sebuah pohon, tanpa diketahui musuh telah begitu dekat, peluru mendesing-desing di kiri kanan. Dan tiba-tiba ia menyeringai, dirasakan lengan tangannya yang kanan hangat. Dirabanya dengan tangan kiri, darah terkelucak, ketika itu matanya kunang-kunang. Dipejamkannya matanya, berdiri dan berusaha melangkah, tapi tak kuasa. Seorang anggota Laskar melihat dia, berteriak menyambar tubuhnya yang melayang hampir jatuh ke tanah.
(“Ombak Terus Bergelora”)

Saya merasakan nikmat membaca pada bagian-bagian seperti ini. Kohar mendeskripsikan dengan baik saat-saat sang tokoh tertembak. Dan pembaca mungkin menangkap gambaran bahwa orang yang tertembak akan “menyeringai” dan “merasakan hangat” terkena peluru. Kedua tokoh itu tidak dimatikan oleh pengarang, karena masih diandalkan untuk menceritakan kisah selanjutnya, karenanya pula kedua tokoh itu sama-sama terkena tembakan di bagian lengan yang memang tidak mematikan.
Dalam cerpen “Pesan” dan “Penyergapan”, Kohar memperlihatkan semangat patriotisme yang melekat pada tokoh-tokohnya. Di dalam kedua cerpen itu pula diungkapkan betapa menjijikkannya orang-orang yang mau menjadi mata-mata penjajah. Ternyata bahwa dalam perjuangan, masih saja ada orang yang mencari untung buat dirinya sendiri, bahkan merugikan teman-teman sebangsanya sendiri. Luapan kekesalan itu terbaca dengan terang dalam kedua cerpen itu.
Sebagaimana judulnya, “Pesan”, cerpen ini mengisahkan tertangkapnya Agam oleh polisi-polisi kolonial. Agam tertangkap karena ada mata-mata yang membocorkan tempat persembunyiannya. Meskipun tertangkap dan dijatuhi hukuman gantung, Agam tidak memperlihatkan wajah penyesalan kepada istrinya, Parsih. Ketika istrinya diberi kesempatan bertemu untuk terakhir kalinya, di situlah pesan-pesan Agam dikeluarkan secara beruntun.

“Parsih, kita selalu mimpikan untuk bebas. Alangkah rindunya kita pada kebebasan, lepas dari tindasan kemelaratan dan ketakutan. Dan aku bersama kawan-kawan dan rakyat lainnya melakukan semua itu karena satunya keinginan untuk bebas itu...
Parsih, jangan kau habiskan airmata hanya untuk menangisi aku. Pengadilan kolonial telah memutuskan, aku harus menjalani hukuman...
Parsih, relakan aku. Hanya aku pesan, nanti, kalau saatnya telah datang… kau sudilah tanami pohon bunga merah di atas makamku. Kembang Beureum. Ingatlah Parsih. Ini pintaku, keinginanku.”
(“Pesan”)

Sementara dalam cerpen “Penyergapan”, yang tertembak adalah rekan seperjuangan Mansur yang bernama Amin. Dalam melakukan aksi penyergapan itu, Amin buru-buru mendekati serdadu-serdadu Jepang yang bergelimpangan. Dia tidak memperhitungkan bahwa tentara Jepang yang menjatuhkan diri dan pura-pura mati itu hanyalah taktik mereka belaka. Ketika tahu Amin tertembak, Mansur pun kemudian melemparkan granat ke gerombolan serdadu Jepang, yang mengakibatkan semuanya mati.
Cerpen “Keinginan Seorang Perempuan” menggunakan setting di Angola yang tengah dijajah Portugis. Kohar ingin menggambarkan bahwa semua hasil kebun yang ada di negara tersebut sudah dikuasai pihak imperialis, karena itu dia tidak bisa memenuhi keinginan istrinya yang mengidam berbagai hasil kebun. Akhirnya, istrinya bisa mengerti dan mengidamkan sesuatu yang spesial, yakni meminta suaminya, Natsa, untuk angkat senjata melawan kaum penjajah.

Ketika aku kembali menemui Kakek Keita, kakek itu menyelangak. Berkata, “Apa yang tidak dikuasai oleh orang-orang Portugis atau Eropa dari hasil bumi Angola kita, Natsa? Hampir semua mereka kuasai!” Dan ketika mengucapkan ini nampak wajah kakek merah padam. Sambungnya, “Jangankan kopi, jagung, lada, dan kapas… sampai budak-budak pun mereka kuasai! Apapun emas, berlian, dan besi serta hasil-hasil tambang lainnya yang sangat bernilai harganya! Benda-benda itu memang dari bumi, hasil keringat rakyat Angola, tapi,” kata kakek menekankan, “oleh karena orang-orang kulit putih itu yang berkuasa, merekalah yang menikmati semuanya.”
…
“Memang aku mengidamkan sesuatu, putra kita, entah kenapa aku begitu ingin dalam hari-hari ini mereguk secangkir kopi murni dan mengunyah jagung muda yang manis dan gurih. Oleh karena belum lagi terpenuhi, kutekan sekuat hati keinginan itu. Aku lebih menginginkan yang lain: engkau menyandang bedil!”
(“Keinginan Seorang Perempuan”)


Dari beberapa kutipan di atas terlihat kemampuan seorang Kohar Ibrahim dalam bertutur dan bercerita. Kata-katanya sangat terjaga dan memikat. Pesan yang diusungnya sehaluan dengan garis kebijakan Presiden Soekarno, tokoh yang diidolakannya sejak kecil. Ia menyuarakan antiimperialisme, mengobarkan semangat berjuang dalam merebut Irian Barat (kini Papua) dan berkonfrontasi dengan Malaysia, serta rasa setia kawan dengan bangsa Afrika yang sama-sama terjajah. Kohar juga mengobarkan semangat berani berkorban dan sikap seorang patriot sejati, nasionalis tulen, demi kemerdekaan rakyat Indonesia.

Citayam, 8 November 2009

Kepada Eko Endarmoko



oleh Asep Sambodja

Mas Eko “Tesaurus” Endarmoko yang baik, terima kasih banyak atas pertanyaan-pertanyaannya yang bergizi atas artikel saya, “Sejarah Sastra Indonesia Modern Versi Bakri Siregar” (9 Oktober 2009). Sebenarnya saya sudah menulis tentang sejarah sastra Indonesia dengan cukup panjang dalam “Dua Kiblat dalam Sastra Indonesia” (dalam Suhardiyanto, 2005). Kalau membicarakan khazanah sastra Indonesia berdasarkan penggunaan bahasa Indonesia, ini sama dengan pemikiran Umar Junus yang mengatakan “Sastra ada setelah bahasa ada”. Tentang hal ini, kalau merujuk pada bahasa Indonesia yang lahir pada 28 Oktober 1928, maka mubazirlah karya sastra Indonesia yang lahir sebelum itu.

