Jumat, 04 September 2009

Arief Budiman dan "Sastra Kiri yang Kere"


oleh Asep Sambodja

Arief Budiman (Soe Hok Djin) adalah seorang Manikebuis yang insyaf. Ketika masih berumur 22 tahun, ia bersama Goenawan Mohamad, Taufiq Ismail, H.B. Jassin, Wiratmo Soekito dan beberapa seniman lainnya mengeluarkan pernyataan Manifes Kebudayaan yang berpaham humanisme universal pada 17 Agustus 1963 sebagai counter terhadap paham realisme sosialis yang diusung Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Namun, pada 1984, ia menolak keuniversalan dalam sastra.
Dalam artikel “Sastra Kiri yang Kere” yang dimuat dalam buku Perdebatan Sastra Kontekstual yang dihimpun Ariel Heryanto (1985) dan dimuat kembali dalam buku Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965-2005 karya Arief Budiman, tidak ada definisi yang jelas tentang apa itu “sastra kiri” dan tidak ada penjelasan mengenai “kere”-nya sastra kiri. Sebagai pembaca, saya sangat tertarik dengan judul yang ditulis oleh Arief Budiman itu. Namun, ternyata, setelah membaca artikel tersebut, kita baru sadar bahwa yang ditulis Arief Budiman sangat tersirat, sehingga kita harus menafsirkan sendiri apa itu “sastra kiri yang kere” itu.
Saya katakan Arief Budiman insyaf karena setelah sastrawan-sastrawan Lekra dibungkam pasca peristiwa 30 September 1965, ia jarang atau bahkan tidak menemukan lagi karya sastra yang membumi, karya sastra yang berbicara tentang masalah sosial politik, sastra yang berbicara tentang rakyatnya sendiri. Arief Budiman merasakan karya sastra yang diciptakan oleh sastrawan-sastrawan Manikebu sangat kebarat-baratan dan tidak membumi. Pada saat yang hampir bersamaan Emha Ainun Nadjib juga merasakan bahwa sastra Indonesia saat itu bungkam terhadap ketimpangan sosial yang ada di masyarakat.
Karena itu, dalam sebuah sarasehan kesenian di Solo pada 1984, Arief Budiman menggebrak kebuntuan sastra Indonesia dengan konsep sastra kontekstual. Menurut Umar Kayam, istilah sastra kontekstual itu hanyalah retorika Arief Budiman saja. Memang, sejatinya, apa yang dilakukan oleh sastrawan-sastrawan Lekra sebelum Arief Budiman menelurkan istilah itu hakikatnya adalah karya sastra kontekstual juga. Karena, mereka menghasilkan karya sastra dengan terlebih dahulu menghayati kehidupan rakyat atau kehidupan bangsanya sehari-hari. Bahkan dalam konsep berkesenian Lekra, para sastrawan harus mengintegrasikan kehidupannya dengan kehidupan kaum buruh, tani, dan wong cilik lainnya.
Saya akan mengutip pernyataan Arief Budiman yang memperlihatkan “keinsyafannya” bahwa ternyata sastrawan-sastrawan Lekra yang berpaham realisme sosialislah yang karya-karya sastranya membumi—meskipun hal ini tidak tersurat dalam artikel “Sastra Kiri yang Kere” itu. Berikut kutipan selengkapnya:

“Saya menolak nilai universal dalam kesusastraan dan kesenian. Keindahan tidak sama dimana-mana, di sepanjang sejarah. Keindahan terikat pada ruang dan waktu. Untuk masyarakat Jawa, keindahan lain dengan masyarakat Minang. Untuk bangsa Indonesia, keindahan lain dengan bangsa Prancis. Untuk kelas menengah Indonesia, keindahan lain dengan kelas bawah Indonesia. Untuk kelas menengah Indonesia dulu, keindahan lain dengan kelas menengah Indonesia sekarang. Dan seterusnya.
Bagi saya, sastrawan-sastrawan yang mencipta dengan kiblat nilai universal, yang tidak mau mengakui bahwa keindahan bersifat kontekstual, pada kenyataannya menciptakan karya-karya untuk konsumsi kritisi sastra di Negara maju. Tanpa sadar, ukurannya adalah karya-karya sastra pemenang Hadiah Nobel. Tidak heran kalau mereka menjadi orang asing di negerinya sendiri. Akhirnya, mereka cuma dapat memaki-maki rakyat bangsanya sendiri yang dikatakannya kurang terdidik dan tidak dapat mengerti sastra yang bernilai.
Apa yang disebut sebagai keindahan merupakan ekspresi dari totalitas kehidupan. Bagi saya, pertama-tama, orang harus hidup secara penuh dulu. Karena hidupnya yang penuh ini, maka dia mau menyatakannya melalui alat komunikasi apa saja yang mungkin. Bagi saya, bentuk tak penting. Yang utama adalah dia mau menyatakan sesuatu yang berharga, yang berarti bagi hidupnya.
Bagi saya, hidup secara penuh dalam masyarakat Indonesia sekarang adalah terlibat dalam persoalan-persoalan besar bangsa ini. Karena salah satu persoalan besar bangsa ini adalah masalah kemiskinan dan ketidakadilan, maka sangat wajar bila pengarang besar Indonesia terlibat dalam persoalan ini, dan menyatakan dalam karya-karyanya.
Karena itu, kalau saya mengharapkan sastrawan Indonesia berbicara tentang ketimpangan sosial yang ada sekarang ini, pada dasarnya saya memintanya untuk menjadi manusia Indonesia yang terlibat dengan masalah-masalah besar bangsanya dulu, baru menjadi sastrawan. Menjadi sastrawan hanyalah merupakan by product dari menjadi manusia yang utuh, bukan sebaliknya.”

(dikutip dengan sedikit perbaikan dari Perdebatan Sastra Kontekstual, halaman 91-92)

Dari kutipan panjang di atas, serta memperhatikan judul yang digunakan Arief Budiman, saya sama sekali tidak menemukan makna “kere”. Ternyata judul itu berasal dari gurauan saja. Sebab, sarasehan yang digelar di Solo itu dilakukan secara sederhana dan apa adanya, dan bukan merupakan sebuah seminar yang megah seperti yang digelar di Universitas Gadjah Mada (UGM), misalnya. Meskipun demikian, gemanya masih terngiang sampai sekarang.
Sementara “Sastra Kiri” yang tersirat dari artikel itu adalah apa yang menjadi topik persoalan dalam sarasehan itu pernah dilakukan oleh sastrawan-sastrawan Lekra yang berpaham realisme sosialis; yang berpedoman politik sebagai panglima. Artinya, sastrawan-sastrawan Lekra harus mengerti politik dulu baru menulis karya sastra. Dan, untuk mengerti politik, sudah sewajarnya kalau mereka harus berpendidikan tinggi. Makanya, tidak heran kalau seorang sastrawan Lekra seperti D.N. Aidit dan Njoto (Iramani) yang menjadi pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) itu menulis puisi.

Citayam, 5 September 2009

Membaca Sejarah Sastra Yudiono K.S.


