Jumat, 25 September 2009

Kesaksian Rendra di Tahun 1967




oleh Asep Sambodja

Kesaksian Tahun 1967

Dunia yang akan kita bina adalah dunia baja
kaca dan tambang-tambang yang menderu
Bumi bakal tidak lagi perawan
tergarap dan terbuka
sebagai lonte yang merdeka
Mimpi yang kita kejar, mimpi platina berkilatan
Dunia yang kita injak, dunia kemelaratan
Keadaan yang menyekap kita, rahang serigala yang menganga

Nasib kita melayang seperti awan
Menantang dan menertawakan kita
menjadi kabut dalam tidur malam
menjadi surya dalam kerja siangnya
Kita akan mati dalam teka-teki nasib ini
dengan tangan-tangan yang angkuh dan terkepal
Tangan-tangan yang memberontak dan bekerja
Tangan-tangan yang mengoyak sampul keramat
dan membuka lipatan surat suci
yang tulisannya ruwet tak bisa dibaca


Apa yang hendak dikatakan Rendra dengan puisi “Kesaksian Tahun 1967”? Jawabannya sangat sederhana. Rendra ingin memberikan kesaksian mengenai kondisi Indonesia pada 1967. Dikatakan “kondisi Indonesia” karena sebuah karya seni, termasuk karya sastra senantiasa terkait dengan ruang dan waktu. Soal waktu sudah disebutkan secara eksplisit oleh penyair melalui judul puisi ini, lalu bagaimana dengan ruang?
Sapardi Djoko Damono pernah mengatakan bahwa karya sastra tidak begitu saja jatuh dari langit. Ada yang menciptakannya. Dalam hal ini, Rendra sebagai penyair dan dramawan besar Indonesia membaca kehidupan sosial politik di negerinya dan memberikan kesaksian melalui puisi tersebut.
Saya menilai kegelisahan eksistensial Rendra sangat menonjol dalam puisi itu, meskipun yang dibicarakan adalah persoalan kehidupan masyarakatnya. Persoalan-persoalan kehidupan itu diserap dan dihayatinya kemudian diekspresikan melalui “Kesaksian Tahun 1967” setelah mengalami proses pengendapan. Kata-kata yang digunakan Rendra sangat khas; idiom yang digunakannya juga terbaca dalam puisi-puisinya yang lain.

Bumi bakal tidak lagi perawan
tergarap dan terbuka
sebagai lonte yang merdeka

Inilah yang menarik: Persoalan di masyarakat yang dibaca oleh para penyair bisa sama, namun puisi yang tercipta bisa berbeda. Artinya, masing-masing penyair memiliki cara penghayatan yang berbeda-beda pula; baik penghayatan terhadap kehidupan maupun penghayatan pada setiap kata sebagai piranti puisi. Sebagai contoh, sebagian penyair Lekra yang saya baca cenderung menghadirkan kenyataan secara telanjang dalam puisi, sementara Rendra, misalnya, kenyataan itu telah mengalami pengolahan dalam dirinya, sehingga yang hadir dalam puisi adalah kenyataan dalam wujudnya yang lain, yang telah mengalami internalisasi dalam diri penyair.
Tahun 1967 di Indonesia adalah masa bulan madu rezim Orde Baru dengan kekuasaan. Soekarno telah menjadi bagian dari sejarah dan PKI sedang gencar-gencarnya digencet presiden baru. Situasi sosial politik yang digambarkan Rendra bisa terbaca dalam baris-baris simbolik seperti ini:

Dunia yang kita injak, dunia kemelaratan
Keadaan yang menyekap kita, rahang serigala yang menganga

Bait kedua puisi “Kesaksian Tahun 1967” sarat dengan pergulatan hidup seorang Rendra yang penuh vitalitas. Ia bicara tentang nasib; sesuatu yang tak bisa lepas dari campur tangan Tuhan. Nasib sama seperti kehidupan itu sendiri. Sama-sama tidak ada kepastian. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi satu detik ke depan? Begitu juga dengan nasib, meskipun ada firman Tuhan yang mengatakan bahwa “Allah tidak mengubah nasib seseorang kecuali mereka mengubah keadaan.” Artinya, Tuhanlah yang memegang nasib kita. Sampai-sampai Rendra menulis, “Kita akan mati dalam teka-teki nasib ini.” Hanya kematianlah yang pasti dalam kehidupan manusia. Selebihnya hanya teka-teki.
Karena ketidakpastian seperti itulah setiap insan membutuhkan pegangan atau pedoman. Hanya saja, pada saat itu, saat puisi itu ditulis, Rendra merasakan tak ada pedoman yang bisa menyejukkan hatinya, atau meluluhkan jiwa pemberontakannya. Kalaupun ada, maka pedoman atau “surat suci” itu “tulisannya ruwet tak bisa dibaca”.

