Jumat, 21 November 2008

Medy Loekito, Perlukah Seorang Ibu?






oleh Asep Sambodja



Prolog
Barangkali saya termasuk dalam kelompok yang diklaim Sapardi Djoko Damono sebagai pemburu amanat dalam membaca karya sastra, termasuk di dalamnya puisi. Tapi, saya punya alasan kuat kenapa kita harus menafsir, mengungkap makna, bahkan memberi makna pada “sesuatu yang kelak retak, dan kita membikinnya abadi”, seperti yang dikatakan Goenawan Mohamad.
Pertama, saya sangat yakin bahwa dengan menulis puisi, ada sesuatu yang hendak disampaikan oleh penyair—sesuatu itu bisa pesan, tapi bisa juga gugatan atau protes tentang apa saja. Kedua, sesuai dengan jiwa atau hakikat puisi yang fiksionalitas dan multiinterpretasi, pembaca justru diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk menafsir. Dengan demikian, ketiga, minimal menghidupkan resepsi sastra yang sangat bergantung pada daya tangkap masyarakat pembaca terhadap karya sastra.
Tentu saja, tak dapat dipungkiri, ada sebagian puisi yang lahir dari penyair hanyalah permainan kata atau bahkan juga permainan bunyi. Saya tidak bisa mengerti, apa benar ada penyair yang hanya bermain kata-kata, tanpa menyelipkan makna dalam sajak-sajaknya. Dan terbukti bahwa puisi yang “abadi” adalah puisi yang sarat makna, seperti puisi “Zaman Edan” karya Raden Ngabehi Ronggowarsito.
Berikut ini saya ingin memburu makna yang tersembunyi dalam sajak-sajak Medy Loekito yang terhimpun dalam kumpulan sajaknya yang pertama, Jakarta, Senja Hari.

Ibu
Membaca sajak-sajak Medy Loekito yang terhimpun dalam Jakarta, Senja Hari (Bandung: Angkasa, 1998), saya terantuk pada sebuah pertanyaan: perlukah seorang ibu bagi seorang manusia?
Sebuah sajak Medy Loekito yang berjudul “Kepada Rerumput Kecil” membawa saya pada pertanyaan lebih jauh lagi, berbahagiakah seorang anak dengan kasih sayang seorang ibu? Tidak itu saja, perlukah orangtua (ayah dan ibu) dalam kehidupan seseorang? Tapi, sebelum pertanyaan itu diteruskan dan sebelum pertanyaan-pertanyaan itu mendapatkan jawab, ada baiknya kita membaca sajak yang mengejutkan itu.

Kepada Rerumput Kecil

aku rimbun pohon kulindungi kau seperti jubah-jubah
kulumat hujan jadi embun kutangkap terik jadi cahaya
tiap kali setia kubawa berita gejolak dunia
yang kuintip lewat jari-jari pucuk daun tersayat
kubiarkan menjadi cerita Cinderella
hingga tidurmu senyum

Sebuah sajak yang menyentuh perasaan seorang “anak” ini, kita tahu, menggambarkan perjuangan maupun pengorbanan seorang ibu yang menyayangi dan melindungi anak-anaknya. Bahkan, kerasnya kehidupan di dunia (juga kehidupan di akhirat?—karena di sana pun masih ada sebuah kekerasan yang dinamakan neraka) disulapnya menjadi cerita Cinderella untuk (apalagi kalau bukan) meninabobokan sang anak.
Saya termasuk orang yang menghormati perjuangan, pengorbanan, dan kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya. Terlebih pengorbanan yang diberikan adalah pengorbanan jiwa atau nyawa, seperti yang digambarkan Asrul Sani dalam sajak “Elang Laut” (lihat Mantera, Jakarta: Budaya Jaya, 1975).

Ada elang laut terbang
senja hari
antara jingga dan merah
surya hendak turun,
pergi ke sarangnya

Apakah ia tahu juga,
bahwa panggilan cinta
tiada ditahan kabut
yang menguap pagi hari?

Bunyinya menguak suram
lambat-lambat
mendekat, ke atas runjam
karang putih,
makin nyata.