Mengenai sastra tentang Indonesia dan yang terbit di Indonesia, ini semua orang bisa melakukannya; tidak perlu dia harus punya KTP atau SIM di Indonesia. Jadi, mengenai hal ini tidak bisa dijadikan ukuran.

Sastra karya orang Indonesia adalah yang menjadi fokus perhatian saya. Saya tidak lagi membedakan sastra Indonesia dan sastra nusantara. Pengertian “nusantara” juga sekarang ini agak longgar karena Malaysia dan negara tetangga juga menggunakan istilah ini. Saya lebih “sreg” dengan istilah sastra Indonesia dan sastra di Indonesia. Yang dimaksud dengan sastra di Indonesia adalah karya sastra yang menggunakan berbagai bahasa daerah yang ada di Indonesia. Kalau sastra yang menggunakan bahasa daerah tidak diklaim sebagai bagian dari khazanah sastra Indonesia, apa kata dunia? Hal itu nantinya bisa dikategorikan sebagai primordialisme atau yang lebih parah lagi bisa diklaim oleh negara lain. Ini serius, karena ada karya sastra berbahasa daerah yang bahasanya mirip-mirip dengan bahasa negeri sebelah. Ataupun, ada Suriname di sebelah sana.

Yang ingin saya katakan adalah “melindungi aset budaya bangsa Indonesia, menyelamatkan pikiran dan perasaan yang diekspresikan oleh orang Indonesia dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah”. Contoh yang sudah ada adalah karya Mas Marco Kartodikromo yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Contoh terkini adalah karya Ajip Rosidi yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Begitu juga Suparto Brata yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.

Premis saya ini memang sudah dikritik oleh Melani Budianta, karena logistiknya akan “amat sangat banyak sekali”. Ini kan risiko kita sebagai warga negara yang memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Jadi, mau tidak mau kita harus mengeksplorasinya. Kerja seperti ini memang tidak selesai satu dua hari. Butuh waktu dan tenaga yang luar biasa juga. Saya sedang mencontoh apa yang dilakukan Majalah Tempo yang menguak misteri peristiwa G30S 1965; setiap tahun dia menguak misteri itu satu demi satu, sedikit demi sedikit. Lama-lama misteri itu akan terkuak juga. Bukankah itu dikerjakan banyak orang dan memakan waktu yang cukup lama. Jadi, perlu kesabaran dan ketekunan dan ketelatenan juga.

Soal pembabakan sejarah sastra selama ini yang belum valid, saya pikir menjadi tugas kita semua untuk menyempurnakannya. Apa yang tengah saya kerjakan ini memuat ambisi seperti itu, hanya saja saya pun maklum bahwa apa yang akan saya hasilkan nantinya belumlah sempurna. Dan tidak ada yang sempurna. Saya pikir Tesaurus Bahasa Indonesia yang sudah dibikin oleh penulisnya sampai “nungging-nungging” itu pun masih perlu diperbaiki; belum sempurna. Demikian pula yang sedang saya kerjakan ini. Yang penting dan yang harus diingat oleh kita semua adalah kata-kata sakti dari Maxim Gorki agar kita tidak begitu saja dibohongi oleh penguasa, bahwa the people must know their history. Kiranya begitu, Mas Eko Endarmokoku tercinta.

Citayam, 9 Oktober-8 November 2009

Sabtu, 07 November 2009

Adakah Duka Lebih Duka yang Kita Punya, Anantaguna?



oleh Asep Sambodja

Pramoedya Ananta Toer (2003) dalam buku Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia mengatakan bahwa sajak “Potret Seorang Komunis” karya Sabar Anantaguna dan “Demokrasi” karya Agam Wispi merupakan prestasi sastra realisme sosialis yang telah mendapatkan bentuk dan pengucapan yang tepat. Pernyataan Pramoedya ini menggelitik saya untuk mengetahui lebih jauh tentang kepenyairan Sabar Anantaguna, sekaligus ingin mengetahui puisi seperti apa yang menjadi “selera” Pramoedya Ananta Toer itu. Dalam buku Gugur Merah yang dihimpun Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan (2008), kita bisa menemukan kedua puisi tersebut. Namun, saya ingin memfokuskan pembicaraan pada puisi-puisi S. Anantaguna. Berikut puisi “Potret Seorang Komunis” yang dipuji Pramoedya sebagai “prestasi sastra realisme sosialis” itu.

Potret Seorang Komunis

Adakah duka lebih duka yang kita punya
kawan meninggal dan darahnya kental di pipi
tapi kenangan kesayangan punya tempat dalam hati
Adakah tangis lebih tangis yang kita punya
badan lesu dan napas sendat di dada
tapi hasrat dan kerja berkejaran dalam waktu
Bila terpikir bila terasa bila kesadaran mencari dirinya
bila pernah ditakuti tapi juga disayangi
bila kalah pun berlampauan dan menang akan datang
adalah dada begitu sarat keinginan akan nyanyi
dan apakah yang aku bisa selain hidup
adalah bangga lebih bangga yang kita punya
di pagi manis daun berbisikan tentang komunis
begitu lembut begitu mesra didesirkan hari biru
Adakah cinta lebih cinta yang kita punya
sebagai kesetiaan yang berkibar di waktu kerja


Secara tersurat kita bisa melihat bagaimana permainan repetisi yang dilakukan S. Anantaguna menghasilkan keindahan bunyi dan irama, yang membuat puisi ini tampak cantik. Sementara secara tersirat bisa kita rasakan bagaimana penggambaran Anantaguna tentang seorang komunis. Kematian seorang komunis begitu menyisakan luka yang mendalam, sehingga timbul tanya: adakah duka yang lebih duka yang kita punya? Rasa duka itu timbul karena sesama orang komunis terjalin tali silaturahmi yang demikian kuat; sesama komunis adalah bersaudara. Puisi tersebut juga memperlihatkan ciri khas puisi sastrawan-sastrawan Lekra pada umumnya. Meskipun mereka berduka atas kematian sahabatnya, hingga tak terkatakan lagi, “adakah tangis lebih tangis yang kita punya”, mereka tidak boleh atau diharamkan untuk larut dalam kesedihan dan kepiluan itu. Tidak boleh sentimental. Tidak boleh cengeng. Karena itu, dalam puisi duka semacam itu harus tetap ada “hasrat” dan “kerja”. Sehingga terbaca di akhir puisi: adakah cinta lebih cinta yang kita punya, sebagai kesetiaan yang berkibar di waktu kerja?