oleh Asep Sambodja

Tidak ada tulisan yang netral. Tulisan ini pun mungkin tidak netral juga. Demikian pula dengan karya Yudiono K.S. dalam Pengantar Sejarah Sastra Indonesia yang terbit pada 2007. Dalam buku tersebut, tampak sekali ketidaknetralan itu. Ini, misalnya, dapat dilihat ketika Yudiono K.S. mengungkap sejarah sastra Indonesia tahun 1960-an, terutama dalam bab Masa Pergolakan Sastra Indonesia Tahun 1945-1965.
Dalam buku itu, Yudiono K.S. memposisikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) sebagai “tokoh antagonis” dalam sejarah sastra Indonesia. Seolah-olah yang dilakukan Lekra adalah melulu teror budaya terhadap seniman-seniman yang tidak “seiman” dengan Lekra. Yudiono K.S. menggambarkan Lekra seperti tokoh-tokoh antagonis dalam dongeng-dongeng yang hanya memiliki karakter hitam dan jahat. Yudiono sama sekali tidak membicarakan upaya Lekra memberdayakan kesenian rakyat, misalnya, ataupun karya-karya yang menonjol dari sastrawan Lekra.
Saya memahami bahwa dalam menulis sejarah pun, termasuk menulis sejarah sastra Indonesia, subyektivitas penulisnya akan muncul dengan sendirinya. Kecenderungan Yudiono K.S. yang lebih memihak pada sastrawan-sastrawan Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang berpaham humanisme universal terbawa dalam penulisan sejarah sastra Indonesia tahun 1960-an. Namun, sebagai akademisi, bukankah sebaiknya kita menempatkan diri kita di tempat yang lebih independen, yang mengatasi dua pihak yang tengah berpolemik?
Hal ini memang tidak mudah. Namun, sebaiknya kita sebagai penulis berlaku adil kepada kedua belah pihak. Tidak hanya pada buku Yudiono K.S. saja, dalam beberapa buku sejarah sastra Indonesia, terutama yang menyinggung sejarah sastra Indonesia tahun 1960-an, tampak sekali kita telah memperlakukan sastrawan-sastrawan Lekra secara tidak adil. Kita, misalnya, secara semena-mena mengklaim bahwa Lekra itu PKI. Padahal tidak semua sastrawan Lekra itu anggota PKI. Pramoedya Ananta Toer, misalnya, tidak merasa dirinya komunis.
Setelah peristiwa 30 September 1965, PKI dilarang dan Lekra termasuk lembaga yang diharamkan ada. Karya-karya sastrawan Lekra semuanya dilarang. Akibatnya karya-karya sastrawan Lekra itu lenyap dari publik, lenyap dari buku-buku pelajaran, lenyap dari tanah airnya sendiri. Apa arti semua ini? Artinya, kita kehilangan aset budaya yang luar biasa besarnya. Kita harus merasa rugi bahwa aset budaya yang diproduksi oleh sastrawan-sastrawan Lekra itu dinafikan begitu saja. Sama ruginya ketika kolonial Belanda memboyong naskah-naskah kuno yang ditulis tangan oleh nenek moyang kita ke Leiden, Belanda.
Yudiono K.S. sejatinya memperhatikan hal ini juga. Bahwa karya-karya sastrawan Lekra itu merupakan aset budaya yang disia-siakan oleh pemerintah dan bangsanya sendiri. Saya yakin Yudiono juga tahu bahwa setiap sastrawan merekam segala peristiwa yang ada di lingkungannya ke dalam karya-karyanya. Mereka tidak hanya merekam, tapi juga menyikapi setiap peristiwa yang ada sesuai dengan pemikiran dan keyakinannya. Bisa dibayangkan, berapa banyak sastrawan Lekra yang telah menghasilkan karya sastra, berapa banyak pemikiran mereka yang terekam di dalam karya-karya mereka. Kenapa kita sia-siakan?
Saya mengusulkan kepada Yudiono K.S. untuk segera merevisi buku Pengantar Sejarah Sastra Indonesia dengan memberi tempat kepada sastrawan-sastrawan Lekra. Dalam buku itu, sastrawan Lekra yang diberi tempat baru Pramoedya Ananta Toer. Padahal Lekra juga memiliki sastrawan-sastrawan dan pemikir-pemikir besar. Makanya, saya melihat ada yang kurang ketika Yudiono menempatkan karya sastra pilihan yang hampir semuanya berisi sastrawan Manikebu, kecuali karya Pramoedya.
Saya pikir, dengan bersikap adil seperti itu, kita sudah sedikit lebih beradab karena tidak menyia-nyiakan kekayaan rohani bangsanya sendiri.

Citayam, 4 September 2009

Kamis, 03 September 2009

A.S. Dharta, Klara Akustia, dan Jogaswara



oleh Asep Sambodja

Kita tahu bahwa tiga nama di atas dimiliki oleh satu orang, yakni Endang Rodji. Tapi, dalam khazanah sastra Indonesia, ketiga nama samaran itu sama-sama menonjol dibandingkan dengan nama asli pemilik ketiga nama samaran itu. Dalam sejarah sastra Indonesia, A.S. Dharta tercatat sebagai orang penting yang mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) bersama Njoto dan M.S. Azhar. Klara Akustia tercatat sebagai penyair yang telah melahirkan kumpulan puisi Rangsang Detik (1957). Sementara Jogaswara mencuat namanya setelah menulis esai “Angkatan ’45 Sudah Mampus”. Esai ini ditulis secara ekspresif, sehingga nada amarah yang meluap-luap sangat terasa. Esai ini masih bisa ditemukan dalam buku Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX yang disusun E. Ulrich Kratz (2000). Selain esai itu, saya tidak menemukan esai Jogaswara yang lain, sehingga tidak bisa menyimpulkan apakah tulisan-tulisan Jogaswara lainnya ditulis secara emosional seperti itu.
Budi Setiyono yang sering berdiskusi dengan A.S. Dharta mengisahkan, ketika menjadi anggota Konstituante, A.S. Dharta dan S. Sudjojono dipecat oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dari keanggotaan Konstituante karena kedapatan berselingkuh. Pelukis Sudjojono menerima pemecatan itu dan menikahi selingkuhannya. Namun, A.S. Dharta memilih bertobat karena telah melakukan “kemesuman burjois” seperti itu. A.S. Dharta juga dicopot jabatannya sebagai Sekjen Lekra dan digantikan oleh Djoebar Ajoeb. Tampak bahwa A.S. Dharta lebih memilih menjadi anggota PKI daripada dipecat.
Sementara Eka Budianta menilai puisi-puisi karya Klara Akustia dalam Rangsang Detik memperlihatkan kepenyairan Klara Akustia yang masih menunjukkan keremajaan. Dengan kata lain puisi-puisinya belum menunjukkan kematangan. A. Teeuw dalam buku Sastra Indonesia Modern II (1989) menilai puisi-puisi yang ditulis oleh sastrawan Lekra mengalami kesulitan untuk mencapai kreasi artistik yang berkualitas, karena cita-cita kebudayaan Lekra yang monolit, yang menempatkan politik sebagai panglima. Teeuw menambahkan, puisi sastrawan Lekra yang bisa diterima oleh masyarakat pembaca adalah puisi-puisi sederhana semacam “Nyi Marsih” karya Klara Akustia.
Puisi “Nyi Marsih” memang terbaca sangat sederhana, berkisah tentang seorang penari Senen yang berasal dari desa. Rumahnya terbakar dan suaminya pergi entah kemana. Akhirnya dia mengadu nasib ke Jakarta dengan menjadi penari. Dia menerima nasibnya seperti itu tanpa mempertimbangkan moral lagi.
Dalam Rangsang Detik tersebut, saya menilai puisi “Rukmanda” yang ditulis Klara Akustia pada 1954, saat ia berusia 30 tahun, memiliki karakter yang kuat. Berikut ini saya kutip puisi “Rukmanda” selengkapnya.

Rukmanda

Sebutkan segala penjara
dan itu adalah aku

Sebutkan segala badai
kepahitan pembuangan
kerinduan pada kecapi
kesunyian malam sepi
kenangan pada Priangan
dan kelayuan dari menanti.

Aku yang telah menghitung
rangkaian detik
berpuluh tahun
aku serahkan segala
pada pesta perlawanan
selama ini jiwa remaja
setiap detak nafas nyawaku
dan kala ini juga diminta
aku nyanyikan “bangunlah kaum terhina”

Aku kini tiada lagi
bersatu dengan bumi tanah air tercinta
tapi lagu aku tamatkan
bersama bintang seminar kelam
dengan debar jantung terakhir
yang melihat fajar bersinar
kelahiran tunas penyambung keremajaanku

Sebutkan segala penjara
dan itu adalah aku
tapi sebutkan juga kesetiaan
kegairahan dan kepahlawanan
itulah aku!


Citayam, 3 September 2009

Rabu, 02 September 2009

Membaca Agam Wispi


oleh Asep Sambodja

paus Jassin! ini propaganda
politik dan puisi satu nadi
kami tidak sembunyi dan pura-pura
mau main di atas angin?

