Kamis, 10 September 2009

Soeharto dalam Puisi Putu Oka Sukanta


oleh Asep Sambodja

“Sebagai anggota Lekra, ia dipenjara rezim Orde Baru selama 10 tahun (1966-1976) tanpa diadili,” demikian secuplik biografi Putu Oka Sukanta, penyair besar Indonesia yang lahir di Singaraja, Bali, 29 Juli 1939.
Dari cuplikan itu, kita memahami bahwa ada ketidakadilan yang dialami oleh Putu Oka Sukanta sebagai sastrawan Lekra. Pertama, kenapa ia ditangkap? Atas kesalahan apa ia ditangkap? Apakah menjadi anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) itu salah? Kedua, kenapa penangkapan itu tidak diteruskan ke pengadilan? Bukankah kalau seseorang itu ditangkap kemudian diperiksa, dibuat Berkas Acara Pemeriksaan (BAP), kemudian BAP itu diserahkan ke kejaksaan dan kemudian dibawa ke pengadilan untuk diadili; apakah ia bersalah atau tidak? Ketiga, Putu Oka Sukanta ditangkap tanpa diadili, tapi kenapa sampai ditahan selama 10 tahun? Bagaimana negara membaca kasus hukum seperti ini. Kalau negara bisa membacanya dengan baik, kenapa tidak ada permintaan maaf kepada mereka yang sudah dizalimi seperti itu? Kenapa pula tidak ada rehabilitasi nama baik mereka? Dan orang yang mengalami nasib seperti Putu Oka Sukanta itu banyak sekali. Kalau kita mengacu pada buku sejarah yang resmi, yang ditulis oleh Nugroho Notosusanto, jumlahnya paling sedikit 10.000 orang.
Dalam keadaan seperti itulah Putu Oka Sukanta menulis puisi. Karenanya, terbaca dengan jelas bagaimana sakitnya perasaan Putu saat menulis puisi. Setidaknya, ini bisa dibaca pada puisi “Waktu” dalam Tembang Jalak Bali: Puisi Tertindas (2000). Dalam puisi tersebut, Putu Oka Sukanta menuturkan kepedihannya dengan bahasa metaforis, sangat berbeda dengan puisi-puisi Putu Oka pada tahun 1960-an, misalnya puisi-puisinya yang termuat dalam Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra Harian Rakjat 1950-1965 (2008). Kepedihannya yang sangat mendalam itu terurai dalam sepuluh bagian puisi. Puncaknya, Putu Oka menghasilkan puisi yang sangat impresif dan sublim dalam puisi berjudul “Dalam Sel” yang saya kutip secara utuh berikut ini:

Dalam Sel

aku seperti air
yang reda dari goncangan
mengapungkan busa
mengendapkan ampas
menapis keruh
pagi yang jernih

aku seperti air
yang reda dalam goncangan
mengaca ke dalam
pada keheningan di balur kabut
dan sosok utuh yang muncul
bukan lagi siapa-siapa

aku seperti air
yang reda dalam goncangan
kelam menyisih
terang menyorot
bukan lagi bagi siapa-siapa


Puisi ini tidak disertai tahun pembuatan. Namun terbaca bagaimana seorang Putu Oka sebagai orang yang tertindas dan teraniaya—karena di dalam pemeriksaan selalu disertai siksaan—berupaya untuk menghilangkan diri, menjadi bukan siapa-siapa. Dengan tidak menjadi siapa-siapa, dengan meniada, menjadi cara jitu untuk survive di tengah deraan dan siksaan.
Setelah keluar dari penjara pun Putu Oka Sukanta tetap tidak merasa merdeka, karena kartu identitasnya harus dilengkapi dengan simbol ET (eks tahanan politik). Pada hakikatnya, mereka yang keluar dari penjara namun memiliki KTP bertuliskan ET, tetap saja terbelenggu, karena mereka harus wajib lapor sebagaimana seorang pendosa. Dalam puisi “Bermula di Katepe” dan “Nama Saya Ete” yang terhimpun dalam bukunya Perjalanan Penyair: Sajak-sajak Kegelisahan Hidup (1999), Putu Oka memperlihatkan sindirannya terhadap penguasa yang telah memperlakukan mantan tahanan politik sebagai warga kelas dua.
Dalam buku puisi Perjalanan Penyair itu pula Putu Oka Sukanta memperlihatkan perhatiannya pada orang-orang tertindas. Puisi “Marsinah” yang panjang mampu menunjukkan rasa sakit, pedih, yang dialami buruh pabrik arloji itu. Puisi ini benar-benar mengusik rasa kemanusiaan kita; betapa biadabnya orang-orang yang membunuh Marsinah. Demikian pula penganiayaan dan pemerkosaan terhadap keluarga Acan yang tidak mau pindah karena uang ganti rugi dari pemerintah benar-benar merugikan Acan. Karena itulah Acan diperlakukan dengan aniaya agar meninggalkan tanah leluhurnya. Penganiayaan ini terekam dalam puisi “Balada Tiga Perempuan Diperkosa”.
Putu Oka Sukanta juga banyak menulis tentang korban perkosaan dan pembunuhan di Aceh, terutama saat Daerah Operasi Militer (DOM) diberlakukan selama sepuluh tahun. Dalam buku Surat Bunga dari Ubud (2008), Putu Oka Sukanta juga menulis puisi tentang dibunuhnya pejuang hak asasi manusia (HAM), Munir. Meskipun Putu Oka belum pernah bertemu dengan Munir, namun kematian itu sangat membuatnya berduka. Sampai-sampai ia menulis, “Aku menghidupkan engkau dalam puisi, yang tak akan bisa dibunuh, tak akan mati.”
Bagaimana pandangan Putu Oka Sukanta terhadap mantan presiden RI kedua, Soeharto? Dalam puisi “Pencipta Kerangkeng Kemanusiaan” yang terdapat dalam buku Surat Bunga dari Ubud, Putu Oka menulis dengan sangat jelasnya. Ini adalah puisi transparan yang ditulis dengan penuh kejujuran. Berikut ini saya kutip puisi tersebut selengkapnya.

