Senin, 03 November 2008

Kronik Sejarah Sastra Indonesia (1908-2008)




oleh Asep Sambodja


1908: Organisasi pemuda pertama, Boedi Oetomo, lahir pada 21 Mei 1908. Misinya mengubah struktur sosial. Suatu jabatan harus dipegang oleh ahlinya, dan bukan hanya dimonopoli kaum ningrat. Dalam kongres Jong Java di Yogyakarta, 5 Oktober 1908, dr. Tjipto Mangunkusumo mencita-citakan suatu pendobrakan masyarakat kolonial dan tradisional dengan segala kekolotan, statisisme, diskriminasi, dan tradisi yang menekan. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan gerakan yang lebih bersifat politik radikal (Kartodirdjo, 1993). Kesadaran kebangsaan mulai muncul sebagai dampak dari politik etik yang diserukan van Deventer.

1917: Penerbit Balai Pustaka berdiri pada 22 September 1917. Karya sastra yang diterbitkan tidak boleh bertentangan dengan politik pemerintah kolonial Belanda. Akibatnya, isi novel Salah Asuhan karya Abdul Muis berbeda jauh dengan isi aslinya. Novel Belenggu ditolak oleh Penerbit Balai Pustaka. Novel-novel yang dicap sebagai “bacaan liar”, “novel picisan”, dan novel yang dinilai dapat meracuni masyarakat tidak bisa diterbitkan Balai Pustaka. Karena itu, karya-karya Marco Kartodikromo, Semaoen, Kwee Tek Hoay, Tan Boen Kim, dan Liem Wie Leng yang mengangkat tema-tema antiimperialisme dan menggunakan bahasa Melayu Rendah tidak diterbitkan Balai Pustaka.

1919: Novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo terbit.

1920: Novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar terbit. Novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli terbit.

1922: Novel politik Hikayat Kadirun karya Semaoen terbit. Nur Sutan Iskandar menerbitkan Apa Dayaku karena Aku Perempuan. Buku puisi Tanah Air karya Muhammad Yamin terbit.

1924: Novel Rasa Merdika karya Mas Marco Kartodikromo terbit. Buku Bebasari karya Roestam Effendi terbit.

1928: Dalam kongres pemuda kedua di Jakarta, 28 Mei 1928, pemuda-pemuda Indonesia mengeluarkan resolusi berupa Sumpah Pemuda. Bahasa Melayu ditetapkan menjadi bahasa Indonesia. Novel Salah Asuhan karya Abdul Muis terbit. Nakah drama berbahasa Indonesia, Ken Arok dan Ken Dedes karya Muhammad Yamin dipentaskan di kongres pemuda.

1933: Majalah Pujangga Baru terbit. Selasih menerbitkan Kalau Tak Untung.

1934: J.E. Tatengkeng menerbitkan Rindu Dendam.

1935: Esai Sutan Takdir Alisjahbana di majalah Pujangga Baru memicu Polemik Kebudayaan. STA menyarankan agar kebudayaan Indonesia diarahkan ke Barat. Polemik ini kemudian dibukukan oleh Achdiat Kartamihardja dalam Polemik Kebudayaan.

1936: Novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana terbit. I Gusti Nyoman Panji Tisna menerbitkan Sukreni Gadis Bali.

1937: Amir Hamzah menerbitkan Nyanyi Sunyi.

1938: Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka terbit.

1940: Novel Belenggu karya Armyn Pane terbit. Novel Suwarsih Djojopoespito, Buiten het Gareel (‘Di Luar Jalur’) dilarang oleh pemerintah Belanda.

1941: Goenawan Mohamad lahir. GM mendirikan majalah berita Tempo pada 1971, membentuk Komunitas Utan Kayu (sekarang Komunitas Salihara), ikut mendirikan Yayasan Lontar. Pencetus Manifes Kebudayaan (Manikebu).

1942: Jepang masuk dan menjajah Indonesia. Pembentukan Keimin Bunka Sidhoso (Kantor Pusat Kebudayaan) melahirkan karya-karya seni yang bersifat propaganda untuk kemenangan perang Asia Timur Raya, serta antiAmerika dan sekutu-sekutunya.