Kutipan puisi di atas memperlihatkan bahwa penyair Agam Wispi tidak memisahkan sastra dengan politik. Justru dia mengatakan bahwa politik dan puisi (sastra) itu satu nadi. Kutipan tersebut terdapat dalam puisi “Pahlawan Munafik” yang ditulis Agam Wispi pada 3 April 1964. Dari kutipan puisi tersebut juga terbaca bahwa Agam Wispi tidak peduli puisi-puisinya disebut sebagai puisi pamflet atau puisi propaganda. Yang jelas, kalau kita membaca puisi-puisi Agam Wispi memang terasa kental ideologinya yang antiimperialisme Amerika.
Tarikh penulisan puisi itu memperlihatkan bahwa puisi itu ditulis satu bulan sebelum Manifes Kebudayaan dilarang oleh Presiden Soekarno. Artinya, pada masa-masa itu polemik antara sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dengan sastrawan Manifes Kebudayaan tengah panas-panasnya. Karena itu, seruan Agam Wispi (yang mewakili sastrawan Lekra) kepada H.B. Jassin (yang mewakili kelompok Manifes Kebudayaan) muncul dalam puisi tersebut.
Membaca 40 puisi Agam Wispi yang terdapat dalam buku Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra Harian Rakjat 1950-1965 yang dihimpun Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan serta 3 puisinya dalam Social Commitment in Literature and The Arts: The Indonesian “Institute of People’s Culture” 1950-1965 karya Keith Foulcher, tampak keberpihakan Agam Wispi kepada kaum proletariat. Ini misalnya terbaca dalam puisi “Tidak Akan Pernah” (yang berisi sejarah perlawanan rakyat Kuba melawan Amerika) dan “Surabaya”—yang demikian impresif. Tidak itu saja, sikap antiimperialisme Amerika juga terbaca dengan jelas. Ini bisa dipahami bahwa puisi-puisi ini ditulis Agam Wispi saat terjadi perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur.
Puisi “Tidak Akan Pernah” sekali lagi memperlihatkan penguasaan yang baik Agam Wispi akan sejarah perjuangan rakyat Kuba di bawah pimpinan Fidel Castro yang menggulingkan penguasa diktator Fulgencio Batista, yang sekaligus merupakan boneka Amerika. Dalam puisi ini, Agam Wispi mendeskripsikan bagaimana seorang pejuang Kuba, Abel Santamaria yang disiksa oleh anak buah Batista dan dicungkil matanya, kemudian bola mata itu diberikan kepada kekasihnya, Hajdee Santamaria. Tragis dan sadis. Namun, di sisi lain, Agam Wispi juga menggambarkan adanya harapan dengan menulis:

dan pada suatu hari
di Pantai Babi
jengki-jengki
diusir seperti babi

Amerika mencoba melakukan invasi dengan melakukan pendaratan di Teluk Babi (dalam puisi Agam Wispi ditulis Pantai Babi) untuk menggulingkan pemerintahan Fidel Castro. Namun, invasi itu bisa digagalkan oleh Castro. Dan kegagalan itu menjadi aib Amerika di mata internasional. Kuba mencap Amerika sebagai agresor, namun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak mengakuinya, karena adanya veto dari Amerika.
Puisi-puisi Agam Wispi termasuk panjang-panjang, terkadang seperti sebuah reportase sebagaimana puisi “Tak Akan Pernah” di atas. Namun, puisi “Surabaya” memperlihatkan bagaimana Agam Wispi sangat menjiwai hidup dan matinya Surabaya. “Tiap kita jumpa Surabaya, aku selalu remaja,” kata Agam Wispi. Ia menggambarkan Surabaya dengan sangat mengesankan, karena puisi tersebut merupakan refleksi panjang Agam Wispi tentang kota Surabaya. Meskipun demikian, tetap saja, dalam puisi tersebut juga muncul sikap politik seorang Agam Wispi yang antiimperialisme Amerika, yang menurutnya merupakan “racun kemerdekaan yang berbungkus kenikmatan hampa”.
Dalam buku Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI Dkk. yang disusun D.S. Moeljanto dan Taufiq Ismail, puisi Agam Wispi yang berjudul “Kisah Tukang Obat Kebudayaan” dimuat dalam buku itu bersama 11 puisi sastrawan Lekra lainnya untuk memperlihatkan “puisi-puisi yang mewakili ide dasar dan gaya penulisan kelompok penyair Lekra/PKI”. Dalam buku itu juga ditulis, “Agam Wispi menuliskan sinisme yang tajam terhadap Manifes Kebudayaan dengan menggunakan metafora tukang obat dan anjing malam.”
Sebenarnya setiap sastrawan berhak menuangkan ide apa saja dalam puisi dan bebas menggunakan gaya penulisannya sesuai dengan pilihannya. Kalau sebuah puisi karya Agam Wispi digeneralisasikan sama dan seragam seperti “Kisah Tukang Obat Kebudayaan” rasanya tidak tepat. Kalau kita baca puisi-puisi Agam Wispi yang terdapat dalam buku Gugur Merah, misalnya, maka tampak sekali keberagaman tema itu.
Sebenarnya pula, apa yang dikritik Agam Wispi dalam puisi-puisinya bukan hanya kelompok Manifes Kebudayaan saja, tapi negara bomber Amerika pun dikritiknya. Dan kritiknya nyaris terus-menerus, tidak sekali saja seperti kritik pada Manikebu. Kutipan puisi di awal tulisan ini juga sebenarnya merupakan kritik terhadap sastrawan-sastrawan Manikebu yang alergi terhadap slogan politik sebagai panglima dan paham realisme sosialis yang berpihak kepada rakyat. Agam Wispi mengatakan kepada sastrawan Manikebu, “Mau main di atas angin?”

Citayam, 2 September 2009

Sabtu, 29 Agustus 2009

Nur Jehan Bersenggama dengan Maut


oleh Asep Sambodja

Kata adalah segala-galanya dalam puisi. Demikianlah kata Sapardi Djoko Damono dalam berbagai kesempatan, baik dalam tulisannya maupun dalam ceramahnya di ruang kuliah. Kata-kata Sapardi Djoko Damono itu sangat melekat dalam ingatan saya. Dan saya menafsirkan bahwa tanpa kata puisi tak berdaya. Kekuatan sebuah puisi bertumpu pada kata. Persoalannya, kata yang seperti apa? Kata yang bagaimana? Nah, di sinilah kreativitas seorang penyair dipertaruhkan.
Seorang Remy Sylado, misalnya, ia sama sekali tidak terlalu memusingkan diri dengan bergelut menaklukkan kata-kata dalam menulis puisi. Ia menggunakan kata-kata yang berseliweran sehari-hari untuk dituangkan ke dalam puisi, sehingga lahirlah puisi-puisi mbeling. Puisi mbeling ini pada awalnya dilecehkan, namun lama-kelamaan, setelah dianalisis secara mendalam ternyata menyimpan makna yang tersirat dalam kelugasan kata-kata dalam puisi mbeling itu.
Satu contoh lagi, Sutardji Calzoum Bachri mencoba membebaskan kata dari beban ide atau makna. Ia menciptakan puisi seperti menulis mantera. Keluar begitu saja. Lepas. Bebas. Ternyata, puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri itu mampu menciptakan maknanya sendiri. Dalam buku Tergantung Pada Kata, A. Teeuw mengatakan bahwa meskipun Sutardji Calzoum Bachri membebaskan kata-katanya, namun dalam penulisan puisi, ia masih mengontrolnya, sehingga ada kepaduan irama. Dalam hal puisi Sutardji Calzoum Bachri ini, saya menilai bahwa puisi Sutardji yang paling dahsyat adalah ketika Sutardji benar-benar memilih kata. Hal ini tampak dalam puisi “Tanah Airmata” yang demikian terjaga kata dan iramanya, sehingga menimbulkan makna yang luar biasa.
Puisi-puisi penyair Nur Jehan yang terhimpun dalam Gelisah Dara memperlihatkan bahwa ia tengah bereksperimen untuk memadukan kata-kata dengan cerita. Ia tengah memadukan puisi dengan prosa. A. Badri AQ. T. yang mengkurasi puisi-puisi Nur Jehan ini sengaja memberi porsi yang cukup besar untuk puisi-puisi prosais dalam buku ini.
Puisi, kita tahu, semakin istimewa jika kita melihatnya “serupa dara di balik tirai”. Jadi, ada yang samar-samar, ada yang tersembunyi, ada sesuatu yang membuat pembaca merasa penasaran ingin mengetahui makna di balik kata-kata itu. Sementara bahasa prosa cenderung memberi penjelasan yang lebih dibandingkan dengan bahasa puisi. Dengan demikian, kerja kreatif Nur Jehan benar-benar dipertaruhkan.
Saya melihat, puisi “Gadis Kecilmu, Lengkap Sudah, Utuh Sudah” memperlihatkan keberhasilan Nur Jehan dalam memadukan hal itu. Ia memadukan kata-kata dan cerita dalam sebuah karya yang utuh. Berikut saya kutip selengkapnya.