Pencipta Kerangkeng Kemanusiaan

aku ingat benar, kata Suharto semasa jaya
anak cucu tidak akan membayar hutang, karena kita kaya
hutan tidak akan ligir, sungai tidak tercemar karena kita berbudaya
burung tidak kehilangan sarang, kandungan bumi membangun sejahtera
ternyata telah dibuktikan anak cucu Cendana

aku ingat benar senyumnya, menyeringai serigala
taringnya tidak pernah bersih dari darah jelata
ya, aku ingat benar kata-katanya
anak cucu tidak akan menderita, ternyata anak cucu Cendana

ia dengan lihai membangun bui kecil, bui besar, bui maha luas
bui berjeruji, dan menyaingi angkasa dengan bui tanpa batas
sekarang aku bertanya kepadamu, untuk siapakah itu semua
penjara itu adakah juga rumah untuk anak cucu Cendana

aku ingat benar, setiap bulan masih harus melapor, tidak boleh lupa
erte, erwe, lurah, babinsa, koramil dan seterusnya dinobatkan menjadi mata-mata
dan sampai kini ada yang tertinggal tak mampu disapu
menteri dalam negeri masih bengong, seperti tiang diam terpaku
membisu, aku ingin mendengar bisikan kalbumu

dua ribu, Indonesia baru?
Indonesia baru?
apa yang baru?
dua ribu
kalkulator dihidupkan langkah zaman
dendam diusung keranda kematian
tanganmu, tanganku akan berjabatan
seusai pengadilan.

Jakarta, 1999

Demikianlah.

Citayam, 10 September 2009





Minggu, 06 September 2009

Cerpen-cerpen Sastrawan Lekra


oleh Asep Sambodja

Seperti apakah cerpen-cerpen sastrawan Lekra? Saya mencoba membaca enam cerpen karya Sugiarti Siswadi yang pernah dimuat di Harian Rakjat dan dihimpun dalam buku Laporan Dari Bawah: Sehimpunan Cerita Pendek Lekra Harian Rakjat 1950-1965 yang disusun Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan (2008). Dari 61 cerpenis Lekra yang terdapat dalam buku itu, Sugiarti Siswadilah yang paling banyak menyumbangkan cerpennya.
Ada enam cerpen Sugiarti Siswadi dalam buku itu, yakni “Budak Kecil”, “Orang Kedua”, “Belajar”, “Luka Lama di Leher”, “Dongeng-dongeng di Waktu Malam”, dan “Pengadilan Tani”. Dari keenam cerpen tersebut, semuanya menggunakan pencerita diaan. Artinya, pengarang memposisikan dirinya sebagai orang yang serba tahu, sehingga dalam sebuah cerpen, ia tahu semua karakter tokohnya. Akibatnya dalam beberapa cerpen ucapan dan pemikiran tokoh-tokohnya hampir sama, bahkan nyaris seragam.
Sugiarti Siswadi seolah-olah memposisikan dirinya sebagai dalang, namun tidak seperti dalang wayang kulit yang bisa membedakan suara satu tokoh dengan tokoh lainnya, tokoh-tokoh dalam cerpen Sugiarti Siswadi nyaris sama “suaranya”. Saya melihat dalam menuturkan cerita, Sugiarti lebih mirip sebagai seorang pendongeng, dan pembaca benar-benar seperti pendengar yang khusyuk mendengarkan dongeng tersebut.
Bahasa yang digunakan Sugiarti dalam cerpen-cerpennya, kalau saya kaitkan dengan konteks tahun 1960-an, termasuk bahasa yang halus dan indah. Bahkan Sugiarti cenderung menggunakan kata-kata yang santun. Karena itu, terkadang dalam cerpennya tidak ada konflik dan tidak ada klimaks. Padahal, daya tarik sebuah cerita itu kalau ada konfliknya, meskipun hanya konflik batin. Kalau sebuah cerita tidak ada konfliknya, atau sebuah permasalahan yang menarik perhatian, maka cerita itu akan kehilangan gregetnya.
Dalam cerpen “Budak Kecil”, misalnya, Sugiarti hendak bercerita tentang seorang majikan yang mencari pembantu rumah tangga. Tapi, begitu yang dating adalah seorang ibu yang mempekerjakan anak sulungnya yang baru berusia 12 tahun, di situlah muncul konflik batin. Apakah menerima anak sekecil itu untuk menjadi pembantu rumah tangga atau tidak. Namun, konflik batin itu kurang digarap dan penyelesaiannya pun sederhana dengan menerima anak itu sebagai pembantu. Dalam cerpen ini pula Sugiarti memperlihatkan seorang majikan yang berperikemanusiaan, karena memberi tugas yang tidak terlalu berat kepada anak seusia 12 tahun.
Dalam cerpen “Orang Kedua” watak tokohnya hampir sama. Ini yang saya katakan Sugiarti sebagai pengarang serba tahu masuk ke semua tokoh itu dengan pikiran yang sama. Dalam arti watak tokoh-tokohnya kurang digarap sehingga semua tokohnya tampak seragam, yang membedakan hanya nama-nama tokohnya saja. Dalam cerpen ini juga tidak ada konflik yang membangun cerita, sehingga terasa datar begitu saja. Yang ingin ditonjolkan Sugiarti dalam cerpen ini adalah semangat kerja untuk kepentingan rakyat.
Cerpen “Belajar” tidak terlalu menarik. Cerpen ini berisi tentang seorang anak yang bertanya mengenai Sputnik kepada ayahnya yang buta huruf. Tentu saja ayahnya tidak bisa menjawab, lalu ayahnya bertanya kepada tetangganya yang berlangganan koran, Mas Mitro, yang menjelaskan dengan detil. Lalu, ayahnya memuji Uni Soviet yang telah berhasil meluncurkan Sputnik ke luar angkasa dan menyindir Amerika yang waktu itu belum meluncurkan pesawat ruang angkasa.
Tema cerpen “Luka Lama di Leher” adalah tentang kerja yang bisa membuat seseorang menjadi sehat. Pak Djojo digambarkan mengalami sakit di lehernya akibat siksaan kempeitai Jepang. Dari lehernya sering mengalir air kuning. Dan kalau sudah seperti itu, ia sering marah-marah. Dokter tidak bisa menyembuhkan penyakit itu. Kalau disuruh istirahat oleh istrinya, dia malah merasa tersiksa. Ternyata, obat mujarabnya adalah bekerja. Dengan bekerja sebagai fungsionaris Serikat Buruh Perkebunan di sebuah pegunungan, Pak Djojo justru merasa tenang dan nyaman.
Cerpen “Dongeng-dongeng di Waktu Malam” berisi sindiran pada tokoh agama. Pak Karto mendongeng tentang Kyai Sumowono yang bertemu dan bertekuk lutut di hadapan Nyai Loro Kidul. Kyai Sumowono menurut saja ketika Nyai Loro Kidul melarangnya membunuh tikus. Setelah Pak Karto mendongeng, giliran Darmo yang mengomentari bahwa ia juga bertemu dengan Nyai Loro Kidul. Tapi, bukan ia yang bertekuk lutut, melainkan Nyai Loro Kidullah yang bertekuk lutut. Dan ia mengatakan bahwa ia memilih membunuh tikus yang merusak sawahnya daripada nantinya anaknya mengalami kelaparan kalau sawahnya rusak.
Barangkali cerpen “Pengadilan Tani” yang paling menarik di antara keenam cerpen tersebut. Dalam cerpen ini Sugiarti menceritakan tentang seorang tuan tanah, Sanusi, yang juga lintah darat atau rentenir yang mengadukan 130 petani yang merampas padinya. Ketika disidang, ternyata terbongkar keburukan-keburukan Sanusi, antara lain dengan memalsukan surat kepemilikan tanah dan menghisap rakyat dengan bunga-bunga hutang. Akhirnya, hakim membebaskan 130 petani itu dan menjadikan Sanusi sebagai terdakwa. Di sini tampak jelas sikap dan keberpihakan Sugiarti kepada orang-orang yang tertindas.
Saya sangat yakin cerpen “Pengadilan Tani” yang dimuat di Harian Rakjat ini memiliki greget yang sangat kuat pada konteks zamannya, karena sangat sesuai dengan ideologi Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sangat mementingkan nasib petani penggarap. Orang dari Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Pemuda Rakyat ditampilkan sebagai tokoh yang memberi kesadaran kepada petani penggarap untuk bangkit melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh tuan tanah Sanusi.