Demikianlah potret seorang komunis yang saya tangkap dari puisi S. Anantaguna. Kalaupun harus menulis puisi tentang kematian, maka tidak melulu takluk pada kematian itu an sich, melainkan harus ada setitik harapan.

Dalam puisi “Demokrasi” karya Anantaguna, saya melihat sistem pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat itu demikian melekat pada dirinya. Puisi ini mengingatkan saya pada novel A. Kohar Ibrahim (2008), Sitoyen Saint-Jean, yang merasa mendapatkan kehidupan yang benar-benar demokratis justru di negara Kerajaan Belgia; dan tidak ia dapatkan di negara yang menganut paham Suhartokrasi. Berikut saya kutip puisi “Demokrasi” S. Anantaguna:

Demokrasi

Lantangkan suaramu dan katakan kau bisa membantai bulan
Rakyat begitu merdu dan matahari begini tinggi
Lantangkan suaramu dan katakan kau bisa bikin demokrasi mati
Rakyat begitu cinta dan aku tak ada batasnya
Sorak, sorakkan keparauan—kesumbangan
tanahku tanah air dan nyanyiku adalah bumi
sorak, sorakkan kepahitan—kekalahan
bila gagang api kau todongkan aku ini api
Di sini, di sini aku berdiri
di sinilah ada aku, aku, aku, sebanyak bintang-bintang
di pohon para di batang padi
di debu kota di mana saja
Jangan coba sentuh aku jangan coba bunuh aku
karena matahari telah telanjur begini tinggi


Dalam puisi tersebut, Anantaguna menyatukan dirinya dengan demokrasi itu sendiri. Dan ia menantang kepada orang-orang, penguasa, tiran, diktator, atau siapa pun yang mencoba membunuh demokrasi untuk menaklukkannya. Niscaya tak akan bisa, karena vox populi vox Dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Dalam hal ini, saya teringat dengan ucapan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfoed M.D. pada hari bersejarah 3 November 2009, “Siapa pun yang berusaha menghalangi arus rakyat, maka dia akan tergulung dan tergilas.” Demikian sejarah mengajarkan pada para penguasa untuk bersikap bijaksana dengan suara rakyat. “Rakyat begitu cinta dan aku tak ada batasnya.”

S. Anantaguna adalah salah satu penyair Lekra yang kuat dalam menyampaikan pesan namun tidak kehilangan greget kepenyairannya. Tidak salah kalau seorang Pramoedya Ananta Toer terpikat dengan puisi-puisi Anantaguna. Sebab, kalau kita perhatikan, puisi-puisi Anantaguna merupakan ekspresi dari hasil penyelaman dan penghayatan penyairnya yang masuk ke lubuk sanubari masyarakat. Dan selalu saja yang menjadi perhatian untuk dibelanya adalah rakyat kecil. Berikut ini saya kutip secara utuh puisi “Terlalu” yang memperlihatkan perhatiannya yang begitu besar pada rasa keadilan rakyat.

Terlalu

Terlalu banyak kisah
dan terlalu pendek waktu menulis sejarah
di pelabuhan aku lihat
kaki-kaki proletariat
bolak-balik di dermaga
bila dijumlah berpuluh kilo dilaluinya
juga lewat pundaknya
berjuta-juta kekayaan negara dan swasta
belum pernah dirasakan

Terlalu banyak kulihat
dan terlalu sedikit kertas untuk mencatat
di sawah ladang petani
mengabdi revolusi
bila dihitung betapa truk produksi padi
lewat tangannya juga
nasi pemimpin, jenderal, intelektual, semua
berhutang kepada keringatnya

Terlalu banyak kisah
dan terlalu sedikit kebenaran dalam buku sejarah
kepahlawanan proletariat
prajurit yang cacat
yang gugur di malam pekat
dan berapa rim sudah kertas terbuang
juga bermiliar-miliar kas negara keluar uang
koruptor bilang “pejuang”

Terlalu banyak kudengar
ratusan gadis jual diri karena lapar
mereka anak proletariat
anak petani keluar keringat
mereka pun membayar pajak sama berat
membayar merdeka dan revolusi dengan taat
si genit anak komprador kapasitas birokrat
gelandangan terlalu banyak waktu kantongnya padat

Ah dik, jangan keliru mengutuki tanah air
meski beribu drum tinta sudah mengalir
pengarang-pengarang gadungan risau hati humanisme
begitu takut kehilangan imperialisme
sarjana-soska bohong di universitas
aku pilih rakyat berjuang Indonesia bebas!

Bait pertama hingga keempat, penyair Anantaguna menggambarkan penderitaan buruh, tani, prajurit, dan kaum perempuan. Dalam bait-bait itu juga ada ironi. Buruh dan petani yang bekerja keras tidak mendapatkan penghargaan sesuai dengan yang mereka lakukan. Begitu pula dengan prajurit yang telah berjuang di garis depan, dan mengalami cacat akibat perang, hidupnya tidak pernah dicatat dalam buku sejarah. Selama ini buku-buku sejarah hanya mencatat para penggede; padahal yang memberi mereka makan, kemudahan, dan kemewahan adalah orang-orang yang berada di bawah. Sistem kapitalisme seperti ini memang menyedot keringat kaum buruh, tani, prajurit, dan kaum proletar, kaum miskin kota dan kaum miskin desa, orang-orang yang senantiasa terpinggirkan.

Dan, penyair-penyair salon atau “pengarang-pengarang gadungan risauhati humanisme begitu takut kehilangan imperialisme,” pun “sarjana-soska bohong di universitas,” tegas penyair Anantaguna.

Apakah “sarjana-soska” itu? Menurut Ahmad Sujai, pengajar Sastra Rusia UI, soska yang dimaksud di situ sama seperti sosis. Jadi, ungkapan itu kurang lebih bermakna “sarjana yang bermental sosis”. Jika kita buka kamus bahasa Prancis, kita akan menemukan kata sans souci yang berarti “tidak peduli”. Jadi, kemungkinan penyair Anantaguna ingin mengkritik para sarjana dengan ungkapan “sarjana-soska” atau “sarjana yang tidak peduli” yang tidak memberikan ilmu kehidupan bagi mahasiswa.