Gadis Kecilmu, Lengkap Sudah, Utuh Sudah

coba berjanji untuk memiliki

*hari ini, disini. Ibu, masih ingatkah, putri kecilmu, rambut kepang dua bercelana kodok menari-nari ditengah hujan, tarikan tarian kebebasan teriakkan kenaifan, sayup-sayup kudengar kau memanggilku, “Puan hentikanlah, sudah menggigil tubuhmu, biru bibir dan ujung-ujung jarimu” wajahmu kulihat sangat mengkhawatirkanku, tapi putri kecilmu ini, tetap menari hingga lelah menariknya kembali.

*baju kurung, sunting melayu, Ibu, lihatlah, cantik sekali aku, tapi kau tak sempat menyaksikan peristiwa indah ini, ahh tak mengapa, hadirmu kurasakan begitu dekat, sangat dekat..hingga detak jantungmu seirama denganku.

*di rumah ini, 14 tahun yang lalu. Ibu, masih ingatkah, kau peluk aku dalam hangat dekapanmu, bercerita tentang hidup dan kehidupan, katamu “gadisku, ingatlah pesanku ini sehingga kau menikah nanti, kau tau aku sangat menyayangimu, selalu”, tapi aku tidak mengerti yang kau katakan, katamu tentang cinta, peringatanmu tentang lelaki, bijaksanamu bertemu rupa-rupa, .gadis kecilmu ini, Ibu, hanya tertawa, tanpa mengerti apa.

coba berjanji mengikat hati

*Ibu...ahhh, lelaki itu, ternyata dia memanggilku sedari tadi, menarikku jauh dari ingatanku kepadamu, hangat sekali dia menyentuhku, lelahku, sakitku,air mata dan kerinduanku padamu membuncah meruah tumpah, jauh sudah perjalanan, gadis kecilmu, puan maharanimu, utuh sudah, lengkap sudah.

Hari ini, disini..gadis kecilmu mengikat janji, di pusaramu

Aceh Selatan, Tapaktuan, 26012009

Sebagaimana yang saya katakan di atas, Badri sebagai kurator kumpulan puisi ini memberi porsi yang cukup banyak pada puisi-puisi prosais, sementara Nur Jehan memiliki kekuatan pada puisi yang benar-benar lepas; tidak dikontrol ataupun terkontrol dengan bahasa prosa. Puisi “Malam Pertama” dan “Eureka Metamorfosa” saya pikir memperlihatkan kekuatan kepenyairan Nur Jehan. Dalam kedua puisi itu hampir semua unsur pembangun puisi dihadirkan.
Puisi “Malam Pertama” terasa padu, utuh, dan sempurna. Nur Jehan benar-benar total dalam melahirkan puisi ini. Memang banyak cara dalam menghasilkan sebuah puisi. Tapi, saya sangat yakin bahwa puisi yang baik adalah puisi yang lahir bagitu saja setelah mengalami proses pengendapan di dalam diri kita. Proses pengendapan itu bisa berlangsung lama bisa juga berlangsung sesaat. Situasi semacam ini tidak pernah terumuskan, namun senantiasa terjadi pada setiap penyair.
Puisi “Eureka Metamorfosa” lebih memperlihatkan vitalitas Nur Jehan. Puisi ini terasa lebih lepas, bebas, lebih polos, yang di dalamnya terkandung kejujuran, terasa lebih spontan, seperti tak terkontrol, keluar begitu saja. Lagi-lagi, puisi lahir seperti aliran sungai yang mengalir begitu saja. Dan kita sebagai pembaca sangat menikmati aliran kata-kata itu.
Saya ingin menggarisbawahi bahwa dalam hal kosa kata, Nur Jehan memiliki kekayaan yang luar biasa. Diksi atau pilihan katanya terasa unik. Kekuatan Nur Jehan justru terlihat ketika dia membebaskan kata-kata keluar begitu saja dari hatinya. Berikut ini saya kutip dua puisi Nur Jehan yang menurut saya sangat bagus.

Malam Pertama

cacing tanah, kalajengking, semut menggelitik tubuhku
ular, lipan, kaki seribu, menggodaku manja
aku diam saja
aku sedang tak ingin bercanda
gelap ini membuatku takut
dingin sekali, aku butuh selimut
aku bingung, aku kalut
kulihat diriku
bersenggama dengan maut

Tapaktuan, Aceh Selatan, 14 Maret 2009

Eureka Metamorfosa

Eureka
Eureka

malam, sebuah perbincangan panjang
pelan, tentang hidup dan kehidupan
minumlah minumlah kopi di gelas keempat mu
kau tak pernah mau
hingga aku memaksamu
ayolah ayolah minumlah
tidurmu
lelapmu

mendekatlah
hingga tercium bau tubuhmu
melekatlah
enyah sekat udara pemisah
aku ingin melihatmu
benar-benar melihatmu
telanjang
bukalah
hingga tidak ada selembar kainpun menutupimu
aku ingin menikmati tubuhmu
sendiri
disini

usai sudah malam
tubuh-tubuh telanjang bergerak searak
jiwa-jiwa kosong tak berdimensi
membentuk peradaban dunia
dalam sejarah adam hawa, hingga surga enggan bersamanya
dalam percintaan terlarang cleopatra caesar julius, memerahkan warna sungai nil
ah manusia

luka
derita
terlukis dalam fatwa-fatwa pujanga
pencatat cerita duka

lukaku
kututup rapat luka itu
tak sempat
kau melihatnya
ayolah ayolah bukalah
tertawalah
lepaslah

kau masih ingin bersenggama sayang

rahimku

kenapa rahimmu

serasa ada yang mau keluar

keluarkan saja

mauku
kutahan saja dulu

kau ingin berlama-lama rupanya

biarlah biarlah
ruang lembab dan sembab itu membungkusnya lebih lama lagi
berputar
melingkar

disini
sekali lagi
peradaban manusia menemui bentuknya

tidakkah kau rasakan persetubuhan kemarin ... ada air yang membanjir di sungaimu ... membawa berjuta matrial, penuh mineral
persetubuhan itu, bau keringat tubuhmu masih melekat..saat kita teriakkan

Eureka
Eureka

tidakkah kau sadar ...
metamorfase yang kau lalui ...
telah menjelmakanmu ... serupa kupu2 dengan sayap berokat berkilauan

matahari silaukanku
kilauku
menghilang .. berokat itu
kembali
bentukku yang dulu
kepompong putih berbulu
nyaman sekali
memandang kupu-kupu lain terbang
hinggap di bunga
bercanda di udara
sesekali mereka jatuh ke tanah
tak mengapa
akan ada yang menggapainya

eureka
eureka

bayi kita

Aceh Selatan, Tapaktuan, 27012009


Citayam, 30 Agustus 2009

Kamis, 27 Agustus 2009

Wiji Thukul Layak Dapat Bakrie Award 2010



oleh Asep Sambodja

Penyair Wiji Thukul layak mendapat penghargaan Bakrie Award 2010. Setidaknya ada dua alasan kenapa Wiji Thukul layak mendapatkan penghargaan sastra yang cukup bergengsi itu. Pertama, Wiji Thukul mengembangkan konsep berkesenian sastra perlawanan, yang secara tidak langsung mewarisi sikap berkesenian Mas Marco Kartodikromo, Semaoen, dan Cak Durasim yang melawan kolonial melalui sastra dan seni. Sastra perlawanan yang dikembangkan Wiji Thukul tersebut dapat diartikan sebagai perlawanan terhadap ketidakadilan maupun perlawanan terhadap rezim diktator.
Kedua, cara Wiji Thukul mengembangkan sastra perlawanan di era sastra modern adalah dengan menggunakan kata-kata yang lugas, kata-kata yang berisi. Karya-karya Wiji Thukul bukanlah karya sastra klangenan. Dia tidak sekadar membuat puisi untuk menghibur pembaca, melainkan ada sikap dan pesan yang jelas yang ingin disampaikan Wiji Thukul melalui karya-karyanya.
Sikap berkesenian Wiji Thukul tersebut tidak main-main. Dia menulis dengan sepenuh jiwa. Dia bukan penyair sekadar. Dia penyair yang benar-benar menghayati kehidupannya untuk diekspresikan melalui puisi. Bahkan, ia berani mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan sebuah puisi. Sehingga semua tahu bahwa penyair Wiji Thukul hilang di tanah airnya sendiri.
Melihat sepak terjang penyair Wiji Thukul seperti itu, saya menilai Wiji Thukul layak menerima Bakrie Award 2010, yang bisa diterima secara in absentia, mengingat Wiji Thukul hingga sekarang masih belum bisa diziarahi. Masih hilang.