Citayam, 6 September 2009

Jumat, 04 September 2009

Arief Budiman dan "Sastra Kiri yang Kere"


oleh Asep Sambodja

Arief Budiman (Soe Hok Djin) adalah seorang Manikebuis yang insyaf. Ketika masih berumur 22 tahun, ia bersama Goenawan Mohamad, Taufiq Ismail, H.B. Jassin, Wiratmo Soekito dan beberapa seniman lainnya mengeluarkan pernyataan Manifes Kebudayaan yang berpaham humanisme universal pada 17 Agustus 1963 sebagai counter terhadap paham realisme sosialis yang diusung Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Namun, pada 1984, ia menolak keuniversalan dalam sastra.
Dalam artikel “Sastra Kiri yang Kere” yang dimuat dalam buku Perdebatan Sastra Kontekstual yang dihimpun Ariel Heryanto (1985) dan dimuat kembali dalam buku Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965-2005 karya Arief Budiman, tidak ada definisi yang jelas tentang apa itu “sastra kiri” dan tidak ada penjelasan mengenai “kere”-nya sastra kiri. Sebagai pembaca, saya sangat tertarik dengan judul yang ditulis oleh Arief Budiman itu. Namun, ternyata, setelah membaca artikel tersebut, kita baru sadar bahwa yang ditulis Arief Budiman sangat tersirat, sehingga kita harus menafsirkan sendiri apa itu “sastra kiri yang kere” itu.
Saya katakan Arief Budiman insyaf karena setelah sastrawan-sastrawan Lekra dibungkam pasca peristiwa 30 September 1965, ia jarang atau bahkan tidak menemukan lagi karya sastra yang membumi, karya sastra yang berbicara tentang masalah sosial politik, sastra yang berbicara tentang rakyatnya sendiri. Arief Budiman merasakan karya sastra yang diciptakan oleh sastrawan-sastrawan Manikebu sangat kebarat-baratan dan tidak membumi. Pada saat yang hampir bersamaan Emha Ainun Nadjib juga merasakan bahwa sastra Indonesia saat itu bungkam terhadap ketimpangan sosial yang ada di masyarakat.
Karena itu, dalam sebuah sarasehan kesenian di Solo pada 1984, Arief Budiman menggebrak kebuntuan sastra Indonesia dengan konsep sastra kontekstual. Menurut Umar Kayam, istilah sastra kontekstual itu hanyalah retorika Arief Budiman saja. Memang, sejatinya, apa yang dilakukan oleh sastrawan-sastrawan Lekra sebelum Arief Budiman menelurkan istilah itu hakikatnya adalah karya sastra kontekstual juga. Karena, mereka menghasilkan karya sastra dengan terlebih dahulu menghayati kehidupan rakyat atau kehidupan bangsanya sehari-hari. Bahkan dalam konsep berkesenian Lekra, para sastrawan harus mengintegrasikan kehidupannya dengan kehidupan kaum buruh, tani, dan wong cilik lainnya.
Saya akan mengutip pernyataan Arief Budiman yang memperlihatkan “keinsyafannya” bahwa ternyata sastrawan-sastrawan Lekra yang berpaham realisme sosialislah yang karya-karya sastranya membumi—meskipun hal ini tidak tersurat dalam artikel “Sastra Kiri yang Kere” itu. Berikut kutipan selengkapnya:

“Saya menolak nilai universal dalam kesusastraan dan kesenian. Keindahan tidak sama dimana-mana, di sepanjang sejarah. Keindahan terikat pada ruang dan waktu. Untuk masyarakat Jawa, keindahan lain dengan masyarakat Minang. Untuk bangsa Indonesia, keindahan lain dengan bangsa Prancis. Untuk kelas menengah Indonesia, keindahan lain dengan kelas bawah Indonesia. Untuk kelas menengah Indonesia dulu, keindahan lain dengan kelas menengah Indonesia sekarang. Dan seterusnya.
Bagi saya, sastrawan-sastrawan yang mencipta dengan kiblat nilai universal, yang tidak mau mengakui bahwa keindahan bersifat kontekstual, pada kenyataannya menciptakan karya-karya untuk konsumsi kritisi sastra di Negara maju. Tanpa sadar, ukurannya adalah karya-karya sastra pemenang Hadiah Nobel. Tidak heran kalau mereka menjadi orang asing di negerinya sendiri. Akhirnya, mereka cuma dapat memaki-maki rakyat bangsanya sendiri yang dikatakannya kurang terdidik dan tidak dapat mengerti sastra yang bernilai.
Apa yang disebut sebagai keindahan merupakan ekspresi dari totalitas kehidupan. Bagi saya, pertama-tama, orang harus hidup secara penuh dulu. Karena hidupnya yang penuh ini, maka dia mau menyatakannya melalui alat komunikasi apa saja yang mungkin. Bagi saya, bentuk tak penting. Yang utama adalah dia mau menyatakan sesuatu yang berharga, yang berarti bagi hidupnya.
Bagi saya, hidup secara penuh dalam masyarakat Indonesia sekarang adalah terlibat dalam persoalan-persoalan besar bangsa ini. Karena salah satu persoalan besar bangsa ini adalah masalah kemiskinan dan ketidakadilan, maka sangat wajar bila pengarang besar Indonesia terlibat dalam persoalan ini, dan menyatakan dalam karya-karyanya.
Karena itu, kalau saya mengharapkan sastrawan Indonesia berbicara tentang ketimpangan sosial yang ada sekarang ini, pada dasarnya saya memintanya untuk menjadi manusia Indonesia yang terlibat dengan masalah-masalah besar bangsanya dulu, baru menjadi sastrawan. Menjadi sastrawan hanyalah merupakan by product dari menjadi manusia yang utuh, bukan sebaliknya.”

(dikutip dengan sedikit perbaikan dari Perdebatan Sastra Kontekstual, halaman 91-92)

Dari kutipan panjang di atas, serta memperhatikan judul yang digunakan Arief Budiman, saya sama sekali tidak menemukan makna “kere”. Ternyata judul itu berasal dari gurauan saja. Sebab, sarasehan yang digelar di Solo itu dilakukan secara sederhana dan apa adanya, dan bukan merupakan sebuah seminar yang megah seperti yang digelar di Universitas Gadjah Mada (UGM), misalnya. Meskipun demikian, gemanya masih terngiang sampai sekarang.
Sementara “Sastra Kiri” yang tersirat dari artikel itu adalah apa yang menjadi topik persoalan dalam sarasehan itu pernah dilakukan oleh sastrawan-sastrawan Lekra yang berpaham realisme sosialis; yang berpedoman politik sebagai panglima. Artinya, sastrawan-sastrawan Lekra harus mengerti politik dulu baru menulis karya sastra. Dan, untuk mengerti politik, sudah sewajarnya kalau mereka harus berpendidikan tinggi. Makanya, tidak heran kalau seorang sastrawan Lekra seperti D.N. Aidit dan Njoto (Iramani) yang menjadi pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) itu menulis puisi.

Citayam, 5 September 2009

Membaca Sejarah Sastra Yudiono K.S.