Citayam, 26 September 2009

Goenawan Mohamad dan Manikebu



oleh Asep Sambodja

Dalam esai panjangnya, “Afair Manikebu, 1963-1964” yang terdapat dalam buku Eksotopi: Tentang Kekuasaan, Tubuh, dan Identitas (2002), Goenawan Mohamad seolah-olah baru menyadari bahwa proses kelahiran Manifes Kebudayaan (Manikebu) tidak steril dari campur tangan militer. Ia menulis, “Dalam sebuah tulisan di tahun 1982, Wiratmo Soekito menyatakan bahwa ia bekerja secara sukarela pada dinas rahasia angkatan bersenjata” (hlm. 144). Menyadari hal itu, Goenawan Mohamad memberikan sebuah permakluman dengan mengatakan, “Mungkin suatu kecenderungan yang normal untuk beraliansi di antara mereka yang dimusuhi atau memusuhi PKI” (hlm. 144).
Pengakuan Wiratmo Soekito itu sekaligus membuktikan bahwa ada skenario militer untuk menghadapi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra)—yang berafiliasi dengan PKI—yang mendominasi wacana di bidang kebudayaan. Saya tidak tahu apakah militer saat itu sangat patuh pada pendapat Bung Karno yang mengatakan, “Angkatan perang tidak boleh main politik”, sehingga mereka tidak terjun langsung untuk berpolitik di bidang kebudayaan, melainkan menggunakan kaki tangannya seperti Wiratmo Soekito—yang saat itu sangat dikagumi oleh intelektual muda seperti Goenawan Mohamad—atau karena ada alasan yang lain.
Kita tahu bahwa satu-satunya kekuatan yang bisa menghentikan langkah PKI saat itu adalah angkatan bersenjata, terutama Angkatan Darat, yang menolak gagasan Ketua CC PKI D.N. Aidit untuk mempersenjatai petani dan buruh sebagai angkatan kelima. Di bidang kebudayaan, karena Pramoedya Ananta Toer sering menggunakan istilah pengganyangan dan pembabatan, yang membikin takut sastrawan-sastrawan Manikebu sebagaimana diakui Goenawan Mohamad, membuat Lekra sebagai kendaraan PKI di bidang kebudayaan yang berfungsi memuluskan langkah PKI menuju kekuasaan. Karena itulah pihak militer—melalui Wiratmo Soekito—membuat suatu gerakan dengan memanfaatkan mahasiswa dan pekerja media; dalam hal ini Goenawan Mohamad, Arief Budiman, Taufiq Ismail, dan H.B. Jassin serta D.S. Moeljanto. Ternyata gerakan yang bermula dari selembar kertas yang berisi pernyataan Manifes Kebudayaan ini cukup efektif untuk menguras energi sastrawan-sastrawan Lekra dan sastrawan-sastrawan prokomunis.
Ketika sastrawan Manikebu menyelenggarakan Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia (KKPI) pada Februari 1964, Angkatan Bersenjata mengklaim bahwa pihaknya berada di belakang KKPI. Goenawan Mohamad menilai konferensi itu merupakan suatu kegagalan, karena tidak ada satu sesi pun untuk membicarakan Manikebu. Selain itu, wartawan tidak berani meliput acara itu karena penyelenggaraan KKPI dikecam oleh Lekra dan PKI.
Tiga bulan kemudian, Manikebu dilarang oleh Presiden Soekarno, dan para penandatangan Manikebu menjadi gugup. H.B. Jassin, Wiratmo Soekito, dan Trisno Sumardjo langsung mengirim surat permintaan maaf kepada presiden, antara lain, untuk melindungi sastrawan-sastrawan Manikebu dari pengganyangan yang lebih masif.
Yang menarik, Goenawan Mohamad mengakui bahwa “Kini memang harus diakui bahwa pengganyangan seperti itu belum sebanding dengan yang ditanggungkan para penulis dan cendekiawan prokomunis setelah hancurnya PKI secara keras dan berdarah beberapa waktu setelah 1965” (hlm. 108). Hanya saja, sayangnya, Goenawan tidak mengelaborasi pernyataannya itu. Setelah tahu bahwa yang dialami penulis dan cendekiawan prokomunis mengalami pengganyangan secara keras dan berdarah, apa pendapat Goenawan Mohamad? Apa yang dilakukannya? Hal ini tidak terjelaskan dalam sebuah tulisan panjang yang memang memfokuskan bicara soal Manikebu dari tahun 1963-1964. Tahun 1965-1966 memang tidak dibicarakan dalam tulisan itu, meskipun dia tahu bahwa justru pada tahun 1965-1966 itulah banyak darah yang tumpah. Bagaimana Goenawan Mohamad sebagai seorang sastrawan tidak tertarik menjelaskan hal itu?
Memang agak sulit untuk menghadirkan luka sastrawan-sastrawan Lekra dalam artikel yang ditulis pada Maret-April 1988 itu. Saat itu Presiden Soeharto yang menyerukan pembasmian PKI “sampai ke akar-akarnya” masih berkuasa. Wajar saja kalau Goenawan Mohamad tidak berani menulis kenyataan 1965-1966. Tidak hanya Goenawan saja yang takut, hampir semua intelektual di negeri ini takut pada Soeharto—hingga ia lengser keprabon madeg pandito.
Jadi, saya meragukan premis Goenawan Mohamad yang mengatakan Manikebu “merupakan serangkaian pokok pikiran, suatu pendefinisian sikap dasar beberapa sastrawan dan intelektual Indonesia dalam menghadapi masalah yang akut waktu itu: kreativitas dan politik” (hlm. 107). Keraguan saya berdasarkan pengakuan Wiratmo Soekito—yang menulis konsep Manikebu—bahwa ia bekerja pada dinas intelijen angkatan bersenjata secara sukarela. Dengan demikian, upaya pendefinisian masalah kreativitas dan politik itu tidak murni dari sastrawan dan intelektual Indonesia. Ada udang di balik kerikil.