Citayam, 28 Agustus 2009

Rabu, 10 Juni 2009

Kebijaksanaan Hidup adalah Ra ra ra: Pembacaan "Khotbah" Rendra dalam Tiga Perspektif



KHOTBAH
karya Rendra

Fantastis.
Di satu Minggu siang yang panas
di gereja yang penuh orangnya
seorang padri muda berdiri di mimbar.
Wajahnya molek dan suci
matanya manis seperti mata kelinci
dan ia mengangkat kedua tangannya
lalu berkata:
“Sekarang kita bubaran.
Hari ini khotbah tak ada.”

Orang-orang tidak beranjak.
Mereka tetap duduk rapat berdesak.
Ada juga banyak yang berdiri.

Mereka kaku. Tak mau bergerak
Mata mereka menatap bertanya-tanya.
Mulut mereka menganga
berhenti berdoa
tapi ingin benar mendengar.
Kemudian dengan serentak mereka mengesah
dan berbareng dengan suara aneh dari mulut mereka
tersebarlah bau keras
yang perlu dicegah dengan segera.

“Lihatlah aku masih muda.
Biarlah aku menjaga sukmaku.
Silakan bubar.
Ijinkan aku memuliakan kesucian.
Aku akan kembali ke biara
merenungkan keindahan Ilahi.”

Orang-orang kembali mengesah.
Tidak beranjak.
Wajah mereka nampak sengsara.
Mata mereka bertanya-tanya.
Mulut mereka menganga
sangat butuh mendengar.
“Orang-orang ini minta pedoman. Astaga.
Tuhanku, kenapa di saat ini kautinggalkan daku.
Sebagai sekelompok serigala yang malas dan lapar
mereka mengangakan mulut mereka.
Udara panas. Dan aku terkencing di celana.
Bapak. Bapak. Kenapa kautinggalkan daku.”

Orang-orang tidak beranjak.
Wajah mereka basah.
Rambut mereka basah.
Seluruh tubuh mereka basah.
Keringat berkucuran di lantai
kerna udara yang panas
dan kesengsaraan mereka yang tegang.
Baunya busuk luar biasa.
Dan pertanyaan-pertanyaan mereka pun berbau busuk juga.

“Saudara-saudaraku, para anak Bapak di sorga.
Inilah khotbahku.
Ialah khotbahku yang pertama.
Hidup memang berat.
Gelap dan berat.
Kesengsaraan banyak jumlahnya.
Maka dalam hal ini
kebijaksanaan hidup adalah ra-ra-ra.
Ra-ra-ra, hum-pa-pa, ra-ra-ra.

Tengoklah kebijaksanaan kadal
makhluk Tuhan yang juga dicintai-Nya.
Meniaraplah ke bumi.
Kerna, lihatlah:
Sukamamu terjepit di antara batu-batu.
Hijau.
Lumutan.
Sebagai kadal ra-ra-ra.
sebagai ketonggeng hum-pa-pa.”

Orang-orang serentak bersuara:
Ra-ra-ra. Hum-pa-pa.
Dengan gemuruh bersuara seluruh isi gereja.
Ra-ra-ra. Hum-pa-pa.

“Kepada kaum lelaki yang suka senapan
yang memasang panji-panji kebenaran di mata bayonetnya
aku minta dicamkan
bahwa lu-lu-lu, la-li-lo-lu.
Angkatlah hidungmu tinggi-tinggi
agar tak kaulihat siapa yang kaupijak.
Kerna begitulah li-li-li, la-li-lo-lu.
Bersihkan darah dari tanganmu
agar aku tak gemetar
lali kita bisa duduk minum the
sambil ngomong tentang derita masyarakat
atau hakekat hidup dan mati.
Hidup penih sengsara dan dosa.
Hidup adalah tipu muslihat.
La-la-la, li-li-li, la-li-lo-lu.
Jadi marilah kita tembak matahari.
Kita bidik setepat-tepatnya.”

Dengan gembira orang-orang menyambut bersama:
La-la-la, li-li-li, la-li-lo-lu.
Mereka berdiri. Menghentakkan kaki ke lantai.
Berderap serentak dan seirama.
Suara mereka bersatu:
La-la-la, li-li-li, la-li-lo-lu.
Hanyut dalam persatuan yang kuat
mereka berteriak bersama
persis dan seirama:

La-la-la, lil-li-li, la-li-lo-lu.

“Maka kini kita telah hidup kembali.
Darah terasa mengalir dengan derasnya.
Di kepala. Di leher. Di dada.
Di perut. Dan di bagian tubuh lainnya.
Lihatlah, oleh hidup jari-jariku gemetar.
Darah itu bong-bong-bong.
Darah hidup bang-bing-bong.
Darah hidup bersama bang-bing-bong-bong.
Hidup berama-ramai.
Darah bergaul dengan darah.
Bong-bong-bong. Bang-bing-bong.”

Orang-orang meledakkan gairah hidupnya.
Mereka berdiri di atas bangku-bangku gereja.
Berderap-derap dengan kaki mereka.
Genta-genta, orgel, daun-daun pintu, kaca-kaca jendela,
semua dipalu dan dibunyikan.
Dalam satu irama.
Diiringi sorak gembira:
Bong-bong-bong. Bang-bing-bong.

Cinta harus kita muliakan.
Cinta di belukar.
Cinta di took Arab.
Cinta di belakang halaman gereja.
Cinta itu persatuan dan tra-la-la.
Tra-la-la. La-la-la. Tra-la-la.
Sebagi rumputan
kita harus berkembang biak
dalam persatuan dan cinta.
Marilah kita melumatkan diri.
Marilah kita bernaung di bawah rumputan.
Sebagaimana pedoman kita:
“Tra-la-la. La-la-la. Tra-la-la.’
Seluruh isi gereja gemuruh.
Mereka mulai menari. Mengikuti satu irama.
Mereka saling menggosok-gosokkan tubuh mereka.

Lelaki dengan wanita. Lelaki dengan lelaki.
Wanita dengan wanita. Saling menggosok-gosokkan tubuhnya.
Dan ada juga yang menggosok-gosokkan tubuhnya ke tembok gereja.
Dan dengan suara menggigil yang ganjil
mereka melengking dengan serempak.
Tra-la-la. La-la-la. Tra-la-la.

“Melewati Nabi Musa yang keramat
Tuhan telah berkata:
Jangan engkau mencuri.
Pegawai kecil jangan mencuri tulang-tulang ayam goring.
Para pembesar jangan mencuri bensin.

Dan gadis jangan mencuri perawannya sendiri.
Tentu, bahwa mencuri dan mencuri ada bedanya.
Artinya: Cha-cha-cha, cha-cha-cha.
Semua barang dari Tuhan.
Harus dibagi bersama.
Semua milik semua.
Semua untuk semua.
Kita harus bersatu. Kita untuk kita.
Cha-cha-cha, cha-cha-cha.
Inilah pedomannya.”

Sebagai binatang orang-orang bersorak:
Grrr-grrr-hura. Hura.
Cha-cha-cha, Cha-cha-cha.
Mereka copoti daun-daun jendela.
Mereka ambil semua isi gereja.
Candelabra-candelabra. Tirai-tirai. Permadani-permadani.
Barang-barang perak. Dan patung-patung berhiaskan permata.
Cha-cha-cha, begitu nyanyi mereka.
Cha-cha-cha, berulang-ulang diserukan.
Seluruh gereja rontok.
Cha-cha-cha.
Binatang-binantang yang basah berkeringat dan deras napasnya
Berlarian kian ke mari.
Cha-cha-cha. Cha-cha-cha.
Lalu tiba-tiba terdengar lengking jerit perempuan tua:
“Aku lapar. Lapaar. Lapaaar.”
Tiba-tiba semua juga merasa lapar.
Mata mereka menyala.
Dan mereka tetap bersuara cha-cha-cha.
“Sebab sudah mulai lapar
marilah kita bubaran.
Ayo, bubar. Semua berhenti.”

Cha-cha-cha, kata mereka
dan mata mereka menyala.
“Kita bubar.
Upacara dan khotbah telah selesai.”