1945: Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Tapi, Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Belanda ingin tetap menguasai Indonesia dengan mendirikan negara-negara boneka. Akibatnya, banyak seniman yang enggan menggunakan warna daerah, karena akan dicap sebagai antek-antek Belanda.

1946: Seniman dan sastrawan mendirikan Gelanggang Seniman Merdeka pada 19 November 1946. Mereka adalah Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, Mochtar Apin, Henk Ngantung, Basuki Resobowo, dan Baharuddin M.S.

1948: Buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karya Idrus terbit.

1949: Buku Deru Campur Debu karya Chairil Anwar terbit. Chairil Anwar dijuluki sebagai Pelopor Angkatan 45 oleh HB Jassin. Achdiat Kartahadimadja menerbitkan Atheis.

1950: Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) berdiri pada 17 Agustus 1950. Lekra mengembangkan paham “seni untuk rakyat” dan “realisme sosialis” di lapangan kebudayaan. Pada 23 Oktober 1950, Asrul Sani mengumumkan “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Usmar Ismail menerbitkan Sedih dan Gembira.

1951: Majalah Basis terbit.

1952: Buku Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis terbit. Utuy Tatang Sontani menerbitkan Awal dan Mira. S. Rukiah menerbitkan Tandus.

1953: Sitor Situmorang menerbitkan Surat Kertas Hijau.

1954: Buku Kesusastraan Indonesia dalam Kritik dan Esai karya HB Jassin terbit.

1955: Pemilihan Umum pertama digelar.

1956: Rendra menerbitkan Ballada Orang-orang Tercinta.

1959: Sepanjang 1950-an timbul pergolakan di daerah-daerah yang disebabkan ketidakpuasan perimbangan pusat-daerah. Sistem parlementer yang diterapkan mengakibatkan pemerintahan tidak pernah stabil. Soekarno menyerukan negara dalam keadaan perang. Ia juga membubarkan Konstituante pada Juli 1959. Dekrit presiden dikeluarkan. Dimulailah pemerintahan otoriterian Soekarno yang memberlakukan demokrasi terpimpin. Ajip Rosidi menerbitkan Cari Muatan.

1962: Abdullah S.P. dan Pramoedya Ananta Toer menuduh Hamka sebagai plagiator. Novel Tenggelamnya Kapal van Der Wicjk karya Hamka dituduh sebagai plagiat dari novel Majdulin karya Al Manfaluthi, yang merupakan terjemahan dari Sous les Tilleuls karya Alphonse Karr. Tuduhan itu dimuat di Bintang Timur dan Harian Rakyat. Motinggo Busye menerbitkan Malam Jahanam.

1963: Sastrawan-sastrawan muda melahirkan Manifes Kebudayaan sebagai jawaban menolak seruan “Politik sebagai panglima” yang dikumandangkan Lekra.

1964: Pada Maret 1964, para sastrawan menggelar Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia (KKPI). Soekarno melarang Manifes Kebudayaan pada 8 Mei 1964. Buku Revolusi di Nusa Damai karya Ktut Tantri terbit.

1965: Terjadi peristiwa penculikan dan pembunuhan para jenderal yang disebut sebagai Dewan Jenderal oleh sebuah gerakan yang menamakan dirinya Gerakan 30 September yang dipimpin Letkol Untung. Pangkostrad Mayjen Soeharto, satu-satunya petinggi Angkatan Darat yang selamat dalam aksi pembunuhan itu, mengambil alih kepemimpinan di Angkatan Darat. PKI dituduh berada di balik aksi itu. Setelah PKI dilarang, terjadi pembunuhan massal. Lekra dilarang. Banyak sastrawan Lekra yang dipenjara, sebagian hidup sebagai sastrawan eksil. Perempuan aktivis yang tergabung dalam Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) banyak yang menjadi korban perkosaan. Buku-buku karya sastrawan Lekra dilarang. Harian Rakjat dan surat kabar yang berafiliasi dengan PKI dilarang terbit.

1966: Majalah sastra Horison terbit. H.B. Jassin mendeklarasikan Angkatan 66 dalam sastra Indonesia. Majalah Budaya Jaya terbit pada tahun yang sama. Buku Tirani dan Benteng karya Taufiq Ismail terbit. Buku ini terbit ulang secara komplet pada 1993.