Citayam, 8 November 2009

Jumat, 06 November 2009

Cicak dan Buaya dalam Puisi Indonesia Modern



oleh Asep Sambodja

Ketika puisi Tulus Wijanarko yang berjudul “Sajak Perlawanan Kaum Cicak” muncul di facebook saya, spontan saya mengatakan, inilah puisi Indonesia terbaik bulan ini. Ketika itu bulan menunjukkan Oktober 2009. Saya seperti menemukan kembali puisi yang bermanfaat bagi orang banyak, bagi masyarakat. Selama ini, terus-terang saja, dunia puisi Indonesia modern didominasi oleh apa yang dikatakan Rendra sebagai penyair-penyair salon. Mereka menulis puisi tanpa melihat jeritan batin rakyat kecil. Hal itu seperti menjadi lumrah dalam media massa kita. Sah-sah saja penyair-penyair salon itu bicara tentang persoalan pribadinya, kemelut hati, eksplorasi dan bahkan eksploitasi seks, silakan saja. Karena menulis topik apa pun pasti memiliki dasar yang sangat kuat, yakni kebebasan ekspresi.

Hanya saja, penyair yang peduli dengan kehidupan rakyat kecil itu masih sedikit jumlahnya. Kalaupun ada, maka posisinya selalu dipinggirkan, termarginalkan. Kita ingat ketika Rendra muncul dengan puisi-puisi pamflet, maka yang melecehkan bukan saja penyair-penyair salon, melainkan penguasa yang tak tahan kritik. Rendra pun dipenjara. Kita ingat ketika Wiji Thukul muncul dengan puisi-puisi perlawanannya, tak ada koran yang berani memuat puisinya. Ia malah diculik dan dibunuh oleh Rezim Orde Baru.

Kini, ketika puisi Tulus Wijanarko terbit di media online, dalam hal ini facebook, seakan-akan ada sinar yang menerangi jagad perpuisian Indonesia. Setelah Saut Situmorang dan Heri Latief, kini saya menemukan sosok penyair antipenindasan yang melekat pada diri Tulus Wijanarko. Puisi Tulus ini lahir tidak seperti bintang yang jatuh dari langit, melainkan ada konteksnya. Dan, rakyat Indonesia tahu dan paham apa yang tengah terjadi di dunia penegakan hukum kita.

Makanya, agak aneh rasanya jika kenyataan yang kita lihat adalah persekongkolan busuk yang sangat mengusik rasa keadilan masyarakat, penyair malah bicara tentang payudara atau tentang bunga. Menurut saya, boleh saja mereka menulis puisi tentang itu, tapi jangan selamanya menutup mata, jangan membohongi hati nurani sendiri dengan sembunyi di balik selimut “seni untuk seni”.

Dalam hal ini, saya sepakat dengan Adnan Buyung Nasution, bahwa persoalan hukum jangan hanya dilihat pada segi normatif legalistiknya saja, jangan hanya dilihat pasal-pasalnya saja, tapi lihat dan perhatikan juga rasa keadilan masyarakat. Demikian pula dengan menulis puisi, jangan hanya dilihat bentuk formalnya saja, tapi selami dan hayati persoalan-persoalan yang tengah dirasakan rakyat. Dalam koridor seperti itulah saya sangat beruntung menemukan kembali puisi perlawanan dari seorang penyair yang juga wartawan Koran Tempo, Tulus Wijanarko.

Jujur saya katakan, sebelum menulis puisi perlawanan ini, Tulus banyak menulis puisi-puisi yang mengangkat masalah keseharian, yang mengingatkan kita pada Pak Besut dan Umar Kayam; yang kini diteruskan Bakdi Soemanto. Bahkan saya sempat memberi julukan “Penyair Angkringan” kepada Tulus Wijanarko karena puisinya tentang angkringan membangkitkan nostalgia pada Yogyakarta.

Sebagaimana Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfoed M.D. yang mengukir sejarah pada Selasa, 3 November 2009, karena membongkar mafioso peradilan di Indonesia; yang memperdengarkan rekaman seorang cukong bernama Anggodo Widjojo yang dengan begitu entengnya mengatur penanganan hukum terhadap adiknya, Anggoro Widjojo, yang menjadi buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Yang mengejutkan jutaan rakyat Indonesia adalah: yang diatur oleh Anggodo ini adalah pejabat-pejabat tinggi yang ada di Kejaksaan Agung dan Polri. Tidak hanya itu, advokat atau pengacara atau lawyer yang seharusnya “membela yang benar” dan bukannya “membela yang bayar” itu juga diperlakukan seperti kuli. Seperti tukang. Tukang yang dibayar secara borongan. Karena, kata Anggodo dalam rekaman percakapan itu, uang sebesar Rp5 miliar yang dikucurkan itu bukan hanya sebagai lawyer fee, tapi juga untuk pejabat-pejabat di dua lembaga penegak hukum itu.

Tentu saja ini menyakiti hati rakyat banyak. Kepercayaan masyarakat kepada Kejaksaan Agung dan Polri pun melorot tajam.

Tulus pun demikian. Dalam konteks seperti itulah muncul puisi berjudul “Sajak Perlawanan Kaum Cicak” karya Tulus Wijanarko. Puisi ini pun langsung saya muat dalam blog Puisi Indonesia Modern (http://puisiindonesiamodern.blogspot.com) sebagai penghargaan yang saya berikan kepada sang penyair. Berikut ini adalah puisi Tulus yang saya maksud:

Sajak Perlawanan Kaum Cicak

karya Tulus Wijanarko


Kami tahu tanganmu mencengkeram gari
karena kalian adalah bandit sejati

Kami tahu saku kalian tak pernah kering
karena kalian sekumpulan para maling

Kami mafhum kalian memilih menjadi bebal
sebab melulu sadar pangkat kalian hanyalah sekadar begundal

Kami tahu kalian berusaha terlihat kuat menendang-nendang
demikianlah takdir para pecundang

Kami mengerti otak kalian seperti robot
meski demikian kalian sungguh-sungguh gemar berkomplot

Kami sangat terang kenapa kalian begitu menyedihkan
karena kalian memang hanyalah gerombolan budak
yang meringkuk jeri di mantel sendiri

Kami tahu kenapa kalian gemetar ketakutan
dan tanganmu menggapai-gapai sangsi ke udara

karena kalian tahu
Kami tidak takut kepadamu
Kami tidak takut kepadamu
dan akan melawan tak henti-henti

kami tahu
kalian gemetar,
Kami sangat tahu
kalian sungguh gemetar!