Cha-cha-cha, kata mereka.
Mereka tidak berhenti.
Mereka mendesak maju.
Gereja rusak. Dan mata mereka menyala.

“Astaga. Ingatlah penderitaan Kristus.
Kita semua putra-putranya yang mulia.
Lapar harus diatasi dengan kebijaksanaan.”

Cha-cha-cha.
Mereka maju menggasak mimbar.
Cha-cha-cha.
Mereka seret padri itu dari mimbar.
Cha-cha-cha.
Mereka robek-robek jubahnya.
Cha-cha-cha.
Seorang perempuan gemuk mencium mulutnya yang bagus.
Seorang perempuan tua menjilati dadanya yang bersih.
Dan gadis-gadis menarik kedua kakinya.
Cha-cha-cha.
Begitulah perempuan-perempuan itu memperkosanya beramai-ramai.
Cha-cha-cha.
Lalu tubuhnya dicincang.
Semua orang makan dagingnya. Cha-cha-cha.
Dengan persatuan yang kuat mereka berpesta.
Mereka minum darahnya.
Mereka hisap sungsum tulangnya.
Sempurna habis ia dimakan.
Tak ada lagi yang sisa.
Fantastis.


Perspektif Rissa Yulia P.
Puisi yang berjudul “Khotbah” ini merupakan puisi yang bernuansa religius, tepatnya bernuansa Katholik. Hal ini dapat dilihat dari latar puisi, yakni gereja. Nuansa Katholik itu sendiri dapat diketahui dari status Rendra, yang pada saat menulis puisi ini adalah penganut agama Katholik. Dalam puisinya ini, Rendra menggambarkan sebuah huru-hara yang terjadi dalam suatu kebaktian di gereja. Huru-hara tersebut adalah kerusuhan yang ditimbulkan oleh jemaat yang mendadak berubah ganjil dan liar, seperti orang yang kesurupan. Mereka merusak gereja dan berubah menjadi gila dengan bernyanyi-nyanyi tidak keruan. Kekacauan ini berakhir dengan dibunuhnya seorang padri muda oleh para jemaat, dengan cara yang sadis. Rendra melukiskannya sebagai “pesta kanibal”, yakni berubahnya para jemaat menjadi manusia kanibal yang beramai-ramai memangsa padri muda, dari daging, darah, dan bahkan sumsum tulangnya.
Peristiwa itu sejatinya merupakan sebuah kiasan. Dalam puisi ini Rendra mencoba menyampaikan suatu keadaan dimana tidak terpenuhinya kebutuhan spiritual berupa pemahaman ilmu agama yang menjadi pedoman hidup dapat menimbulkan rasa tidak puas dan berontak. Dalam puisi ini, sang padri yang merupakan pemuka agama tidak berhasil memenuhi kebutuhan spiritual jemaat melalui khotbahnya, sehingga jemaat berontak. Pemberontakan ini digambarkan dengan berubahnya jemaat menjadi orang-orang yang liar dan tidak terkendali. Hal ini sesuai dengan hukum alam, yakni ketika seseorang tidak memahami ajaran agama dengan baik, dan bahkan merasa tidak puas terhadap ajaran agama itu, maka orang itu akan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang. Dengan kata lain, orang-orang itu tidak memiliki pedoman hidup, sehingga hidup mereka menjadi kacau. Kemudian peristiwa dibunuhnya sang padri, makna yang sesungguhnya adalah bahwa jemaat tak lagi mau mendengarkan sang padri. Dengan kata lain, mereka menganggap sang padri sudah mati dan khotbahnya tidak lebih dari sampah. Mereka tidak lagi memegang teguh ajaran Kristus seperti yang selalu diserukan sang padri dalam khotbah-khotbahnya.
Rendra menyampaikan maksud yang terkandung dalam puisi ini dengan menggunakan kata-kata yang memikat dan unik. Rendra bahkan menyisipkan kombinasi huruf yang apabila dibaca akan kedengaran seperti bunyi–bunyian yang mirip nyanyian, misalnya ra-ra-ra, hum-pa-pa, cha-cha-cha, tra-la-la, dan sebagainya, untuk menambah keindahan puisi. Rendra juga menggunakan kata-kata kiasan yang berapi-api untuk memperkuat makna puisi, seperti yang tercantum dalam cuplikan kalimat dari bait berikut ini:
Lalu tubuhnya dicincang.Semua orang makan dagingnya. Cha-cha-cha.Dengan persatuan yang kuat mereka berpesta.Mereka minum darahnya.Mereka hisap sumsum tulangnya.
Kemudian untuk memperkuat nuansa religius yang dimuat dalam puisi, Rendra tidak lupa memasukkan beberapa kata seperti gereja, para anak Bapak di sorga, dan Kristus.
Di dalam puisi ini Rendra juga menggunakan majas metafora, seperti yang terdapat pada kata kebijaksanaan kadal. Kemudian terdapat majas personifikasi, yang dapat dilihat pada kalimat mata mereka menyala.
Menurut saya, puisi berjudul “Khotbah” ini merupakan salah satu puisi yang menarik. Daya tarik paling utama dari puisi adalah keindahan kata-katanya, yang dapat menyatukan kesan sadis dan konyol sekaligus. Rendra mencoba untuk menyampaikan puisinya dengan gaya bahasa yang unik, terkadang menyelipkan majas sarkasme, seperti dalam kalimat lalu tubuhnya dicincang. Kemudian kesan konyol dapat dilihat dari kata-kata seperti cinta di belukar, cinta di toko Arab dan cinta di belakang halaman gereja.Poin berikutnya yang tidak kalah menarik adalah keberanian Rendra menulis puisi yang mengangkat tema religius, namun berisi pemberontakan di dalamnya. Setelah membaca puisi ini dan mencoba memahami maknanya, saya menangkap kesan bahwa tingkah para jemaat mencerminkan keraguan terhadap ajaran Kristus. Dalam puisi ini diceritakan para jemaat sangat membutuhkan pemahaman mendalam terhadap keyakinannya, namun tidak terpenuhi. Akibatnya mereka lepas kendali dan memberontak, karena tidak memiliki pedoman hidup. Pemberontakan ini diakhiri dengan tidak dihiraukannya lagi apa yang diperintahkan oleh ajaran agama tersebut.
Mencermati kata demi kata ketika membaca puisi ini membuat saya berpikir bahwa puisi ini merupakan gambaran atas pergolakan batin Rendra sendiri terhadap Katholik. Seakan-akan Rendra mempertanyakan apakah keyakinannya ini benar-benar dapat dijadikan pedoman hidup atau tidak. Rendra menyelipkan kata pedoman dalam puisinya, seperti yang terdapat dalam bait berikut:
“Orang-orang ini minta pedoman. Astaga.Tuhanku, kenapa di saat ini kautinggalkan daku.Sebagai sekelompok serigala yang malas dan laparMereka mengangakan mulut mereka.Udara panas. Dan aku terkencing di celana. Bapak. Bapak. Kenapa kau tinggalkan daku.”
Bait ini terdengar seperti ungkapan keputusasaan sekaligus ketidakyakinan terhadap pedoman yang diberikan Tuhan kepada umat manusia.
Rendra seperti tidak percaya diri dengan ajaran agamanya, yang dituliskannya dalam wujud padri muda yang tidak mampu memberi pencerahan tentang ajaran agama kepada para jemaat. Kemudian bait-bait puisi yang menuliskan kerusuhan di gereja seperti menggambarkan pemberontakan seseorang yang hidupnya tidak memiliki arah dan pedoman. Secara keseluruhan, puisi ini seperti menunjukkan suatu pemberontakan yang terjadi karena ketidakpuasan akan apa yang diajarkan oleh ajaran Kristiani. Pada akhir puisi saya menangkap kesan bahwa akhirnya Rendra tidak puas terhadap apa yang diserukan ajaran Kristus, yang ditunjukkan dengan tidak dihiraukannya seruan sang padri akan penderitaan Kristus dan sang padri justru menjadi korban kegilaan jemaat. Membaca bagian ini terasa sangat ironis bagi saya.
Isi puisi yang cenderung memberontak terhadap ajaran Kristus tentunya tidak bisa dipisahkan dari sosok sang penyair itu sendiri, yakni Rendra. Puisi ini ditulis ketika Rendra masih berstatus sebagai pemeluk agama Katholik. Puisi ini mungkin merupakan bentuk pencarian Rendra akan jati dirinya. Berdasarkan biografi Rendra yang saya baca pada situs www.penyair.com , ketika Rendra memutuskan memeluk agama Islam pada tahun 1970, Rendra menyatakan bahwa sejak lama ia tertarik pada Islam. Rendra juga menyatakan bahwa alasannya memeluk agama Islam adalah karena Islam bisa menjawab pertanyaan pokok yang selama ini ada di benaknya, yakni kemerdekaan individual sepenuhnya. Ini dapat diartikan bahwa selama menjadi pemeluk agama Katholik, Rendra belum menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut. Rasa penasaran akan jawaban pertanyaan tersebut memicu Rendra untuk membuat puisi yang mengekspresikan perasaannya kala itu. Mungkin puisi “Khotbah” ini juga salah satu wujud pengekspresian perasaan Rendra yang tengah terombang-ambing tidak tentu arah atas keyakinannya pada saat itu.
Tokoh-tokoh yang dituliskan Rendra dalam puisi ini adalah seorang padri muda dan jemaat gereja, yang mencerminkan realita dalam kehidupan spiritual Katholik, yakni padri sebagai pemuka agama dan jemaat sebagai golongan yang harus dibina spiritualitasnya. Rendra memilih tokoh padri karena padri adalah orang yang jauh lebih mengerti tentang agama daripada jemaat kebanyakan. Kemudian isi puisi yang menunjukkan bahwa sang padri tidak dapat memenuhi tuntutan umat melalui khotbahnya, dapat diartikan bahwa dalam kehidupan spiritualnya sebagai pemeluk Katholik, Rendra tidak dapat menemukan pencerahan atas ajaran Katholik yang dikenalnya dengan perantara pendeta Katholik. Jemaat yang berubah liar merupakan bentuk ekspresi pemberontakan Rendra sendiri atas ganjalan di hatinya. Puisi “Khotbah” menunjukkan perasaan Rendra yang kontradiktif saat itu. Beberapa baitnya seolah-olah menunjukkan bahwa Rendra tengah mencari kebenaran tentang pedoman hidup.