1968: Cerpen “Langit Makin Mendung” karya Ki Panjikusmin terbit dan bikin heboh, karena dianggap menghina umat Islam. Pemimpin Redaksi majalah Sastra, H.B. Jassin diadili. H.B. Jassin juga menerbitkan Angkatan 66: Prosa dan Puisi. Iwan Simatupang menerbitkan Merahnya Merah.

1970: Remy Sylado memperkenalkan puisi mbeling.

1971: Buku Sandhyakala Ning Majapahit karya Sanusi Pane terbit. Majalah Tempo terbit. Goenawan Mohamad sebagai Pemimpin Redaksi.

1973: Kritik sastra aliran Rawamangun yang diusung dosen sastra Universitas Indonesia (UI), yakni M.S. Hutagalung, M. Saleh Saad, dan J.U. Nasution, mendapat reaksi dari Goenawan Mohamad dan Arief Budiman yang memperkenalkan kritik ganzheit atau gestalt sebagai alternatif kritik analitik. Pada tahun ini pula Sutardji Calzoum Bachri mengeluarkan Kredo Puisi-nya. Dami N. Toda mengibaratkan Sutardji Calzoum Bachri dan Chairil Anwar sebagai dua sisi mata uang. N.H. Dini menerbitkan Pada Sebuah Kapal.

1974: Sastrawan muda Bandung menggelar Pengadilan Puisi. Slamet Sukirnanto bertindak sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU).

1975: Asrul Sani menerbitkan Mantera.

1977: Ajip Rosidi menerbitkan Laut Biru Langit Biru.

1978: Iwan Simatupang mendapat penghargaan South East Asia Write Award (Hadiah Sastra ASEAN) dari pemerintah Thailand. Para sastrawan yang mendapat penghargaan serupa pada tahun-tahun setelahnya adalah Sutardji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, Goenawan Mohamad, Marianne Katoppo, Y.B. Mangunwijaya, Budi Darma, Abdul Hadi W.M., Sapardi Djoko Damono, Umar Kayam, Danarto, Gerson Poyk, Arifin C. Noer, Subagio Sastrowardoyo, A.A. Navis, Ramadhan K.H., Taufiq Ismail, Ahmad Tohari, Rendra, Seno Gumira Ajidarma, N. Riantiarno, Kuntowijoyo, Wisran Hadi, Saini K.M., Darmanto Jatman, Gus tf. Sakai, Acep Zamzam Noor, Sitor Situmorang, Suparto Brata, dan Hamsad Rangkuti.

1980: Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer terbit. Buku itu diikuti dengan terbitnya Jejak Langkah (1985) dan Rumah Kaca (1988). Buku Potret Pembangunan dalam Puisi karya Rendra terbit.

1981: Buku Burung-burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya terbit. Buku Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi terbit.

1982: Pramoedya Ananta Toer menerbitkan Tempo Doeloe: Antologi Sastra Pra-Indonesia.

1984: Dalam sarasehan kesenian di Solo, 28 Oktober 1984, Ariel Heryanto memperkenalkan sastra kontekstual, yakni sejenis pemahaman atas seluk-beluk kesusastraan dengan meninjau kaitannya dengan konteks sosial historis kesusastraan yang bersangkutan.

1985: Claudine Salmon menerbitkan buku Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu. Ariel Heryanto menerbitkan Perdebatan Sastra Kontekstual.

1987: Linus Suryadi Ag. menerbitkan buku antologi puisi Indonesia secara lengkap, Tonggak. Yayasan Lontar berdiri.

1988: Dalam seminar Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) di Padang, Subagio Sastrowardoyo mengusulkan teori dan kritik sastra yang khas Indonesia.

1990: Pementasan Suksesi Teater Koma yang disutradarai N. Riantiarno dilarang. Sebelumnya, pada tahun yang sama, Teater Koma mementaskan Konglomerat Burisrawa yang mengkritik kartel bisnis raksasa di Indonesia.