Citayam, 24 September 2009

Kamis, 24 September 2009

Catatan Tahun 1965 Taufiq Ismail


oleh Asep Sambodja

Kita tahu bahwa Taufiq Ismail adalah salah satu penandatangan Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang paling getol menyerang balik sastrawan-sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Sikapnya yang antikomunis menempatkannya berada pada polar yang berhadap-hadapan dan saling bertolak belakang dengan sastrawan-sastrawan Lekra. Karena itu, tulisan-tulisan Taufiq Ismail yang menyoroti peristiwa seputar 1965 murni dari perspektif seorang Manikebuis sejati.
Dalam beberapa kesempatan, baik melalui tulisan maupun ceramah-ceramahnya—antara lain di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dan Teater Utan Kayu—ia selalu mengatakan sangat mengagumi Buya Hamka. Kekagumannya pada Buya Hamka itu dikarenakan Buya Hamka bisa memaafkan Pramoedya Ananta Toer dan orang-orang yang pernah menuduhnya sebagai seorang plagiator. Tapi, apakah Taufiq Ismail bisa memaafkan sastrawan-sastrawan Lekra yang pernah “mengganyangnya”?
Kalau kita membaca tulisan-tulisan Taufiq Ismail seperti dalam Prahara Budaya dan tindakannya yang mengeluarkan petisi penolakan hadiah Magsaysay untuk Pramoedya Ananta Toer pada 1995, tampaknya Taufiq Ismail belum ikhlas memaafkan sastrawan-sastrawan Lekra. Bahkan dalam Prahara Budaya itu tampak jelas upaya Taufiq Ismail untuk lebih memerosokkan sastrawan-sastrawan Lekra yang nasibnya sampai sekarang ini seperti berada dalam comberan.
Dengan menggunakan perspektif kekinian, kita sekarang bisa membaca bahwa baik kelompok Lekra maupun kelompok Manikebu sama-sama merasa menyuarakan kebenaran. Dari kasus ini kita bisa menduga bahwa ternyata kebenaran itu relatif. Kalau dikatakan seseorang menyuarakan kebenaran, maka yang menjadi pertanyaan adalah kebenaran menurut siapa?
Sastrawan dan seniman Lekra berprinsip bahwa pada saat itu revolusi di Indonesia belum selesai, karena itu para sastrawan dituntut untuk menghasilkan karya sastra yang bisa memberi semangat pada rakyat Indonesia. Bukan karya sastra yang sentimental, cengeng, dan individualistis. Semua karya sastra yang diproduksi harus tunduk pada pendirian politik adalah panglima.
Sementara sastrawan Manikebu melihatnya dari sisi lain, yakni kebebasan berekspresi. Dalam menghasilkan karya sastra, seorang sastrawan bebas mengekspresikan apa saja dan boleh menulis tentang apa saja, bahkan boleh mengekspresikan kegelisahan eksistensial pengarang itu sendiri. Sastrawan bebas menulis puisi cinta, patah hati, atau apapun.
Dari sini kelihatan bahwa sastrawan Lekra menghasilkan karya sastra yang bertendens; ada maksud yang jelas dalam karya sastranya. Sementara karya sastra yang diciptakan sastrawan Manikebu cenderung tidak bertendens. Tapi, kalau membaca puisi-puisi Taufiq Ismail dalam Tirani dan Benteng, jelas sekali bahwa karyanya itu juga bertendens. Salah satunya adalah puisi berjudul “Catatan Tahun 1965”. Berikut saya kutip seutuhnya.

Catatan Tahun 1965

Di lapangan dibakari buku
Mesin tikmu dibelenggu
Piringan hitam dipanggang
Buku-buku dilarang
Kita semua diperanjingkan
Gaya rabies klongsongan
Hamka diludahi Pram
Masuk penjara Sukabumi
Jassin dicaci diserapahi
Terbenam daftar hitam
Usmar dimaki Lentera
Takdir disumpahi Lekra
Sudjono dicangkul BTI
Nasakom bersatu apa
Umat dibunuhi di desa
Kanigoro bagaimana lupa
Kus Bersaudara dipenjara
Mochtar masih diterungku
Osram bungkuk meringkuk
Jalan aspal kubangan
Minyak tanah dikemanakan
Rebutan beras antrian
Siapa mati kelaparan
Inflasi saban pagi
Pidato tiap hari
Maki-maki sebagai gizi
Bahasa carut diperluaskan
Beatles gondrong dipersetankan
Pita suara dimatirasakan
Susunan syaraf dianastesi
Genjer-genjer jadi nyanyi
Tari perang dipamerkan
Warna merah dikibarkan
Warna hitam dikalbukan
Pawai garang digenderangkan
Kolone kelima disusupkan
Sarung siapa dilekatkan
Matine Gusti Allah dipentaskan

(Pawai HUT PKI, 23 Mei 1965)