oleh Asep Sambodja

Tidak ada tulisan yang netral. Tulisan ini pun mungkin tidak netral juga. Demikian pula dengan karya Yudiono K.S. dalam Pengantar Sejarah Sastra Indonesia yang terbit pada 2007. Dalam buku tersebut, tampak sekali ketidaknetralan itu. Ini, misalnya, dapat dilihat ketika Yudiono K.S. mengungkap sejarah sastra Indonesia tahun 1960-an, terutama dalam bab Masa Pergolakan Sastra Indonesia Tahun 1945-1965.
Dalam buku itu, Yudiono K.S. memposisikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) sebagai “tokoh antagonis” dalam sejarah sastra Indonesia. Seolah-olah yang dilakukan Lekra adalah melulu teror budaya terhadap seniman-seniman yang tidak “seiman” dengan Lekra. Yudiono K.S. menggambarkan Lekra seperti tokoh-tokoh antagonis dalam dongeng-dongeng yang hanya memiliki karakter hitam dan jahat. Yudiono sama sekali tidak membicarakan upaya Lekra memberdayakan kesenian rakyat, misalnya, ataupun karya-karya yang menonjol dari sastrawan Lekra.
Saya memahami bahwa dalam menulis sejarah pun, termasuk menulis sejarah sastra Indonesia, subyektivitas penulisnya akan muncul dengan sendirinya. Kecenderungan Yudiono K.S. yang lebih memihak pada sastrawan-sastrawan Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang berpaham humanisme universal terbawa dalam penulisan sejarah sastra Indonesia tahun 1960-an. Namun, sebagai akademisi, bukankah sebaiknya kita menempatkan diri kita di tempat yang lebih independen, yang mengatasi dua pihak yang tengah berpolemik?
Hal ini memang tidak mudah. Namun, sebaiknya kita sebagai penulis berlaku adil kepada kedua belah pihak. Tidak hanya pada buku Yudiono K.S. saja, dalam beberapa buku sejarah sastra Indonesia, terutama yang menyinggung sejarah sastra Indonesia tahun 1960-an, tampak sekali kita telah memperlakukan sastrawan-sastrawan Lekra secara tidak adil. Kita, misalnya, secara semena-mena mengklaim bahwa Lekra itu PKI. Padahal tidak semua sastrawan Lekra itu anggota PKI. Pramoedya Ananta Toer, misalnya, tidak merasa dirinya komunis.
Setelah peristiwa 30 September 1965, PKI dilarang dan Lekra termasuk lembaga yang diharamkan ada. Karya-karya sastrawan Lekra semuanya dilarang. Akibatnya karya-karya sastrawan Lekra itu lenyap dari publik, lenyap dari buku-buku pelajaran, lenyap dari tanah airnya sendiri. Apa arti semua ini? Artinya, kita kehilangan aset budaya yang luar biasa besarnya. Kita harus merasa rugi bahwa aset budaya yang diproduksi oleh sastrawan-sastrawan Lekra itu dinafikan begitu saja. Sama ruginya ketika kolonial Belanda memboyong naskah-naskah kuno yang ditulis tangan oleh nenek moyang kita ke Leiden, Belanda.
Yudiono K.S. sejatinya memperhatikan hal ini juga. Bahwa karya-karya sastrawan Lekra itu merupakan aset budaya yang disia-siakan oleh pemerintah dan bangsanya sendiri. Saya yakin Yudiono juga tahu bahwa setiap sastrawan merekam segala peristiwa yang ada di lingkungannya ke dalam karya-karyanya. Mereka tidak hanya merekam, tapi juga menyikapi setiap peristiwa yang ada sesuai dengan pemikiran dan keyakinannya. Bisa dibayangkan, berapa banyak sastrawan Lekra yang telah menghasilkan karya sastra, berapa banyak pemikiran mereka yang terekam di dalam karya-karya mereka. Kenapa kita sia-siakan?
Saya mengusulkan kepada Yudiono K.S. untuk segera merevisi buku Pengantar Sejarah Sastra Indonesia dengan memberi tempat kepada sastrawan-sastrawan Lekra. Dalam buku itu, sastrawan Lekra yang diberi tempat baru Pramoedya Ananta Toer. Padahal Lekra juga memiliki sastrawan-sastrawan dan pemikir-pemikir besar. Makanya, saya melihat ada yang kurang ketika Yudiono menempatkan karya sastra pilihan yang hampir semuanya berisi sastrawan Manikebu, kecuali karya Pramoedya.
Saya pikir, dengan bersikap adil seperti itu, kita sudah sedikit lebih beradab karena tidak menyia-nyiakan kekayaan rohani bangsanya sendiri.

Citayam, 4 September 2009

Kamis, 03 September 2009

A.S. Dharta, Klara Akustia, dan Jogaswara



oleh Asep Sambodja

Kita tahu bahwa tiga nama di atas dimiliki oleh satu orang, yakni Endang Rodji. Tapi, dalam khazanah sastra Indonesia, ketiga nama samaran itu sama-sama menonjol dibandingkan dengan nama asli pemilik ketiga nama samaran itu. Dalam sejarah sastra Indonesia, A.S. Dharta tercatat sebagai orang penting yang mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) bersama Njoto dan M.S. Azhar. Klara Akustia tercatat sebagai penyair yang telah melahirkan kumpulan puisi Rangsang Detik (1957). Sementara Jogaswara mencuat namanya setelah menulis esai “Angkatan ’45 Sudah Mampus”. Esai ini ditulis secara ekspresif, sehingga nada amarah yang meluap-luap sangat terasa. Esai ini masih bisa ditemukan dalam buku Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX yang disusun E. Ulrich Kratz (2000). Selain esai itu, saya tidak menemukan esai Jogaswara yang lain, sehingga tidak bisa menyimpulkan apakah tulisan-tulisan Jogaswara lainnya ditulis secara emosional seperti itu.
Budi Setiyono yang sering berdiskusi dengan A.S. Dharta mengisahkan, ketika menjadi anggota Konstituante, A.S. Dharta dan S. Sudjojono dipecat oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dari keanggotaan Konstituante karena kedapatan berselingkuh. Pelukis Sudjojono menerima pemecatan itu dan menikahi selingkuhannya. Namun, A.S. Dharta memilih bertobat karena telah melakukan “kemesuman burjois” seperti itu. A.S. Dharta juga dicopot jabatannya sebagai Sekjen Lekra dan digantikan oleh Djoebar Ajoeb. Tampak bahwa A.S. Dharta lebih memilih menjadi anggota PKI daripada dipecat.
Sementara Eka Budianta menilai puisi-puisi karya Klara Akustia dalam Rangsang Detik memperlihatkan kepenyairan Klara Akustia yang masih menunjukkan keremajaan. Dengan kata lain puisi-puisinya belum menunjukkan kematangan. A. Teeuw dalam buku Sastra Indonesia Modern II (1989) menilai puisi-puisi yang ditulis oleh sastrawan Lekra mengalami kesulitan untuk mencapai kreasi artistik yang berkualitas, karena cita-cita kebudayaan Lekra yang monolit, yang menempatkan politik sebagai panglima. Teeuw menambahkan, puisi sastrawan Lekra yang bisa diterima oleh masyarakat pembaca adalah puisi-puisi sederhana semacam “Nyi Marsih” karya Klara Akustia.
Puisi “Nyi Marsih” memang terbaca sangat sederhana, berkisah tentang seorang penari Senen yang berasal dari desa. Rumahnya terbakar dan suaminya pergi entah kemana. Akhirnya dia mengadu nasib ke Jakarta dengan menjadi penari. Dia menerima nasibnya seperti itu tanpa mempertimbangkan moral lagi.
Dalam Rangsang Detik tersebut, saya menilai puisi “Rukmanda” yang ditulis Klara Akustia pada 1954, saat ia berusia 30 tahun, memiliki karakter yang kuat. Berikut ini saya kutip puisi “Rukmanda” selengkapnya.