Perspektif Rr. Sylvia Riadina Dewi
Pesan yang disampaikan Rendra dalam puisi ini menggambarkan cerita singkat Yesus, seseorang yang menjadi pedoman bagi banyak orang termasuk Rendra. Ia mengumpamakan sekaligus membandingkan Yesus sebagai padri. Namun, diluar dugaan ajaran-ajaran Yesus justru sudah tidak sejalan lagi dengan Kerajaan Allah. Rendra menggambarkan adanya kemunafikan orang-orang Katolik pada tahun 1971-an. Begitu banyaknya orang-orang yang berdosa dan masih saja mencoba menghakimi orang lain yang dianggap lebih berdosa dan juga adanya kebutuhan spiritualnya yang tidak terpenuhi. Hal ini yang membuatnya kembali merenungkan penderitaan Kristus. Ia juga teringat akan darah dan daging Kristus yang dipersembahkan untuk umat dalam rangka pengampunan dosa. Betapa menderitanya Yesus yang wafat demi manusia, tetapi manusianya sendiri tidak berada di jalan Kerajaan Allah ataupun mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah. Menurut Rendra, hal ini terjadi karena umat sudah berada di batas ketidaktahuan dan iman yang semuanya digantungkan kepada seseorang yang tidak bisa diharapkan (Pastor pada tahun 1970-an). Rendra seperti ingin menggambarkan bahwa apa yang terjadi dalam agama Katolik kini adalah akibat dari para tokoh agama yang tidak bisa memberi bimbingan yang tepat lagi.
Cara penyampaian pesan yang dilakukan W. S. Rendra dengan kecenderungan stilistik pengarang adalah perumpamaan kisah singkat seseorang. Dalam puisi ini pengarang menceritakan Yesus Kristus sebagai padri muda yang tidak mau memberi khotbah. Sekaligus membandingkan dengan padri yang memimpin misa saat tahun pembuatan puisi. Sampai Ia khawatir apabila mendengar banyaknya hukum-hukum yang simpang siur dan akhirnya memutuskan untuk memberi petunjuk yang sesuai dengan Kerajaan Allah.
Pengarang menggambarkan Yesus adalah seorang manusia biasa yang bisa ketakutan dan berkata, “Bapak. Bapak. Kenapa kautinggalkan daku.” (Eli, Eli, lama sabakhtani?). Yesus berkata kalimat tersebut saat Ia disalibkan di bukit Golgota. Setelah Yesus wafat banyak orang yang ingin menjadi murid-Nya.
Saudara-saudaraku, para anak Bapak di sorga.Inilah khotbahku.Ialah khotbahku yang pertama.Hidup memang berat.Gelap dan berat.Kesengsaraan banyak jumlahnya. Maka dalam hal inikebijaksanaan hidup adalah ra-ra-ra.Ra-ra-ra , hum-pa-pa , ra-ra-ra.Tengoklah kebijaksanaan kadalmakhluk Tuhan yang juga dicintai-Nya.Meniaraplah ke bumi.Kerna, lihatlah:Sukmamu terjepit di antara batu-batu.
Syarat pertama untuk menjadi murid-Nya adalah kaul kemiskinan sehingga harus mampu hidup tanpa uang dan tetap bijaksana. Pengarang menceritakan bahwa orang-orang mau mengikuti-Nya. Yesus juga mengajarkan orang-orang untuk introspeksi diri seperti dalam Alkitab terdapat perumpamaan “Perempuan yang Berzinah”, di mana orang-orang Farisi menghakimi seorang wanita berzinah. Namun Yesus mengatakan,”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Setelah itu, tidak satupun orang-orang Farisi maju untuk melemparkan batu.

Melalui perumpamaan ini, Yesus mengingatkan orang-orang untuk tidak menghakimi dosa orang lain jika dirinya sendiri berdosa. Yesus merasa banyak sekali kemunafikan yang terjadi. Hukum-hukum yang dibuat oleh suatu kaum dilanggar oleh kaum-kaumnya sendiri. Maka Yesus menghimbau agar bersama-sama dengan-Nya menuju jalan Kerajaan Allah. Pengarang menggambarkan begitu banyak orang yang mengikuti jalan-Nya bahkan sangat percaya pada-Nya. Orang-orang yang percaya itu disebut Gereja. Gereja saling berkumpul dan hidup bersama-sama menuju jalan Kerajaan Allah. Pada puisi Nyanyian Angsa, yang merupakan salah satu puisi pengarang juga, Rendra menceritakan Yesus mencintai semua umat-Nya. Tidak peduli siapa dia, apa pekerjaannya, bagaimana status sosialnya, Yesus tetap mencintai orang itu dengan sangat tulus.

Oleh karena itu, pengarang menceritakan Gereja juga menyebarkan cinta kasih kepada sesama. Seiring berjalannya waktu, sebagai anggota tubuh Kristus, Gereja mulai merasa mereka berlindung di bawah sesuatu yang mereka sendiri tidak mengerti. Gereja sudah berada di batas ketidaktahuan dan iman. Kemudian Gereja meminta petunjuk lagi kepada Allah. Petunjuk yang diberikan lagi adalah Firman Allah yang ketujuh yaitu, ‘jangan mencuri’. Yesus tidak pernah melarang siapapun untuk tidak boleh melakukan sesuatu. Ia hanya memberitahu sifat-sifat manusia yang bisa diterima di Kerajaan Allah. Jika melanggar, maka harus bisa mempertanggungjawabkannya kelak. ‘Tentu, bahwa mencuri dan mencuri ada bedanya’.
Kemudian pengarang menggambarkan Yesus tidak dipercaya juga oleh banyak orang dan difitnah sehingga Yesus diadili, disiksa, disalibkan, dan wafat. Daging-Nya menjadi roti tidak beragi dan darah-Nya menjadi anggur yang disantap bersama demi pengampunan dosa dan disebut komuni.
Di sisi lain, Rendra menggambarkan betapa brutalnya orang-orang Katolik dalam menghakimi orang yang bersalah. Umat sudah tahu bahwa perbuatan yang tidak sesuai jalan Kerajaan Allah adalah perbuatan tercela, tetapi tanpa petunjuk yang jelas dari sang pedoman, umat justru melenceng dari jalan Kerajaan Allah. Pengarang melihat adanya kemunafikan di agama Katolik. Seperti dalam puisi Nyanyian Angsa. Pengarang menunjukkan adanya eksklusifitas dari pastor yang menghina seorang mantan pelacur yang ingin bertobat, tetapi di akhir cerita Yesus menerima wanita itu apa adanya.Tanggapan saya terhadap puisi ini menggambarkan tentang kelabilan diri pengarang dalam kehidupan spiritualnya. Terutama tentang agama Katolik yang menurutnya kini sudah tidak sejalan lagi dengan aturan-aturan yang ada.