Puisi “Catatan Tahun 1965” merupakan puisi deskriptif yang melukiskan suasana di tahun 1965. Tapi, sekali lagi, pelukisan suasana itu dilihat dari perspektif seorang Manikebu—yang saat itu beroposisi dengan sastrawan Lekra yang dekat dengan kekuasaan. Apa yang hendak dikatakan Taufiq Ismail melalui puisi itu tergambar sangat jelas melalui tulisan Taufiq Ismail berjudul “Sehabis Jam Malam di Stasiun Gambir” yang menjadi pengantar buku Tirani dan Benteng.
Kalau kita membaca puisi “Catatan Tahun 1965” dari perspektif sastrawan Lekra, misalnya, tidak ada soal “Genjer-genjer” jadi nyanyian—yang saat itu dipopulerkan oleh Bing Slamet dan Lilis Suryani. Tidak soal pula warna merah dikibarkan. Demikian pula tidak masalah mementaskan drama Matine Gusti Allah, sama tidak masalahnya mementaskan Masyitoh atau Bung Besar.
Kalau kita lihat dari perspektif yang lain lagi, memang penahanan terhadap Mochtar Lubis yang membongkar kasus korupsi Ruslan Abdul Gani dan penahanan Hamka yang dituduh merencanakan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno merupakan ketidakadilan yang nyata. Demikian pula pelarangan buku, pelarangan musik “ngak ngik ngok” merupakan pembelengguan kebebasan berekspresi.
Dalam pengantar buku Tirani dan Benteng, Taufiq Ismail menulis, “Ofensif di bidang seni budaya tampak pada pembakaran buku dan piringan hitam Beatles serta lagu populer Indonesia yang diejek sebagai lagu ngak ngik ngok di lapangan Ikada/Monas dan di kampus Universitas Indonesia oleh Lekra, Pemuda Rakyat, dan CGMI/PKI” (hlm. Xi).
Benarkah Lekra ikut membakar buku? Dalam buku Lekra Tak Membakar Buku hal itu sama sekali tidak terbukti. Pembakaran buku-buku USIS itu dilakukan oleh Pemuda Rakyat sebagai protes terhadap Amerika Serikat setelah terbunuhnya Perdana Menteri Konggo, Patrice Emery Lumumba. Sastrawan Lekra mengaku tidak melakukan pembakaran buku. “Buat apa saya membakar buku mereka. Lebih baik buku itu saya bawa pulang dan saya koleksi di rumah,” kata Pramoedya Ananta Toer.
Puisi yang menjadi ciri khas sastrawan Manikebu adalah puisi yang jauh dari slogan politik adalah panglima. Salah satu puisi Taufiq Ismail yang ditulis pada 1964 mencerminkan perasaan penyair yang sepi saat itu. Puisi “Oda pada van Gogh” memperlihatkan suasana hati itu:

Oda pada van Gogh

Pohon sipres. Kafe tua
Di ujung jalan
Sepi. Sepi jua

Langit berombak
Bulan di sana
Sepi. Sepi namanya

1964


Citayam, 24 September 2009

Rabu, 23 September 2009

Situasi 1964 di Mata Hartojo Andangdjaja



oleh Asep Sambodja

1964

Di manakah akan kuselamatkan kini
suaraku yang lembut bernama puisi
ketika, seperti Brecht pernah berkata:
bicara tentang pohon pun hampir suatu dosa

di manakah akan kuselamatkan kini
suaraku yang sayup bernama puisi
ketika, seperti kini kita derita:
bicara tentang kebenaran adalah dosa

maka aku pun tahu kini
kenapa Voltaire dibenci
tinggal ia di Ferney, di bumi Swiss
jauh dari Perancis

maka aku pun mengerti
kenapa Pasternak sepi sendiri
dan Mayakowsky
akhirnya bunuh diri