28/09

Menurut saya, puisi Tulus di atas memperlihatkan keberanian yang luar biasa yang dimiliki penyair. Puisi perlawanan ini bisa berfungsi ganda. Pertama, puisi tersebut merekam perasaan penyair yang merepresentasikan manusia Indonesia pada umumnya, sekaligus menjadi bagian penting dalam sejarah pemberantasan mafioso peradilan di Indonesia dan mampu merekam semangat zaman. Kedua, puisi ini menjadi bara yang membangkitkan keberanian pada rakyat untuk melawan ketidakadilan. Meskipun para pejabat-pejabat yang keseleo lidah mengatakan dirinya sebagai buaya itu berkelit, bersilat lidah, dan akting di depan kamera televisi, namun sejatinya rakyat sudah tahu bahkan melihat dan mendengar dengan mata dan telinganya sendiri; betapa bobroknya aparat penegak hukum di Indonesia. Betapa menyedihkan!

Ketika saya berkunjung ke facebook Saut Situmorang, saya membaca sebuah puisi perlawanan yang lain. Puisi “Negeri Para Bedebah” itu ditulis oleh Adhie Massardi, mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Puisi itu dikirim oleh Wanda Hamidah ke facebook Saut Situmorang. Tak lama setelah itu, saya juga menyaksikan pembacaan puisi itu oleh Adhie Massardi di Metro TV. Selengkapnya saya kutip puisi itu di sini:

Negeri Para Bedebah

karya Adhie Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan


Puisi Adhie Massardi tersebut sangat simbolik dan menggunakan idiom-idiom keislaman. Dari puisi tersebut, pesan yang ingin disampaikan penyair sangat jelas; baik dilihat dari judul puisi maupun kata-kata yang digunakan sang penyair. Keberpihakan penyair pada wong cilik, kaum tertindas, juga tampak jelas dalam puisi tersebut. Hanya saja, jika dibandingkan dengan puisi Tulus Wijanarko, maka terbaca bahwa puisi Tulus sangat menikam.

Sebenarnya penyair tidak perlu menjelaskan “anak rohani”-nya kepada pembaca. Kalau dijelaskan, maka sama saja kita menjelaskan “proses persetubuhan” yang telah kita lakukan hingga lahirlah karya itu; lahirlah “anak rohani” sebagaimana kata Pramoedya Ananta Toer. Tapi, perlu saya jelaskan di sini: karena puisi Tulus di atas merupakan bagian dari sejarah yang sangat penting bagi bangsa Indonesia, maka ada baiknya penyair pun memberikan semacam kesaksian mengenai proses kreatifnya. Ini bukan untuk gaya-gayaan, melainkan untuk mengetahui bagaimana proses kelahiran sebuah puisi yang saya katakan terbaik untuk bulan Oktober 2009. Bahkan bisa jadi puisi itu merupakan puisi terbaik tahun 2009.

Meskipun demikian, saya pun membuka ruang yang sebebas-bebasnya buat pembaca untuk menafsir dan menginterpretasikan puisi Tulus Wijanarko dan Adhie Massardi.

Citayam, 6 November 2009

LAMPIRAN:

Sajak Perlawanan Kaum Cicak: Sebuah Proses Kreatif

oleh Tulus Wijanarko

Sajak ini muncul karena kemarahan. Saya mendengar berita penahanan dua petinggi KPK (non-aktif) Chandra Hamzah dan Bibit Riyanto dari sebuah running news di sebuah televisi, 20 Oktober, sekitar Maghrib. Saat itu saya masih di kantor dan mendiskusikan rencana berita yang akan turun esoknya denga teman-teman.

Berita itu sangat mengejutkan. Karena, setidaknya saya, sebelumnya tak mendengar isyu-isyu bahwa Chandra dan Bibit akan ditahan. Hal-hal seperti ini, biasanya sudah terdengar selentingannya sejak pagi atau sehari sebelumnya. Kali ini tidak.

Ternyata bukan hanya saya, hampir semua orang terbakar amarahnya atas peristiwa yang menimpa Bibit—Chandra itu. Khalayak menganggap keduanya korban dari kedzaliman dan arogansi kepolisian. Rasa keadilan masyarakat terkoyak.

Kemarahan itulah yang saya rasakan sepanjang malam itu. Hingga dalam perjalanan pulang pun, saya belum bisa meredakan diri. Saya berpikir, kemarahan ini harus disalurkan. Perlawanan harus dilakukan atas kesewenangan ini. Dan saya bermaksud mewujudkannya dalam sebuah puisi.

Maka sambil mengemudikan mobil menuju rumah di Bekasi, pikiran saya rusuh. Saya berusaha mengendapkan kemarahan, seraya terus berpikir menemukan formula penulisan yang pas bagi puisi perlawanan ini.

Saya mencari formula: bagaimana agar dalam puisi ini muncul nuansa kemarahan dan perlawanan yang kental, tetapi tidak membabi buta. Tetap ada sentuhan estetika. Karena kalau membabi-buta, apa bedanya dengan makian-makian kasar?

Meski demikian, saya tak ingin terpenjara begitu keras pada estetika--jika karena hal itu menyebabkan puisi saya nanti kehilangan substansi perlawanannya!

Terus terang, pada saat memikirkan itu, saya lalu teringat sajak-sajak (perlawanan) Wiji Thukul. Kebanyakan sajaknya dibangun dengan pilihan kata-kata yang lugas dan tegas. Pola pengkalimatannya juga sederhana dan langsung ke pokok sasaran.

Tetapi sajak-sajak Thukul tidak jatuh menjadi sarkas, karena –menurut saya— dia memperhatikan struktur. Beberapa sajaknya memilih struktur repetitif, yang akhirnya menimbulkan dua “dampak”: secara sastra ia menjadi indah, dan secara substansi pesan yang disampaikan akan semakin menonjok.

Saat itulah saya memutuskan sajak ini akan ditulis dengan cara demikian. Lalu saya mulai memikirkan substansi isinya yang berangkat dari kasus penahanan itu. Kesimpulan saya satu: penahanan Bibit-Chandra adalah pertunjukan telanjang dari tunduknya aparat penegak keamanan oleh mafia peradilan. Nah, fenomena inilah yang akan saya tulis.