Rukmanda

Sebutkan segala penjara
dan itu adalah aku

Sebutkan segala badai
kepahitan pembuangan
kerinduan pada kecapi
kesunyian malam sepi
kenangan pada Priangan
dan kelayuan dari menanti.

Aku yang telah menghitung
rangkaian detik
berpuluh tahun
aku serahkan segala
pada pesta perlawanan
selama ini jiwa remaja
setiap detak nafas nyawaku
dan kala ini juga diminta
aku nyanyikan “bangunlah kaum terhina”

Aku kini tiada lagi
bersatu dengan bumi tanah air tercinta
tapi lagu aku tamatkan
bersama bintang seminar kelam
dengan debar jantung terakhir
yang melihat fajar bersinar
kelahiran tunas penyambung keremajaanku

Sebutkan segala penjara
dan itu adalah aku
tapi sebutkan juga kesetiaan
kegairahan dan kepahlawanan
itulah aku!


Citayam, 3 September 2009

Rabu, 02 September 2009

Membaca Agam Wispi


oleh Asep Sambodja

paus Jassin! ini propaganda
politik dan puisi satu nadi
kami tidak sembunyi dan pura-pura
mau main di atas angin?

Kutipan puisi di atas memperlihatkan bahwa penyair Agam Wispi tidak memisahkan sastra dengan politik. Justru dia mengatakan bahwa politik dan puisi (sastra) itu satu nadi. Kutipan tersebut terdapat dalam puisi “Pahlawan Munafik” yang ditulis Agam Wispi pada 3 April 1964. Dari kutipan puisi tersebut juga terbaca bahwa Agam Wispi tidak peduli puisi-puisinya disebut sebagai puisi pamflet atau puisi propaganda. Yang jelas, kalau kita membaca puisi-puisi Agam Wispi memang terasa kental ideologinya yang antiimperialisme Amerika.
Tarikh penulisan puisi itu memperlihatkan bahwa puisi itu ditulis satu bulan sebelum Manifes Kebudayaan dilarang oleh Presiden Soekarno. Artinya, pada masa-masa itu polemik antara sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dengan sastrawan Manifes Kebudayaan tengah panas-panasnya. Karena itu, seruan Agam Wispi (yang mewakili sastrawan Lekra) kepada H.B. Jassin (yang mewakili kelompok Manifes Kebudayaan) muncul dalam puisi tersebut.
Membaca 40 puisi Agam Wispi yang terdapat dalam buku Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra Harian Rakjat 1950-1965 yang dihimpun Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan serta 3 puisinya dalam Social Commitment in Literature and The Arts: The Indonesian “Institute of People’s Culture” 1950-1965 karya Keith Foulcher, tampak keberpihakan Agam Wispi kepada kaum proletariat. Ini misalnya terbaca dalam puisi “Tidak Akan Pernah” (yang berisi sejarah perlawanan rakyat Kuba melawan Amerika) dan “Surabaya”—yang demikian impresif. Tidak itu saja, sikap antiimperialisme Amerika juga terbaca dengan jelas. Ini bisa dipahami bahwa puisi-puisi ini ditulis Agam Wispi saat terjadi perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur.
Puisi “Tidak Akan Pernah” sekali lagi memperlihatkan penguasaan yang baik Agam Wispi akan sejarah perjuangan rakyat Kuba di bawah pimpinan Fidel Castro yang menggulingkan penguasa diktator Fulgencio Batista, yang sekaligus merupakan boneka Amerika. Dalam puisi ini, Agam Wispi mendeskripsikan bagaimana seorang pejuang Kuba, Abel Santamaria yang disiksa oleh anak buah Batista dan dicungkil matanya, kemudian bola mata itu diberikan kepada kekasihnya, Hajdee Santamaria. Tragis dan sadis. Namun, di sisi lain, Agam Wispi juga menggambarkan adanya harapan dengan menulis:

dan pada suatu hari
di Pantai Babi
jengki-jengki
diusir seperti babi

Amerika mencoba melakukan invasi dengan melakukan pendaratan di Teluk Babi (dalam puisi Agam Wispi ditulis Pantai Babi) untuk menggulingkan pemerintahan Fidel Castro. Namun, invasi itu bisa digagalkan oleh Castro. Dan kegagalan itu menjadi aib Amerika di mata internasional. Kuba mencap Amerika sebagai agresor, namun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak mengakuinya, karena adanya veto dari Amerika.
Puisi-puisi Agam Wispi termasuk panjang-panjang, terkadang seperti sebuah reportase sebagaimana puisi “Tak Akan Pernah” di atas. Namun, puisi “Surabaya” memperlihatkan bagaimana Agam Wispi sangat menjiwai hidup dan matinya Surabaya. “Tiap kita jumpa Surabaya, aku selalu remaja,” kata Agam Wispi. Ia menggambarkan Surabaya dengan sangat mengesankan, karena puisi tersebut merupakan refleksi panjang Agam Wispi tentang kota Surabaya. Meskipun demikian, tetap saja, dalam puisi tersebut juga muncul sikap politik seorang Agam Wispi yang antiimperialisme Amerika, yang menurutnya merupakan “racun kemerdekaan yang berbungkus kenikmatan hampa”.
Dalam buku Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI Dkk. yang disusun D.S. Moeljanto dan Taufiq Ismail, puisi Agam Wispi yang berjudul “Kisah Tukang Obat Kebudayaan” dimuat dalam buku itu bersama 11 puisi sastrawan Lekra lainnya untuk memperlihatkan “puisi-puisi yang mewakili ide dasar dan gaya penulisan kelompok penyair Lekra/PKI”. Dalam buku itu juga ditulis, “Agam Wispi menuliskan sinisme yang tajam terhadap Manifes Kebudayaan dengan menggunakan metafora tukang obat dan anjing malam.”
Sebenarnya setiap sastrawan berhak menuangkan ide apa saja dalam puisi dan bebas menggunakan gaya penulisannya sesuai dengan pilihannya. Kalau sebuah puisi karya Agam Wispi digeneralisasikan sama dan seragam seperti “Kisah Tukang Obat Kebudayaan” rasanya tidak tepat. Kalau kita baca puisi-puisi Agam Wispi yang terdapat dalam buku Gugur Merah, misalnya, maka tampak sekali keberagaman tema itu.
Sebenarnya pula, apa yang dikritik Agam Wispi dalam puisi-puisinya bukan hanya kelompok Manifes Kebudayaan saja, tapi negara bomber Amerika pun dikritiknya. Dan kritiknya nyaris terus-menerus, tidak sekali saja seperti kritik pada Manikebu. Kutipan puisi di awal tulisan ini juga sebenarnya merupakan kritik terhadap sastrawan-sastrawan Manikebu yang alergi terhadap slogan politik sebagai panglima dan paham realisme sosialis yang berpihak kepada rakyat. Agam Wispi mengatakan kepada sastrawan Manikebu, “Mau main di atas angin?”

Citayam, 2 September 2009

Sabtu, 29 Agustus 2009

Nur Jehan Bersenggama dengan Maut


oleh Asep Sambodja

Kata adalah segala-galanya dalam puisi. Demikianlah kata Sapardi Djoko Damono dalam berbagai kesempatan, baik dalam tulisannya maupun dalam ceramahnya di ruang kuliah. Kata-kata Sapardi Djoko Damono itu sangat melekat dalam ingatan saya. Dan saya menafsirkan bahwa tanpa kata puisi tak berdaya. Kekuatan sebuah puisi bertumpu pada kata. Persoalannya, kata yang seperti apa? Kata yang bagaimana? Nah, di sinilah kreativitas seorang penyair dipertaruhkan.
Seorang Remy Sylado, misalnya, ia sama sekali tidak terlalu memusingkan diri dengan bergelut menaklukkan kata-kata dalam menulis puisi. Ia menggunakan kata-kata yang berseliweran sehari-hari untuk dituangkan ke dalam puisi, sehingga lahirlah puisi-puisi mbeling. Puisi mbeling ini pada awalnya dilecehkan, namun lama-kelamaan, setelah dianalisis secara mendalam ternyata menyimpan makna yang tersirat dalam kelugasan kata-kata dalam puisi mbeling itu.
Satu contoh lagi, Sutardji Calzoum Bachri mencoba membebaskan kata dari beban ide atau makna. Ia menciptakan puisi seperti menulis mantera. Keluar begitu saja. Lepas. Bebas. Ternyata, puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri itu mampu menciptakan maknanya sendiri. Dalam buku Tergantung Pada Kata, A. Teeuw mengatakan bahwa meskipun Sutardji Calzoum Bachri membebaskan kata-katanya, namun dalam penulisan puisi, ia masih mengontrolnya, sehingga ada kepaduan irama. Dalam hal puisi Sutardji Calzoum Bachri ini, saya menilai bahwa puisi Sutardji yang paling dahsyat adalah ketika Sutardji benar-benar memilih kata. Hal ini tampak dalam puisi “Tanah Airmata” yang demikian terjaga kata dan iramanya, sehingga menimbulkan makna yang luar biasa.
Puisi-puisi penyair Nur Jehan yang terhimpun dalam Gelisah Dara memperlihatkan bahwa ia tengah bereksperimen untuk memadukan kata-kata dengan cerita. Ia tengah memadukan puisi dengan prosa. A. Badri AQ. T. yang mengkurasi puisi-puisi Nur Jehan ini sengaja memberi porsi yang cukup besar untuk puisi-puisi prosais dalam buku ini.
Puisi, kita tahu, semakin istimewa jika kita melihatnya “serupa dara di balik tirai”. Jadi, ada yang samar-samar, ada yang tersembunyi, ada sesuatu yang membuat pembaca merasa penasaran ingin mengetahui makna di balik kata-kata itu. Sementara bahasa prosa cenderung memberi penjelasan yang lebih dibandingkan dengan bahasa puisi. Dengan demikian, kerja kreatif Nur Jehan benar-benar dipertaruhkan.
Saya melihat, puisi “Gadis Kecilmu, Lengkap Sudah, Utuh Sudah” memperlihatkan keberhasilan Nur Jehan dalam memadukan hal itu. Ia memadukan kata-kata dan cerita dalam sebuah karya yang utuh. Berikut saya kutip selengkapnya.

Gadis Kecilmu, Lengkap Sudah, Utuh Sudah

coba berjanji untuk memiliki

*hari ini, disini. Ibu, masih ingatkah, putri kecilmu, rambut kepang dua bercelana kodok menari-nari ditengah hujan, tarikan tarian kebebasan teriakkan kenaifan, sayup-sayup kudengar kau memanggilku, “Puan hentikanlah, sudah menggigil tubuhmu, biru bibir dan ujung-ujung jarimu” wajahmu kulihat sangat mengkhawatirkanku, tapi putri kecilmu ini, tetap menari hingga lelah menariknya kembali.

*baju kurung, sunting melayu, Ibu, lihatlah, cantik sekali aku, tapi kau tak sempat menyaksikan peristiwa indah ini, ahh tak mengapa, hadirmu kurasakan begitu dekat, sangat dekat..hingga detak jantungmu seirama denganku.