Hartojo Andangdjaja adalah penyair yang ikut menandatangani Manifes Kebudayaan (Manikebu). Tahun 1964 merupakan tahun pelarangan Manikebu oleh Presiden Soekarno. Bisa dibayangkan posisi sastrawan Manikebu yang tertindas karena penguasa melarang adanya manifes yang lain selain Manifesto Politik yang telah dikeluarkan Bung Karno. Manikebu dilarang, antara lain, karena dinilai ragu-ragu terhadap revolusi, sehingga kelompok ini dianggap sebagai kontra revolusi. Dan karena itu pula diganyang oleh sastrawan-sastrawan Lekra yang pro Bung Karno.
Puisi “1964” memperlihatkan kesunyian atau keterasingan yang dirasakan oleh penyair. Sebagai salah satu penandatangan Manikebu, tentu saja Hartojo Andangdjaja merasa teraniaya. Ia belajar dari sastrawan-sastrawan dunia seperti Bertold Brecht, Voltaire, Boris Pasternak, dan Vladimir Mayakowsky. Hartojo Andangdjaja merasakan kehidupannya tidak jauh berbeda dengan kehidupan sastrawan-sastrawan itu, karena memiliki pandangan yang berbeda dengan penguasa pada zamannya.
Bertold Brecht adalah penyair dan dramawan terkemuka asal Jerman. Ia menjadi komunis setelah mempelajari Das Kapital Karl Marx. Brecht sempat berurusan dengan pemerintah komunis Jerman Timur karena puisinya yang mengkritik penguasa. Dalam sebuah puisinya, “Kepada Angkatan Mendatang”, Brecht menulis, “Zaman apakah ini, ketika bicara tentang pohon dianggap kejahatan.” Pada 1950, ia meninggalkan Jerman Timur dan menjadi warga negara Austria.
Voltaire adalah sastrawan terkemuka Prancis yang sering diasingkan gara-gara kritik dalam karyanya. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Candide. Voltaire dinilai menanam benih-benih ateisme. Ia dituduh telah mempengaruhi publik Prancis dengan pikiran-pikirannya hingga meletus Revolusi Prancis 1789 dan mengantar Raja Louis XVI ke tiang guillotine. Akibat tulisannya yang tajam pula ia diasingkan ke sebuah desa kecil Ferney, di pinggiran Prancis. Tapi, Voltaire memiliki keyakinan sendiri, sebagaimana yang dikatakannya kepada Jean-Jacques Rousseau, “Kalau ada orang yang pantas mengeluh karena karya sastra, sayalah orangnya, karena sepanjang waktu dan di semua tempat, karya-karya sastra itu selalu membuat saya dikejar-kejar orang. Namun kita wajib mencintainya, walaupun sering disalahgunakan orang, seperti kita harus mencintai pergaulan di masyarakat, yang kehangatannya selalu dikacaukan oleh begitu banyak orang jahat; sebagaimana kita juga wajib mencintai tanah air, walaupun penuh dengan ketidakadilan; sebagaimana kita harus tetap mencintai dan mengabdi kepada Tuhan yang maha agung, walaupun prasangka dan fanatisme begitu sering mengotori pemujaannya.”
Boris Pasternak adalah sastrawan Rusia yang meraih hadiah Nobel pada 1958. Ia menolak pemberian Nobel itu akibat desakan pemerintahnya. Penyair dan novelis ini dikenal di dunia melalui karyanya Dr. Zhivago (1957), yang mengisahkan Revolusi Rusia dari sisi yang lebih sentimental. Di Uni Soviet, novel itu dilarang beredar. Di Indonesia, Pramoedya Ananta Toer juga menyerukan agar novel yang diterjemahkan Trisno Sumardjo itu tidak bebas beredar.
Sementara Vladimir Mayakowsky adalah sastrawan Rusia yang beraliran futurisme yang paling terkenal. Pada tahun 1926, ia menulis sebuah puisi: “Aku tidak ingin seperti kelopak bunga, yang tanggal sehabis pagi, dan menjadi percuma!” Empat tahun kemudian, ketika ia disisihkan dari masyarakat karena mengkritik penguasa, ia bunuh diri dengan menembakkan pistol ke kepalanya.
Saya sengaja menguraikan latar belakang sastrawan-sastrawan dunia yang diacu oleh Hartojo Andangdjaja untuk bisa memahami dengan baik puisi “1964”. Sastrawan dunia yang dijadikan acuan itu pada dasarnya mengalami keterasingan. Dan perasaan gelisah itu pula yang muncul pada diri penyair. Kita tahu bahwa pada 1964, suara yang mendominasi di seantero republik ini adalah seruan untuk revolusi, yang sering digemakan oleh sastrawan-sastrawan Lekra yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Presiden Soekarno—yang memegang kendali Demokrasi Terpimpin. Karena itu, wajar kalau ada suara penyair yang merasa dipinggirkan. “Di manakah akan kuselamatkan kini, suaraku yang lembut bernama puisi.”

Citayam, 23 September 2009

Selasa, 22 September 2009

Sedihnya Abadi



oleh Cunong Nunuk Suraja


Ia Menulis Puisi Sedih

by Asep Sambodja (notes) Yesterday at 10:22pm

ia merasa sebagai laki-laki paling malang sedunia
ia menulis puisi cinta
antara ibunya dengan laki-laki entah siapa

ia merasa sangat peduli dengan adik-adiknya
yang tertidur dengan tenang
di bawah batu-batu nisan
di taman makam bukan pahlawan

hanya ibunya yang belum ia bunuh
meski ia tahu ibunya selingkuh

ia merasa sebagai laki-laki paling malang di dunia
ia menulis puisi cinta
dengan darah yang mengalir dari jari-jarinya

tapi puisi itu tak pernah selesai ditulisnya
tak kan pernah selesai
karena sang ibu menangis
di depan jasadnya


Citayam, 22 September 2009
Asep Sambodja


Jauh lama sekali nun di tahun 1967 penyair yang telah jadi dewa sastra menuliskan DukaMu Abadi yang bermula dari sabda, Memang kerena Dia yang mengucap sabda dalam kondisi dan situasi apapun. Lain dengan penyair terkini yang masih melilitkan sunyi sepi sendiri dalam bait-baitnya karena kehilangan cinta monyet remaja. Di era facebook, puisi sudah bukan lagi sebuah meditasi atau kontemplasi. Puisi sudah harus berteori kata Pak Loektamaji. Tapi TS Pinang hanya mau kritik akademisi yang berderet catatan kaki untuk menunjukkan betapa luasnya bacaan penghardik puisi itu. Sedang Hudan Hidayat maunya menyejajarkan diri pada penulis berlabel nobel yang terakreditasi, tapi apa lacur dunia masih mendiskriminasi dengan membelah jadi minimal tiga. Dan jangan tanya apa hak dunia ketiga kecuali tempat buang hajat segala produk budaya, dari teori sampai pola hidup yang tersirat, termasuk makan dan berpakaian. Selera harus mengglobal sebagai ciri kemodernan sikap budaya kekinian. Tren yang membunuh selera lokal. Tak pelak lagi Asep Sambodja juga menawarkan kisah yang lokal mengglobal dengan kisahan tentang lelaki yang teraniaya:

tapi puisi itu tak pernah selesai ditulisnya
tak kan pernah selesai
karena sang ibu menangis
di depan jasadnya