Sekali ini jemu dan keringat
tiada akan punya daya
tapi topan tiada mau
dan mengembus ke alam luas

Jatuh elang laut
ke air biru, tenggelam
dan tiada timbul lagi

Rumahnya di gunung kelabu
akan terus sunyi
Satu-satu akan jatuh membangkai
ke bumi, bayi-bayi kecil tiada
bersuara

Hanya anjing,
malam hari meraung menyalak bulan
yang melengkung sunyi
Suaranya melandai
turun ke pantai
Jika segala
senyap pula,
berkata pemukat tua:
“Anjing meratapi orang mati!”

Elang laut telah
hilang ke lunas kelam
topan tiada bertanya
hendak kemana dia
Dan makhluk kecil
yang membangkai di bawah
pohon eru, tiada pula akan
berkata:
“Ibu kami tiada pulang.”

Sajak “Elang Laut” karya Asrul Sani yang saya kutip secara lengkap di atas seperti menegaskan bahwa tanpa kehadiran seorang ibu, anak-anak (bayi-bayi) akan jatuh membangkai, mati!
Benarkah tanpa seorang ibu, seorang anak bisa mati? Bukankah sering dikatakan orang bahwa kematian itu di tangan Tuhan? Kenapa Adam yang turun tanpa ayah dan ibu bisa hidup cukup lama dan berkembang biak? Demikian pula nabi Muhammad yang mengisi hidupnya di masa kanak-kanak sebagai yatim piatu? Apa yang diperlukan dari seorang ibu, kalau begitu.
Dan, kasih sayang yang diberikan kepada sang anak, pada akhirnya, menjadi beban yang tak terbayarkan atau terlunaskan, seperti yang diajarkan sejak kecil melalui lagu anak-anak ini:

kasih ibu kepada beta
tak terkira sepanjang masa
hanya memberi tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia

Atau, memakai bahsa Medy Loekito, seorang ibu akan merajut mimpi-mimpi anaknya dengan segenap airmata bunda dan disuapinya lapar sang anak dengan jiwa yang lari ke awan-awan.

Anakku (1)

(anakku berusia sembilan tahun
cantik dan mungil seperti bunga rumput)

“Mama, apa bekal hari ini?”
maka kucium ia
dan kupintal rambut hitamnya dengan karet bekas
sambil kusisipkan cium-cium dan cinta-cintaku

“Mama, ulang tahunku esok
akankah ayah datang bawa baju baru?”
maka kurajut mimpinya
dengan airmata
dan semangat kenangan yang memudar

(anakku berusia sembilan tahun
cantik dan saleh seperti butir tasbih di masjid)

Dan sajak ini:

ketika dadanya kering dari air susu
disuapinya lapar anaknya
dengan jiwa
yang lari ke awan-awan
meremasnya jadi air-air susu
(“Pengemis Perempuan dan Anaknya”)

Jika benar lagu itu, bahwa seorang ibu “hanya memberi tak harap kembali”, kenapa harus ada kutukan pada Malin Kundang? Benarkah kutukan itu hanya balas dendam karena tidak adanya pengakuan? Atau dia tidak merasakan keberhasilan yang telah diraih Malin Kundang?
Apakah seorang anak yang dilempar di pinggir jalan atau ditelantarkan di depan pintu rumah panti asuhan atau bahkan dibunuh dengan cara aborsi bisa mengutuk orangtuanya?
Sajak “Kepada Rerumput Kecil” karya Medy Loekito di atas menjadi stimulus bagi pembaca untuk mencermati kembali peran seorang ibu terhadap anak-anaknya. Dan betapa bahagia memiliki ibu seperti yang digambarkan Medy. Tapi, sampai kapan kebahagiaan itu berlanjut.
Ketika sang anak sudah bisa berpikir dan mencoba mengenali diri sendiri, batas antara kasih sayang, mengarahkan, menganjurkan, menyarankan, dan melarang itu menjadi kian tipis dan terputus. Bisa jadi dengan alasan kasih sayang, seorang ibu melarang anaknya untuk melakukan sesuatu. Sebaliknya, dengan memberi saran atau anjuran, sang ibu sebenarnya melarang atau membatasi sang anak untuk menentukan pilihannya sendiri. Lihat sajak “Menatap Lukisan Anakku” yang saya kutip secara utuh.