1991: Nirwan Dewanto membacakan pidato kebudayaan dalam kongres kebudayaan keempat. Menurut dia, setiap manusia berpotensi untuk menciptakan kebudayaan. Ia mengusung semangat pluralisme dan multikulturalisme. Pidatonya dibukukan dalam Senjakala Kebudayaan.

1994: Majalah Tempo, Editor, dan tabloid Detik dibredel. Majalah Kalam terbit. Kusprihyanto Namma (Ngawi), dan Beno Siang Pamungkas (Tegal) mengusung Gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman dan menghujat “Pusat” dan “elit sastra nasional” sebagai sumber kekuasaan yang mendominasi “sastra koran”.

1995: D.S. Moeljanto dan Taufiq Ismail menerbitkan buku Prahara Budaya. Pramoedya Ananta Toer menerima penghargaan hadiah Magsaysay. Taufiq Ismail dan Mochtar Lubis memprotes pemberian penghargaan itu. Muncul polemik hadiah Magsaysay. AS Laksana menerbitkan buku Polemik Hadiah Magsaysay.

1996: Lahir Komunitas Sastrawan Indonesia (KSI). Para penggeraknya adalah Ahmadun Y. Herfanda, Azwina Aziz Miraza, Diah Hadaning, Eka Budianta, Korrie Layun Rampan, Wowok Hesti Prabowo, Iwan Gunadi, Medy Loekito, dll.

1997: Penyair Wiji Thukul diculik dan dibunuh.

1998: Pada 21 Mei 1998, Soeharto lengser dari jabatannya. B.J. Habibie menggantikannya. Terjadi kerusuhan 13-14 Mei 1998, yang mengakibatkan banyak mal yang terbakar, yang menelan banyak korban jiwa. Perempuan keturunan Tionghoa juga banyak yang menjadi korban perkosaan. Buku-buku karya sastrawan Lekra bisa muncul ke permukaan. Ayu Utami mengibarkan sastra yang beraroma seks melalui Saman. Harian Kompas menyambutnya dengan istilah “sastra wangi”. Majalah Tempo terbit kembali.

1999: Pemilu demokratis kedua yang diselenggarakan di Indonesia setelah Pemilu 1955. PDI Perjuangan yang dipimpin Megawati Soekarnoputri memperoleh suara terbesar. Namun, yang terpilih menjadi presiden adalah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia terpilih melalui sebuah gerakan politik yang dinamakan Poros Tengah, yang digelontorkan oleh Amien Rais. Gerakan Poros Tengah ini diambil untuk menghindari kebuntuan politik dan ketegangan yang dikhawatirkan akan menjadi benturan antara kubu Habibie (Islam) dan kubu Megawati (Nasionalis). Komunitas Bambu menerbitkan kumpulan puisi Menjelma Rahwana Asep Sambodja.

2000: Korrie Layun Rampan mengumumkan adanya Angkatan 2000. H.B. Jassin meninggal di Jakarta. Buku Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul terbit. Penyair Karsono H. Saputra mendirikan penerbit Bukupop yang bertujuan memperluas pembaca dan pasar sastra dengan menerbitkan buku-buku sastra yang terjangkau oleh masyarakat luas.

2001: Mulai 2001, penghargaan Khatulistiwa Literary Award (KLA) diberikan kepada sastrawan yang menghasilkan karya sastra terbaik. Mereka yang pernah mendapatkan penghargaan ini antara lain Goenawan Mohamad, Remy Sylado, Hamsad Rangkuti, Seno Gumira Ajidarma, Linda Christanty, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Gde Aryantha Soethama, Dorothea Rosa Herliany, Gus tf., Acep Zamzam Noor. Yayasan Multimedia Sastra (YMS) berdiri. YMS mengorganisasi sastrawan-sastrawan yang menulis karya sastra di internet. Tokoh-tokohnya: Medy Loekito, Saut Situmorang, Nanang Suryadi, Yono Wardito, Asep Sambodja, Tulus Widjanarko, TS Pinang, Anggoro, Ani Sekarningsih, Anna Siti Herdiyanti, Ben Abel, Cunong Nunuk Suraja, Deden Tristiyana, Dodi Iskandar, Donny Anggoro, Hadi Susanto, Heri Latief, Indah Iriani Putri, Kurniawan, Rukmi Wisnu Wardhani, Sutan Iwan Soekri Munaf, Tomita Prakoso, Winarti, Dimas Triwibowo, dan lain-lain. Buku kumpulan puisi Graffiti Gratitude terbit. Situs http://www.cybersastra.net/ mulai online.