Kematian yang meradang atas kekecewaan dan ketidakberdayaan menyatakan cinta karena peristiwa awal yang boleh juga diangkat lagi peristiwa Sysiphus yang mendorong batu, atau Oedipus yang mengawini ibunya, ataupun Malin Kundang yang jadi batu, bahkan Sangkuriang maupun Bandung Bondowoso yang kelak tak berhasil memperistri perempuan yang masih ada hubungan darah karena kegagalan menyediakan maskawin. Penyair yang ingin menuliskan puisi cinta itu juga gagal sebelum dia menyingkap gaun perselingkuhan ibunda dengan darah yang dituliskan habis sebelum larik cinta itu memuisi. Puisi yang membicarakan masalah purba dengan wacana global mendera sikap paskakolonial yang memunculan the other (liyan). Liyan yang masih misteri dalam pusi itu!

Kata pembuka dengan diskripsi tokoh kisahan puisi Asep Sambodja dengan jelas telah menawarkan mitos modern yang kuno tentang cinta gelap atau terlarang. Cinta tanpa perjanjian terikat kecuali syahwat. Dan cinta syahwat ini mengikat aku lirik yang merasa teraniaya sedunia. Simak ungkapan lugasnya:

ia merasa sebagai laki-laki paling malang sedunia
ia menulis puisi cinta
antara ibunya dengan laki-laki entah siapa

Cinta liar itu telah memojokkan aku lirik pada sikap yang hopeless and no choice. Tak mampunya mencari the other yang menyusupi jejak kelakian pada kepesonaan perempuan akan nikmat sesaat yang mengorbankan harta titipan dengan tanpa harga senilai pahlawan. Perhatikan ungkapan aku lirik yang makin kehabisan akal menghadapi bencana siang hari bagi kehidupannya:

ia merasa sangat peduli dengan adik-adiknya
yang tertidur dengan tenang
di bawah batu-batu nisan
di taman makam bukan pahlawan

Wacana yang digulirkan aku lirik seakan menjadi penyelamat fatalis dan nihilis mentok pada sikap bahwa sorga di bawah telapak kaki ibu, menggugurkan niat menyelesaikan cerita perselingkuhan buah dari peradaban neo-modern yang kadang seperti politikus yang bersikap kucing dan tikus yang terlihat pada film kartun Tom and Jerry.
Sejauh bango terbang ke langit yang akhirnya singgah juga ke rawa yang berbecek ria demikianlah akhir pengkisahan anak manusia yang masih percaya sorga ada di telapak kaki ibu. Tak ada keberanian membunuh penyebab kedukaan yang mengabadi kecuali mengakhiri dengan harakiri yang patriotik dengan darah sendiri. Boleh dikata sebuah keniscayaan yang tersiakan. Gambaran generasi muda yang tahan dipuji tak tahan menghadapi kritik dan buntu berhadapan dengan masalah yang menurut tingkat pengalaman hidupnya terlalu pelik. Dasar remaja kencur menuntut kebenaran yang sukar terbuktikan adanya wabah perselingkuhan dan tidak pernah terlintas di benak aku lirik kalau dirinya mungkin juga hasil genetika rekayasa bayi perselingkuhan.

Lengkaplah sudah gaung DukaMu Abadi pada jejak lelaki pada pupuh puisi Asep Sambodja:

ia merasa sebagai laki-laki paling malang di dunia
ia menulis puisi cinta
dengan darah yang mengalir dari jari-jarinya


Kembali duka itu mengabadi karena puisi darah itu tak pernah eksis dan hilang dalam imaji pembaca yang cukup kritis.

Bogor seusai hari Fitri 2009

Jumat, 18 September 2009

Kronik Peristiwa Sastra 1960-an



oleh Asep Sambodja

1960

31 Agustus: Sidang Pleno II Lekra. Sidang pleno ini memantapkan Mukadimah Lekra dan sikap “Politik adalah panglima.”
Harian Rakjat memberikan hadiah sastra di bidang esai kepada Pramoedya Ananta Toer dan Mia Bustam; di bidang puisi kepada Hr. Bandaharo, Dodong Djiwapradja, Chalik Hamid, dan S.W. Kuntjahjo; di bidang cerpen kepada Bachtiar Siagian; dan di bidang terjemahan kepada Agam Wispi, Muslimin Jasin, dan Huang Khuen Han.

1961

Majalah Sastra terbit; redaktur: H.B. Jassin, D.S. Moeljanto. M. Balfas, dan lain-lain.

1962

13-20 November: Konferensi Sastrawan Asia-Afrika II di Mesir. Delegasi Indonesia diwakili antara lain oleh Pramoedya Ananta Toer, Rivai Apin, Joebaar Ajoeb.
Novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck karangan Hamka dihebohkan sebagai
jiplakan. Abdullah S.P. dan Pramoedya Ananta Toer menuduh Hamka sebagai plagiator. Novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck dituduh sebagai plagiat dari novel Majdulin karya Al Manfalutfi, yang merupakan terjemahan dari Sous les Tilleus karya Alphonse Karr. Tuduhan itu dimuat di Harian Rakjat dan Bintang Timur.
Motinggo Busye menerbitkan Malam Jahanam.