*di rumah ini, 14 tahun yang lalu. Ibu, masih ingatkah, kau peluk aku dalam hangat dekapanmu, bercerita tentang hidup dan kehidupan, katamu “gadisku, ingatlah pesanku ini sehingga kau menikah nanti, kau tau aku sangat menyayangimu, selalu”, tapi aku tidak mengerti yang kau katakan, katamu tentang cinta, peringatanmu tentang lelaki, bijaksanamu bertemu rupa-rupa, .gadis kecilmu ini, Ibu, hanya tertawa, tanpa mengerti apa.

coba berjanji mengikat hati

*Ibu...ahhh, lelaki itu, ternyata dia memanggilku sedari tadi, menarikku jauh dari ingatanku kepadamu, hangat sekali dia menyentuhku, lelahku, sakitku,air mata dan kerinduanku padamu membuncah meruah tumpah, jauh sudah perjalanan, gadis kecilmu, puan maharanimu, utuh sudah, lengkap sudah.

Hari ini, disini..gadis kecilmu mengikat janji, di pusaramu

Aceh Selatan, Tapaktuan, 26012009

Sebagaimana yang saya katakan di atas, Badri sebagai kurator kumpulan puisi ini memberi porsi yang cukup banyak pada puisi-puisi prosais, sementara Nur Jehan memiliki kekuatan pada puisi yang benar-benar lepas; tidak dikontrol ataupun terkontrol dengan bahasa prosa. Puisi “Malam Pertama” dan “Eureka Metamorfosa” saya pikir memperlihatkan kekuatan kepenyairan Nur Jehan. Dalam kedua puisi itu hampir semua unsur pembangun puisi dihadirkan.
Puisi “Malam Pertama” terasa padu, utuh, dan sempurna. Nur Jehan benar-benar total dalam melahirkan puisi ini. Memang banyak cara dalam menghasilkan sebuah puisi. Tapi, saya sangat yakin bahwa puisi yang baik adalah puisi yang lahir bagitu saja setelah mengalami proses pengendapan di dalam diri kita. Proses pengendapan itu bisa berlangsung lama bisa juga berlangsung sesaat. Situasi semacam ini tidak pernah terumuskan, namun senantiasa terjadi pada setiap penyair.
Puisi “Eureka Metamorfosa” lebih memperlihatkan vitalitas Nur Jehan. Puisi ini terasa lebih lepas, bebas, lebih polos, yang di dalamnya terkandung kejujuran, terasa lebih spontan, seperti tak terkontrol, keluar begitu saja. Lagi-lagi, puisi lahir seperti aliran sungai yang mengalir begitu saja. Dan kita sebagai pembaca sangat menikmati aliran kata-kata itu.
Saya ingin menggarisbawahi bahwa dalam hal kosa kata, Nur Jehan memiliki kekayaan yang luar biasa. Diksi atau pilihan katanya terasa unik. Kekuatan Nur Jehan justru terlihat ketika dia membebaskan kata-kata keluar begitu saja dari hatinya. Berikut ini saya kutip dua puisi Nur Jehan yang menurut saya sangat bagus.

Malam Pertama

cacing tanah, kalajengking, semut menggelitik tubuhku
ular, lipan, kaki seribu, menggodaku manja
aku diam saja
aku sedang tak ingin bercanda
gelap ini membuatku takut
dingin sekali, aku butuh selimut
aku bingung, aku kalut
kulihat diriku
bersenggama dengan maut

Tapaktuan, Aceh Selatan, 14 Maret 2009

Eureka Metamorfosa

Eureka
Eureka

malam, sebuah perbincangan panjang
pelan, tentang hidup dan kehidupan
minumlah minumlah kopi di gelas keempat mu
kau tak pernah mau
hingga aku memaksamu
ayolah ayolah minumlah
tidurmu
lelapmu

mendekatlah
hingga tercium bau tubuhmu
melekatlah
enyah sekat udara pemisah
aku ingin melihatmu
benar-benar melihatmu
telanjang
bukalah
hingga tidak ada selembar kainpun menutupimu
aku ingin menikmati tubuhmu
sendiri
disini

usai sudah malam
tubuh-tubuh telanjang bergerak searak
jiwa-jiwa kosong tak berdimensi
membentuk peradaban dunia
dalam sejarah adam hawa, hingga surga enggan bersamanya
dalam percintaan terlarang cleopatra caesar julius, memerahkan warna sungai nil
ah manusia

luka
derita
terlukis dalam fatwa-fatwa pujanga
pencatat cerita duka

lukaku
kututup rapat luka itu
tak sempat
kau melihatnya
ayolah ayolah bukalah
tertawalah
lepaslah

kau masih ingin bersenggama sayang

rahimku

kenapa rahimmu

serasa ada yang mau keluar

keluarkan saja

mauku
kutahan saja dulu

kau ingin berlama-lama rupanya

biarlah biarlah
ruang lembab dan sembab itu membungkusnya lebih lama lagi
berputar
melingkar

disini
sekali lagi
peradaban manusia menemui bentuknya

tidakkah kau rasakan persetubuhan kemarin ... ada air yang membanjir di sungaimu ... membawa berjuta matrial, penuh mineral
persetubuhan itu, bau keringat tubuhmu masih melekat..saat kita teriakkan

Eureka
Eureka

tidakkah kau sadar ...
metamorfase yang kau lalui ...
telah menjelmakanmu ... serupa kupu2 dengan sayap berokat berkilauan

matahari silaukanku
kilauku
menghilang .. berokat itu
kembali
bentukku yang dulu
kepompong putih berbulu
nyaman sekali
memandang kupu-kupu lain terbang
hinggap di bunga
bercanda di udara
sesekali mereka jatuh ke tanah
tak mengapa
akan ada yang menggapainya

eureka
eureka

bayi kita

Aceh Selatan, Tapaktuan, 27012009


Citayam, 30 Agustus 2009