Lalu saya masuk tahap berikutnya, yakni mulai memikir-mikirkan kosa kata yang akan saya gunakan. Juga fomulasi pengkalimatannya. Semua proses ini berlangsung selama perjalanan dari kantor menuju rumah. Waktu tempuh perjalanan itu kira-kira sekitar 1,5 jam.

Begitu sampai di rumah, saya langsung membuka komputer dan mulai menulis. Saya tak perlu waktu penjang lagi, karena pengkalimatannya sudah saya temukan sepanjang perjalanan tadi. Tetapi, toh, proses penulisan ini berlangsung sampai lewat tengah malam. Sebab saya bertekad harus menuntaskan sajak ini malam itu juga. Karena kalau ditunda, saya takut kehilangan –kata anak zaman sekarang—kehilangan feel. Saya takut kehilangan touch.

Akhirnya, jadilah puisi ini.

Citayam, 6 November 2009

Rabu, 04 November 2009

Badai Puisi dari Belanda: Kiriman Heri Latief




oleh Asep Sambodja

Penyair Heri Latief membuka mata semua orang tentang kenyataan yang terjadi di Indonesia. Setahun sebelum kasus mafioso peradilan terungkap di Mahkamah Konstitusi pada Selasa, 3 November 2009, Hari Latief (2008) sudah bersuara lantang melalui puisi-puisinya yang terhimpun dalam buku 50% Merdeka. Kenyataan yang begitu telanjang tentang bobroknya aparat hukum di negeri Indonesia ini pun telah lama diteriakkan penyair Indonesia yang tinggal di Amsterdam, Belanda, ini. Dengan bahasanya yang lugas, bahkan seringkali mendobrak kaidah bahasa Indonesia untuk mendapatkan ketajaman visinya, Heri Latief tak henti-hentinya bersuara melalui puisinya yang tajam dan menikam. Salah satunya, puisi “50% Merdeka” memperlihatkan kesaksiannya yang terkesan tanpa tedeng aling-aling.

50% Merdeka

kartu sudah dibagikan
siapa yang punya kartu truf?

pada emosi yang buta huruf
media cetak corongnya cendana
semua berita dijokul obralan
jurnalistik tanpa rasa kemanusiaan
kekejaman disulap jadi rayuan

ada hujan milyaran uang haram?
pengkhianat bangsa jelas kelihatan
yang jual diri jual nama jual iman

ironi memori bangsa Indonesia
manipulasi sejarah terbukti sudah
apalagi yang kau mau tahu?

istana punya kuasa
cendana punya dana
elite politik lagi main kartu
bosnya punya nama dipoles
propaganda sesat para penjilat

sedangkan di bawah banyak urusan penting
korban bencana alam menggigil kedinginan
rakyat perlu kepastian hukum dan keadilan
bukan pameran dukungan terhadap bekas tiran

ayo! mari kita bersama
bersatu mengganyang keraguan
kita belum merdeka 100% bung!

sirajatega masih berkuasa
maka derita itu dobel bencana

juga semangat persatuan Indonesia
jangan mau dirayu bujukan uang haram

Amsterdam, 16 Januari 2008


Mata penyair Heri Latief seakan-akan menembus jauh ke depan. Kalau kita baca berita yang terjadi pada bulan Oktober-November 2009, maka tidak perlu disangkal lagi bahwa yang dikatakan Heri Latief itu benar adanya. Semuanya benar-benar telanjang. Mata batinnya sudah jauh-jauh hari mengingatkan kepada pembaca bahwa “pengkhianat bangsa jelas kelihatan, yang jual diri jual nama jual iman.”

Sebenarnya banyak yang tahu adanya kebusukan-kebusukan itu, terutama kebusukan di bidang hukum—yang menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup di dunia—hanya saja yang berani bersuara lantang hanya segelintir saja, termasuk Heri Latief. Dalam puisinya yang lain, “Sepuluh Tahun Reformasibasi”, Heri Latief lagi-lagi menampar muka pembacanya. Refleksi yang disuguhkan Heri sangat berbeda dengan yang terbaca di media massa selama ini. Bahkan menampar muka penyair-penyair salon yang hanya memberikan pepesan kosong. Berikut petikannya:

Sepuluh Tahun Reformasibasi

penyair nulis sihir kata bersayap
semangat puisi mengabdi pada siapa?
jika sajak memuja sang rembulan
hayalan pun dibikin berkilauan

di zaman edan orang jual perasaan
uang haram biangnya persoalan
jangan lupakan bung!

rajamaling itu masih berkuasa
penguasa berpihak pada siapa?

dalam sejarah politik kekerasan
dari tragedi 65 sampai 98
reformasi setengah hati aslinya basi

kini tersisa buruknya kenangan
terlalu banyak darah rakyat dikorbankan

si miskin hidupnya makin menderita
ditimpa bencana alam bertubi-tubi
malah diprovokasi kekayaan hasil nyuri
lengkaplah sudah perasaan orang bawahan

realitas di bawah semakin mengganas
antrian minyak tanah peringatan keras
syair bagimu negeri cuma memori
rindulah kita persatuan Indonesia

jagalah api semangat!
anti penindasan terhadap rakyat

Amsterdam, 7 Januari 2008

Penyair-penyair salon memang tidak akan menulis puisi seperti ini. Seperti yang disindir Heri, mereka bisa menulis puisi apa saja, termasuk “jika sajak memuja sang rembulan, hayalan pun dibikin berkilauan”. Namun, sejatinya barang seni bernama puisi semacam itu hanya untuk klangenan dan hiburan semata. Saya menduga kenapa puisi-puisi tajam dan lantang itu mengalir deras dari tangan Heri Latief, karena kawan-kawan diskusinya di Belanda adalah sastrawan-sastrawan eksil yang memiliki pengalaman yang sangat mahal harganya. Dan, kebanyakan sastrawan-sastrawan Lekra adalah kaum intelektual yang mumpuni, yang sangat paham dengan persoalan bangsanya. Kita ambil contoh sastrawan Njoto alias Iramani dan Setiawan H.S. alias Hersri Setiawan untuk menyebut beberapa nama saja.