1963

22-25 Maret: Konferensi Nasional I Lembaga Sastra Indonesia (LSI) diadakan di Medan. Terbentuk Pengurus Pusat LSI yang terdiri dari Bakri Siregar, Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, Agam Wispi, Sobron Aidit, M.S. Ashar, S. Rukiah, Sugiarti Siswandi, dan Hr. Bandaharo.
17 Agustus: Wiratmo Soekito menyusun “Manifes Kebudayaan”. Sastrawan-sastrawan muda menolak seruan “Politik adalah panglima” yang didengungkan sastrawan Lekra.
September/Oktober: “Manifes Kebudayaan” diumumkan.
H.B. Jassin dan Junus Amir Hamzah. Tenggelamnya Kapal van der Wijck dalam
Polemik
. Jakarta: Mega Bookstore. (Berisi tulisan-tulisan mengenai novel Hamka,
Tenggelamnya Kapal van der Wijck.)

1964

1-7 Maret: Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia (KKPI) diadakan di Jakarta.
Konferensi ini menghasilkan “Ikrar Pengarang Indonesia”.
8 Mei: Presiden Soekarno melarang “Manifes Kebudayaan”.
24-25 Agustus: Konferensi Nasional II Lekra diadakan di Jakarta. Dalam konfernas ini dihasilkan sebuah resolusi yang antara lain berbunyi teruskan pengganyangan terhadap Manikebu.
27 Agustus-2 September: Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) diadakan di Jakarta. Konferensi ini menghasilkan “Resolusi KSSR”.
Buku Revolusi di Nusa Damai karya Ktut Tantri terbit.

1965

30 November: Semua buku pengarang Lekra dilarang.
Terjadi peristiwa penculikan dan pembunuhan para jenderal yang disebut sebagai Dewan Jenderal oleh sebuah gerakan yang menamakan dirinya Gerakan 30 September yang dipimpin Letkol Untung. Pangkostrad Mayjen Soeharto, satu-satunya petinggi Angkatan Darat yang selamat dalam aksi pembunuhan itu mengambil alih kepemimpinan di Angkatan Darat. PKI dituduh berada di balik aksi itu. Setelah PKI dilarang, terjadi pembunuhan massal. Sedikitnya 500.000 orang dibunuh. Lekra dilarang. Banyak sastrawan Lekra yang dipenjara, sebagian hidup sebagai sastrawan eksil di Eropa. Perempuan aktivis yang tergabung dalam Gerwani banyak yang menjadi korban perkosaan. Buku-buku karya sastrawan Lekra dilarang.

1966

Juli: Majalah Horison terbit; redaktur: H.B. Jassin, D.S. Moeljanto, Soe Hok Djin (Arief Budiman), dan lain-lain.
Agustus: Muncul istilah “Angkatan 66”; istilah ini berasal dari H.B. Jassin.
Majalah Budaya Jaya terbit.
Taufiq Ismail menerbitkan buku Tirani dan Benteng.

1967

Naskah drama Kuntowijoyo, Rumput-Rumput Danau Bento menjadi pemenang harapan Sayembara Penulisan Lakon Badan Pembina Teater Nasional Indonesia.
Slamet Sukirnanto menerbitkan buku puisi Jaket Kuning.

1968

2 Januari: Sanusi Pane meninggal dunia di Jakarta.
12 Oktober: Kejaksaan Tinggi Sumatra Utara menyita majalah Sastra karena majalah ini memuat cerpen Kipanjikusmin, “Langit Makin Mendung”, dalam edisi Agustus. Pemimpin Redaksi Sastra H.B. Jassin diadili.
31 Oktober: Diskusi tentang Kritik Sastra diadakan di Jakarta.
H.B. Jassin menerbitkan Angkatan 66: Prosa dan Puisi. Jakarta: Gunung Agung.
Berisi prosa dan puisi.

1969

Iwan Simatupang menerbitkan naskah drama Petang di Taman dan novel Ziarah.
Sapardi Djoko Damono menerbitkan buku puisi Duka-Mu Abadi. Bandung:
Jeihan.
Ajip Rosidi menerbitkan Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Binacipta.

Citayam, 18 September 2009

Rabu, 16 September 2009

Pramoedya Ananta Toer dan "Tahun Pembabatan Total"