2002: Majalah Horison menerbitkan buku Horison Sastra Indonesia yang terdiri dari empat kitab, yakni kitab puisi, cerpen, novel, dan drama. Dalam buku ini, Hamzah Fansuri yang hidup di abad ke-17 dimasukkan sebagai sastrawan Indonesia yang pertama.

2003: Sapardi Djoko Damono dan Ignas Kleden mendapat penghargaan Ahmad Bakrie Award karena jasanya di bidang kesusastraan dan pemikiran. Sastrawan dan intelektual yang menerima penghargaan yang sama pada tahun-tahun berikutnya adalah Goenawan Mohamad, Nurcholish Madjid, Budi Darma, Sartono Kartodirdjo, Arief Budiman, Rendra, Frans Magnis Soeseno, Putu Wijaya, Taufiq Abdullah, Sutardji Calzoum Bachri. Frans Magnis Soeseno yang seharusnya mendapatkan penghargaan tersebut menolak karena keterkaitan perusahaan Bakrie dengan bencana Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.

2004: Pemilihan presiden secara langsung yang dilakukan pertama kali di Indonesia. Soesilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai presiden, mengalahkan Megawati. Di dunia sastra, para sastrawan muda mendeklarasikan lahirnya generasi sastrawan cyber. Sastra di internet merupakan terobosan baru bagi para sastrawan untuk berekspresi dan mempublikasikan karyanya secara bebas. Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy terbit. Yayasan Lontar mendokumentasikan biografi sastrawan Indonesia, di antaranya Pramoedya Ananta Toer, Agam Wispi, Ahmad Tohari, Umar Kayam, Sapardi Djoko Damono, Sutan Takdir Alisjahbana, Putu Oka Sukanta, dan lain-lain. Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir dibunuh. Buku Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan karya Ignas Kleden terbit.

2005: Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata terbit. Novel ini dan novel Ayat-ayat Cinta menjadi novel paling laris (best seller) dalam sejarah penerbitan novel di Indonesia. Kedua novel ini juga ditransformasi ke film.

2006: Yayasan Lontar menerbitkan Antologi Drama Indonesia: 1895-2000. Penerbitan buku ini menunjukkan bahwa sejarah sastra Indonesia bukan dimulai pada 1920, melainkan pada 1895. Anton Kurnia menerbitkan Ensiklopedi Sastra Dunia.

2007: Novel Kalatidha karya Seno Gumira Ajidarma terbit. Buku kumpulan puisi Otobiografi karya Saut Situmorang terbit. Saut adalah salah satu sastrawan yang menggerakkan sastra cyber, sastrawan Ode Kampung, dan majalah Boemipoetra.

2008: Buku-buku Pramoedya Ananta Toer yang dicetak ulang dan buku-buku korban tragedi 1965 yang ingin meluruskan sejarah marak di toko-toko buku, dan menjadi buku laris. Misalnya, Suara Perempuan Korban Tragedi 65 karya Ita F. Nadia. Terbit buku Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 yang disunting Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan. Bersamaan dengan terbitnya buku ini, terbit pula buku yang disunting Rhoma dan Muhidin, yakni Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra Harian Rakjat 1950-1965 dan Laporan dari Bawah: Sehimpunan Cerita Pendek Lekra Harian Rakjat 1950-1965. Ramai bermunculan blog pribadi yang dibuat oleh para sastrawan, di antaranya http://puisiindonesiamodern.blogspot.com/

2 komentar:

Blackfish mengatakan...

terima kasih informasinya ya mas..

moi panda mengatakan...

saya R.S ningsih ingin ucapkan terima kasih dan mohon ijin untuk mempergunakan kronik ini sebagai bahan pembelajaran, saya merasa bahagia menemukan kronik kronik ini
trimakasih

aku tersesat tapi tak berserah
ketika tumbang pun hanya roboh juga, tapi bukan sekarang
mungkin kapan saja,-

(dalam pencarian)