Membaca puisi-puisi Heri Latief ini saya seperti menikmati lukisan-lukisan Joko Pekik yang menyimpan dendam politik yang demikian membara. Lukisan “Berburu Celeng” karya Joko Pekik kini menjadi salah satu lukisan favorit banyak orang. Kalau kita merasakan adanya napas “Politik adalah panglima” dalam puisi-puisi Heri Latief, saya pikir itu karena lingkungan, wawasan, dan pengalaman yang membentuknya seperti itu. Puisi yang berjudul “42 Tahun G30S” menyarankan kepada pembaca bahwa masih ada yang belum beres mengenai sejarah nasional 1965-1966 itu.

Sejarawan Henk Schulte Nordholt (2008) merasa heran dengan historiografi Indonesia modern yang sepertinya tanpa ada kekerasan dalam buku-buku sejarah resmi yang dibuat oleh negara, namun sejatinya banyak korban yang berjatuhan seiring dengan bangkitnya Rezim Soeharto. Makanya tidak heran jika Nordholt menyarankan perlunya historiografi dengan perspektif yang baru, yakni melihat dan membaca sejarah dari perspektif korban. Suatu pendekatan yang tengah berkembang di Eropa akhir-akhir ini, sebagai alternatif pendekatan Les Annales yang berkembang pesat di Prancis. Berikut saya kutip puisi Heri Latief tersebut.

42 Tahun G30S

waktu melaju ke masa depan
sejarah bicara terpatah-patah
hati berduri menyayat memori
42 tahun usia negeri tragedi
luka sejarah kita bernanah

sejarah kita adalah penindasan
sekalipun dalam ruang mimpi
bermuara pada satu nama
: G30S

adalah kode buat jutaan korban
yang ditindas sampai hari ini
harga nyawa orang Indonesia
murah meriah seperti obral besar!

ratusan ribu tulang belulang tersebar
sampai kapan kau menahan sabar?
perubahan iklim politiknya barbar
lalu semua orang musti telan pil sabar

supaya otaknya jangan jadi sangar?

jangan lupakan tragedi 65
jangan lupakan kebiadaban
dan jangan lupa melawan
atas nama semua korban
kita bersatu dalam satu barisan

seperti kata wiji thukul
hanya satu kata
: LAWAN!

Amsterdam, 24 September 2007

Saya pikir yang disuarakan Heri Latief di atas merupakan representasi dari ribuan bahkan jutaan manusia yang telah dizalimi selama Orde Baru. Tidak heran Pramoedya Ananta Toer tidak bisa percaya pada seluruh elite politik dan kaum intelektual yang mendirikan Rezim Orde Baru karena selama ini mereka hanya diam. “Mereka membiarkan fasisme terjadi di zaman Orde Baru,” kata Pramoedya Ananta Toer.

Citayam, 4 November 2009

Selasa, 03 November 2009

Fakta dalam Cerpen Martin Aleida




oleh Asep Sambodja

“Saya pikir, ternyata saya tidak lebih berharga dari sebutir debu.” Kutipan ini terdapat dalam cerpen “Ratusan Mata di Mana-mana” yang terdapat dalam buku Mati Baik-baik, Kawan karya Martin Aleida (2009).
Apa yang ditulis Martin Aleida dalam cerpen tersebut memang seperti sebuah memoar seorang sastrawan Lekra pada masa 1971-1984, masa-masa pembungkaman sastrawan Lekra dan mulai berdirinya majalah Tempo. Di majalah berita mingguan itulah Martin Aleida bekerja sekaligus mencari nafkah sebagai wartawan olahraga dan kesehatan. Padahal di majalah itu banyak sekali sastrawan-sastrawan Manikebu, seperti Goenawan Mohamad, Bur Rasuanto, A. Bastari Asnin, Usamah, dan lain-lain.
Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan seorang sastrawan Lekra masuk ke sarang sastrawan Manikebu. Tentu timbul perasaan “tidak lebih berharga dari sebutir debu”, yang sewaktu-waktu bisa dikibaskan dengan kemoceng. Tapi, itulah cara bagi sastrawan Lekra dan anggota PKI lainnya untuk bertahan hidup, karena hampir semua pintu untuk mencari nafkah sudah ditutup Rezim Orde Baru. Bisa jadi pula sebenarnya di antara sesama sastrawan atau seniman masih memungkinkan terjalinnya tali silaturahmi meskipun ada perbedaan ideologi di antara mereka.
Cukup banyak fakta yang diangkat Martin Aleida dalam cerpen itu, dan ternyata sangat mengejutkan. Di antaranya adalah kedekatan Salim Said dengan Sarwo Edhie Wibowo. Kedekatan itu digambarkan Martin dengan kedatangan Sarwo Edhie ke tempat kos Salim Said. Siapa yang tidak kenal Sarwo Edhie Wibowo? Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) ini di mata sebagian orang dielu-elukan karena telah membunuh ratusan ribu orang PKI. Tapi, di mata orang-orang PKI, termasuk di mata sastrawan Lekra seperti Martin Aleida, tangan Sarwo Edhie Wibowo yang juga mertua Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono itu berlumuran darah. Bagaimana kaitan sesungguhnya antara Sarwo Edhie Wibowo dengan wartawan Tempo Salim Said, yang kini jadi pengamat militer, tak terjelaskan dalam cerpen itu.
Tapi, peristiwa itu menyadarkan Martin Aleida, bahwa ternyata ada “mata di mana-mana”, termasuk rekan kerjanya di majalah Tempo. Sebagai sastrawan Lekra yang berafiliasi dengan PKI, tentu saja Martin bersyukur karena Salim Said tidak memperkenalkan jati diri Martin kepada Sarwo Edhie. Di mata Martin, Sarwo Edhie Wibowo adalah “legendaries hidup yang mengaku telah menghabisi tiga juta orang komunis dalam gerakan penumpasan yang dipimpinnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali” (Aleida, 2009: 124).
Yang menyakitkan adalah ketika mengetahui bahwa teman seperjuangan kita ternyata adalah seorang pendurhaka. Dalam cerpen tersebut, Martin Aleida menyebut nama Sartono—saya menduga ini nama sebenarnya, karena nama-nama tokoh yang ada dalam cerpen semi memoar ini adalah nama-nama yang sebenarnya—yang dulu di zaman Orde Lama menjadi aktivis Lekra, begitu hidup di zaman Orde Baru menjadi interogator di Markas Komando Daerah Militer Jayakarta (Kodam Jaya). Dan, yang diinterogasi adalah kawannya sendiri. “Nasib telah menjelma menjadi sungai yang besar dan deras, yang memisahkan jalan hidup kita berdua! Aku di sini. Kau di situ, dan cuma sebagai seorang pendurhaka!” (Aleida, 2009: 120).
Banyak nama yang disebut atau terlibat dalam cerpen ini. Di antaranya Fikri Jufri, Eka Budianta, Ed Zoelverdi, Syu’bah Asa, Putu Wijaya, dan Usamah. Dari cerpen itu pula kita tahu bahwa yang menemukan slogan “Enak Dibaca dan Perlu” adalah Usamah. Pembaca juga tahu bagaimana intrik-intrik juga terjadi di dalam sebuah majalah berita, apalagi majalah berita yang sarat memuat berita politik.
Sebagaimana cerpen-cerpennya dalam Leontin Dewangga, cerpen-cerpen yang terdapat dalam Mati Baik-baik, Kawan juga merupakan sebuah kesaksian. Ciri khas sebagai sastrawan Lekra juga tampak dalam karya Martin Aleida ini, yakni menceritakan apa yang benar-benar terjadi dalam masyarakatnya, dengan menggunakan teknik penceritaan yang memperhatikan betul nilai artistiknya. Sehingga, karya sastra yang tercipta, dalam hal ini cerpen-cerpen Martin Aleida, adalah karya yang benar-benar berisi, bukan karya yang kosong.
Saya teringat pada tulisan Arif Bagus Prasetyo dalam buku 60 Puisi Indonesia Terbaik 2009 yang diterbitkan Pena Kencana. Ia bermimpi suatu saat kelak akan membaca karya-karya semacam “Sair Kedatangan Sri Maharadja Siam di Betawi” yang ditulis berdasarkan peristiwa “jang soenggoeh-soenggoeh terdjadi”. Dengan demikian, pembaca karya sastra akan mendapatkan wawasan setelah membaca karya sastra tersebut.
Apa yang dilakukan Martin Aleida sudah lebih dari itu. Dia tidak saja bercerita tentang sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, tapi dia juga memberikan perspektif yang relatif baru, yakni dari sudut pandang sang korban politik Orde Baru. Yang membuat cerpen-cerpen Martin Aleida lebih menarik adalah dia sendiri juga menjadi korban. Jadi, dia tidak perlu lagi berpura-pura untuk menyuarakan kepedihan orang lain, melainkan ia tinggal menuturkan cerita secara jujur saja, secara apa adanya. Maka yang terbaca adalah keindahan.
Saya juga memimpikan hal yang sama dengan Arif B. Prasetyo, bahwa sejatinya sastrawan juga tidak membutakan matanya dengan apa yang terjadi di lingkungannya. Dalam hal ini, saya menilai konsep kesenian yang digagas dan dibuat sastrawan-sastrawan Lekra dalam Mukaddimah Lekra (28 Januari 1959) merupakan sesuatu yang menarik. Untuk menyebut beberapa di antaranya, saya kutip sebagai berikut. Pertama, rakyat adalah satu-satunya pencipta kebudayaan. Kedua, keragaman bangsa kita ini menyediakan kemungkinan yang tiada terbatas untuk penciptaan yang sekaya-kayanya serta seindah-indahnya. Ketiga, Lekra mendorong inisiatif yang keratif, mendorong keberanian kreatif, dan menyetujui setiap aliran bentuk dan gaya, selama ia setia pada kebenaran, keadilan dan kemajuan, dan selama ia mengusahakan keindahan artistik yang setinggi-tingginya.