Bahkan eksklusifitas yang diciptakan hierarki-hierarki, sepertinya membuatnya sangat muak. Namun, dalam puisi ini tergambar betapa Rendra masih menyayangi Yesus dengan renungan-renungannya. Termasuk dalam puisi Nyanyian Angsa, Rendra menggambarkan Yesus mencumbu Maria Zaitun, seorang mantan pelacur. Bahkan pastor pun tidak mau menerima pertobatan Maria Zaitun. Ia tidak kecewa dengan Yesus, tetapi ia kecewa dengan para Gereja yang kini terlihat lebih brutal dan tidak lagi mewartakan Kerajaan Allah. Maka renungannya membawa kenangan tentang Yesus disalibkan dan wafat. Belum lagi darah dan daging Yesus yang disantap setiap misa. Tetapi tetap saja gap-gap dari setiap lapisan dalam agama Katolik itu. Semua kejadian itu sepertinya membuat Rendra semakin bimbang menjalani hidup sebagai Katolik.
Willibrordus Surendra Broto lahir tanggal 7 November 1935 di Solo. Ia dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan Katolik yang kental. Ia sudah mulai menulis sajak sejak awal tahun lima puluhan dan juga giat dalam pertunjukan drama. Karya-karyanya tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Terbukti dari puisi-puisinya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India.
Dalam puisi ini, terasa sekali kebimbangan pengarang dalam melihat realita yang ada dan ajaran Yesus. Ia merasa saat itu terdapat banyak kejanggalan-kejanggalan dalam agama Katolik. Rendra merasa dalam Katolik, jika mau berhubungan dengan Tuhan maka harus berhubungan dengan Pastor, tetapi dalam Islam bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga ia merasa hak individunya lebih dihargai, sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang. Belum lagi, saat pembuatan puisi Khotbah, Rendra tengah menghadapi pilihan untuk menikahi seorang wanita Islam, Sito, yang hampir tidak disetujui ayah Sito karena perbedaan agama.

Perspektif Gaya Nitiya Sutrisno
Dalam puisi ini Rendra menyampaikan pendapatnya tentang nilai-nilai religiusitas yang telah berubah. Orang-orang ke gereja bukan lagi untuk mendapatkan kekhusukan dan menciptakan hubungan vertikal ke atas dengan Tuhannya, tetapi hanya sekadar datang, berkumpul, mendengarkan Khotbah dan bernyanyi. Mereka tidak bisa memaknai lagi hubungan dengan Tuhannya. Mereka hanya menggantungkan dirinya kepada Khotbah yang mereka dengar dan menganggap itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan batin hidup mereka.
Mereka datang ke tempat ibadah karena merupakan suatu tuntutan sosial untuk menunjukkan bahwa mereka adalah umat yang taat beragama. Mereka lupa bahwa tempat ibadah itu hanyalah sebuah tempat, bukan suatu penghubung dengan Tuhan. Hubungan dengan Tuhan seharusnya dibangun sendiri oleh mereka, tidak peduli di mana pun tempatnya.
Rendra menggambarkan keserakahan sekelompok manusia yang datang ke gereja. Sekelompok manusia ini adalah orang-orang pemalas dan haus akan Khotbah, digambarkan dengan metafor “Sebagai sekelompok serigala yang malas dan lapar”, “Mata mereka bertanya-tanya, Mulut mereka menganga sangat butuh mendengar”. Seolah-olah Khotbah mengenyangkan dan memberi mereka kehidupan. Serentak mereka diperalat dan terperdaya oleh Khotbah yang mereka anggap dan percaya dapat memberikan kebenaran.
Kemudian ada seorang padri muda yang masih polos, belum terpengaruh, dan terperdaya oleh Khotbah seperti orang-orang itu. Ia muak dengan orang-orang dan segala Khotbah yang dikumandangkan dalam gereja itu. Ia ingin menghentikannya. Ia mengumandangkan Khotbah pertamanya yang bertujuan untuk menyadarkan para manusia-manusia itu.
Dalam Khotbahnya “Kepada kaum lelaki yang suka senapan memasang panji-panji kebenaran di mata bayonetnya, aku minta dicamkan bahwa lu-lu-lu, la-li-lo-lu’, padri muda itu menyampaikan otoriterisme yang menutup mata sehingga yang terlihat hanya kebenaran semu yang menutupi keburukan. “Bersihkan darah dari tangan mu, agar aku tak gemetar lalu kita bisa duduk minum teh sambil ngomong tentang derita masyarakat atau hakekat hidup dan mati. Hidup penuh sengsara dan dosa”, menggambarkan padri yang ingin menyampaikan kepada orang-orang tersebut untuk menghilangkan sikap anarkis dalam menyelesaikan permasalahan hidup. Padri menyampaikan bahwa kita bisa menyelesaikan permasalahan dengan baik-baik melalui jalan musyawarah.
Dalam “Mereka mulai menari. Mengikuti satu irama.”, digambarkan kegembiraan yang terjadi di dalam gereja bukanlah kegembiraan karena mereka akan bertemu dengan Tuhannya, tetapi karena mereka dapat bertemu dengan sesama, berkumpul, berfoya-foya, berpesta, dan terutama mendengarkan Khotbah.
Puisi ini menunjukkan ketika mereka datang ke gereja, mendengarkan Khotbah, dan berpesta serta berfoya-foya justru menghancurkan gereja itu sendiri. Perlu diingat bahwa gereja itu bukanlah suatu tempat untuk berkumpul dan berdoa, gereja itu sendiri adalah persekutuan umat yang percaya bahwa mereka telah diselamatkan. Kokoh atau hancurnya gereja itu sangat bergantung pada umatnya. Perilaku mereka yang malas dan beranggapan bahwa dengan mendengarkan Khotbah dapat mengenyangkan hidup mereka justru menghancurkan gereja yang telah mereka dirikan.
Rendra menggunakan pendekatan kontesktual dalam puisinya yang mengungkapkan kegelisahan politik yang ada dalam dirinya ini. Ia melihat keadaan yang terjadi di sekelilingnya, kemudian menuliskannya. Ia menghubungkan teks puisinya dengan dunia luar, yakni kondisi sosial masyarakat yang hidup di sekitarnya. Rendra dengan kritik postkolonialnya menyatakan perubahan yang dialami masyarakat modern. Puisi ini menunjukkan kekritisan Rendra. Ia tidak hanya melulu membenarkan bahwa orang yang ke gereja adalah orang yang taat beragama. Ia melihat bahwa gereja sekarang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang pemalas yang menginginkan eksistensi dirinya untuk bisa dilihat oleh orang lain.
Tanggapan saya setelah membaca puisi ini, saya menemukan pesan penting yang disampaikan oleh Rendra. Saya menyadari bahwa hubungan dengan Tuhan dibangun oleh saya sendiri dan bergantung kepada saya sendiri. Hubungan dengan Tuhan tidak dibangun dengan seringnya saya pergi ke tempat ibadah ataupun mendengarkan Khotbah. Tetapi dibangun dengan kekhusukan dan kesiapan hati saya untuk bertemu dengan Tuhan. Rendra menyampaikan kemunafikan masyarakat yang datang ke gereja dan menganggap dengan menerima Khotbah, hidup mereka sudah cukup dan bermakna. ***


Bibliografi

Budiman, Melani et al (ed). 2002. Membaca Sastra. Magelang: Indonesia Tera
Rendra. 1987. Blues untuk Bonnie. Jakarta: Pustaka Jaya.
Sambodja, Asep. Cara Mudah Menganalisis Puisi; Pembelajaran Puisi di Perguruan Tinggi: Sebuah Pengantar Singkat. (http://asepsambodja.blogspot.com)
www.wikipedia.org

*) Ketiga penulis adalah mahasiswa Jurusan Korea FIB UI.
**) Foto di atas merupakan pementasan dramatisasi “Khotbah” di Malaysia oleh Teater UI yang disutradarai Asep Sambodja.