oleh Asep Sambodja

Harus diakui bahwa dalam salah satu artikelnya di Lembaran Kebudayaan “Lentera” harian Bintang Timur, 9 Mei 1965, yang berjudul “Tahun 1965 Tahun Pembabatan Total” ada pernyataan tertulis Pramoedya Ananta Toer yang bertentangan dengan kebebasan berekspresi. Ini dapat dikatakan sebagai kesalahan Pramoedya yang membatasi kebebasan berekspresi dan berpendapat.
Dalam artikel tersebut, Pramoedya menulis, “Sebagaimana diketahui penerbit-penerbit yang menerbitkan karya-karya Manikebu adalah seperti penerbit-penerbit pemerintah, penerbit-penerbit swasta untuk tidak menyebut beberapa nama. Apakah sebabnya penerbit-penerbit tersebut menerbitkannya dan apa sebabnya tidak pernah menarik kembali penerbitan-penerbitan tersebut dari peredaran? Apakah sebabnya ada penerbit yang justru menerbitkan buku-buku plagiat Hamka, sedang sudah diketahuinya karya tersebut adalah plagiat? Bukankah Presiden Soekarno telah menggariskan agar berkepribadian sendiri pada sekitar Konsepsi Presiden tahun 1957? Apakah perbuatannya tersebut mendukung tugas perongrongan ataukah hanya karena ketamakan belaka?” (Prahara Budaya, hlm. 404).
Pada bagian lain, Pramoedya juga menulis, “Kita masih bisa bertanya sekarang ini, apakah sebabnya buku Zainal Abidin Ahmad Membentuk Negara Islam masih pada meringis di pinggir-pinggir jalan Jakarta, sekalipun di trotoar, dan apakah sebabnya buku Doktor Zhivago terjemahan Trisno Sumardjo diterbitkan?” (PB, hlm. 404).
Satu lagi, Pramoedya menulis, “Dengan bersenjatakan ‘Berdikari’, ‘Berkepribadian dalam Kebudayaan’, dan ‘Banting Stir’, pembersihan terhadap penerbit yang menjadi pabrik ideolozi gelandangan telah merupakan suatu tantangan bagi semua organisasi kebudayaan yang progresif revolusioner” (PB, hlm. 405).
Tampak sekali bahwa Pramoedya Ananta Toer sebagai penanggung jawab rubric “Lentera” di harian Bintang Timur melakukan tindakan represif melalui tulisan-tulisannya yang tersebar melalui media massa. Tulisan semacam ini membuat “keder” sastrawan-sastrawan Manikebu.
“Pembabatan Total” yang dimaksudkan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam artikelnya tersebut, sepanjang yang saya tangkap dari tulisannya, adalah ingin mengganyang kebudayaan Manikebu, Komprador, Imperialis, dan Kontra revolusi secara total”. Saya sama sekali tidak melihat adanya kaitan artikel itu dengan peristiwa G30S 1965.
Nah, sayangnya, dalam buku Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI Dkk (1995), Tauifiq Ismail sebagai editor buku itu melakukan parafrasa terhadap artikel Pram tersebut. Parafrasa sebenarnya merupakan tindakan untuk menjelaskan suatu teks agar sesuai dengan maksud yang hendak disampaikan oleh pengarangnya.
Sayangnya lagi, Taufiq Ismail memakai kacamata politik Orde Baru yang mengait-ngaitkan artikel Pramoedya Ananta Toer itu dengan peristiwa Gestapu (Gerakan September Tigapuluh—akronim yang aneh, AS). Dalam bukunya itu, Taufiq Ismail menulis demikian: “Kurang sedikit lima bulan sebelum pecahnya Gestapu, di Lembaran Kebudayaan “Lentera” surat kabar Bintang Timur, Pramoedya Ananta Toer menulis artikel dengan judul ‘Tahun 1965 Tahun Pembabatan Total’. Pada waktu artikel itu disiarkan suasana yang sudah lama dipersiapkan PKI dan kawan-kawannya menuju perebutan kekuasaan berdarah sudah semakin matang dan menanjak menuju puncak dari apa yang mereka sebut ‘situasi revolusioner’. Jalan yang diratakan untuk mencapai tujuan dilakukan dengan menyingkirkan penghalang-penghalang, dan istilahnya adalah pembabatan… (PB, hlm. 402).
Saya melihat upaya keras Taufiq Ismail untuk menyangkut pautkan sastrawan-sastrawan Lekra dengan peristiwa pembunuhan Dewan Jenderal pada 30 September 1965. Sebelumnya saya telah menyinggung bahwa puisi Mawie Ananta Jonie yang berbicara tentang kemiskinan pun dikait-kaitkan dengan peristiwa G30S hanya karena judulnya “Kunanti Bumi Memerah Darah”. Kini, artikel Pramoedya yang sangat antiimperialisme Amerika pun dikaitkan dengan peristiwa G30S hanya karena judulnya “Tahun 1965 Tahun Pembabatan Total”.
Dampak dari tulisan Taufiq Ismail itu, sastrawan-sastrawan Lekra tetap berada dalam kondisi terpuruk—bahkan sampai sekarang. Pada 1995 itu pula, tidak lama setelah Prahara Budaya terbit, Pramoedya mendapat penganugerahan Hadiah Magsaysay dari Yayasan Ramon Magsaysay di Filipina. Tapi, apa yang terjadi di NKRI ini? Sastrawan Manikebu yang dipelopori oleh Taufiq Ismail mengeluarkan petisi menolak pemberian hadiah tersebut. Namun, Yayasan Ramon Magsaysay tidak mau menggubris petisi itu. Hadiah tetap diberikan kepada Pramoedya yang mengalami represif di zaman Orde Baru, meskipun ia sendiri melakukan represi di zaman Orde Lama.
Tapi, yang ingin saya tanyakan, kenapa Taufiq Ismail selalu mengaitkan sastrawan Lekra dengan peristiwa berdarah 30 September? Ada motif politik apa di balik itu?

Citayam, 16 September 2009