Citayam, 4 November 2009

Senin, 02 November 2009

"Otobiografi" dan "Politik Sastra" Saut Situmorang


PDS HB Jassin, diskusi dua buku Saut Situmorang.


Diskusi Mejabudaya, 30 Oktober 2009.


Annida-Online--Dua buku karya Saut Situmorang (43) meluncur bersamaan. Di Meja Budaya Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Jumat (30/10), antologi puisi Otobiografi serta kumpulan essai Politik Sastra diluncurkan. Digelar pula diskusi mengenai dua karya tersebut dengan pembicara Asep Sambodja dan Mikael Johani, serta moderator Martin Aleida.
"Otobiografi" merupakan kumpulan puisi-puisi Saut yang ditulis dalam rentang waktu 20 tahun. Sementara "Politik Sastra" merupakan essai-essai Saut sejak tahun 2000 yang berisi ketimpangan-ketimpangan sastra kita menurut Saut.

Dosen sastra UI Asep Sambodja mengatakan, karya-karya Saut dalam Otobiografi sangat kental akan muatan politis. Menurut Asep, Saut menggunakan paham realisme sosialis.
"Ia membaca masyarakat, lalu dituangkan dalam puisi. Terlihat jelas ia membela orang-orang yang tertindas. Contohnya dalam kasus Aceh, ia membela korban Daerah Operasi Militer atau DOM. Lalu dalam kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, Saut mengecam tindakan penguasa. Bahasanya lugas, mudah dipahami," beber Asep, usai acara.

"Tapi ada juga digunakan kata-kata kotor, saya rasa ini karena Saut hendak merusak dan mendobrak estetikanya Sapardi (Sapardi Djoko Damono, red)," imbuh Asep.

Mengenai kumpulan essainya, Mikael Johani yang aktif di Komunitas Bunga Matahari (milis sastra) mengatakan, Saut telah membongkar banyak kebohongan sastra termasuk di dalamnya bagaimana propaganda-propaganda sebuah komunitas seni budaya, proses penjurian, seleksi karya di media dan lainnya.

"Kalau saja Saut tidak mengungkapkannya, akan banyak orang yang tidak tahu bahwa ternyata penilaian karya sastra itu sangat subjektif. Oh, ternyata redaktur sastra di media-media itu orang dari komunitas yang sama. Belum lama saya juga temukan buku puisi yang isinya bagus banget, dan karya penulis itu belum pernah dimuat di media yang relatif berpengaruh," ujar Mikael, peraih Bachelor of Arts (First-Class Honours in Classics) dari Australian National University, Canberra.

Saut sendiri bilang, dalam essainya ia mengungkap kalau kritik-kritik sastra yang ada hanya merugikan. Kritikus mestinya mengkritik karya sesuai prosedur. Menurutnya, kritikus sekarang ini masih sebatas komentator belaka. [Esthi/foto: Arum]

Catatan: Berita ini bisa juga diakses melalui: http://www.annida-online.com/berita-penulis/otobiografi-dan-politik-sastra-saut-situmorang.html

Citayam, 3 November 2009