Menatap Lukisan Anakku

(bergulir bulan dari bukit ke bukit)
“anakku, anakku,
jangan biarkan bukit melumat bulan
nanti gelita alam oleh tangisan langit”

(berdebam matahari di tepi kali)
“anakku, anakku,
jangan biarkan mentari ditelan kali
nanti gelita alam oleh gairah yang mati”

Hubungan manusia dengan manusia lainnya memang fluktuatif, kadang cinta kadang benci, kadang suka kadang sebel, atau di dunia politik bisa terjadi hari ini kawan besok jadi lawan, demi kekuasaan. Dari kisah Malin Kundang, sang ibu tidak lagi berperan sebagai sekadar ibu, tapi lebih sebagai penguasa yang memiliki hak prerogatif untuk menjadikan anaknya sebagai batu. Demikian pula dengan seorang sahabat nabi Muhammad yang mengalami sekarat yang panjang, tak mati-mati, karena ternyata tidak mendapat ridlo dari ibunya—lagi-lagi, seorang ibu sangat mendominasi atau menguasai, bahkan sampai ajal menjemput pulang.
Dalam sebuah artikel berjudul “Kerancuan Pribadi Rendra-Lorca” (yang dihimpun dalam buku Sosok Pribadi dalam Sajak, Jakarta: Pustaka Jaya, 1980), Subagio Sastrowardoyo menilai bahwa pokok perhatian Rendra, dalam buku Ballada Orang-orang Tercinta, menyangkut soal-soal remeh yang masih dirasa gawat oleh orang yang berumur sekitar dua puluh tahun, seperti keinginan hendak berdiri sendiri lepas dari lindungan orangtua (“Ballada Petualang”, “Ballada Lelaki yang Luka”, “Anak yang Angkuh”) dan kemesraan hubungan antara anak dengan ibunya dibarengi dengan perasaan benci kepada bapak (”Tangis”, “Ballada Ibu yang Dibunuh”, “Ada Tilgram Tiba Senja”, “Anak yang Angkuh”, “Di Meja Makan”, “Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo”).
Sangat mengherankan kritik yang diberikan Subagio Sastrowardoyo terhadap sajak-sajak Rendra demikian terasa nyinyir, berbeda dengan tiga ulasannya yang lain terhadap Chairil Anwar, Sitor Situmorang, dan Toto Sudarto Bachtiar, yang juga terdapat dalam buku tersebut.
Sangat mengherankan pada proses kemandirian seorang manusia dianggap sebagai sesuatu yang remeh. Muncul pertanyaan spontan: masalah apa yang bukan persoalan “remeh”? Sastrawan Jerman sekaliber Gunter Grass saja masih mengangkat pesan-pesan dongeng kuno ke dalam novelnya, The Tin Drum, dalam konteks kekinian (lihat wawancara Arief Budiman dengan Gunter Grass dalam artikel “Gunter Grass -- Seorang Besar yang Sederhana”, yang dibukukan dalam Perdebatan Sastra Kontekstual, Jakarta: Rajawali, 1985). Dengan demikian, persoalan “remeh” dan “tidak remeh” menjadi relatif.
Rasa ingin lepas dari dekapan bunda, dan juga ayahnya, digambarkan Rendra dalam sajak “Ballada Lelaki yang Luka”, demikian penggalannya:

Lelaki yang luka
biarkan ia pergi, mama!
Akan disatukan dirinya
dengan angin gunung
sempoyongan tubuh kerbau
menyobek perut sepi.
Dan wajah para bunda
Bagai bulan redup putih
pergilah lelaki yang luka
tiada berarah, anak dari angin
Tiada tahu siapa dirinya
didaki segala gunung tua.
Siapa kan beri akhir padanya?
Menapak kaki-kaki kuda
menapak atas dada-dada bunda

Kesadaran akan hidup yang dijalani seorang diri dalam pengertian yang hakiki juga tampak dalam sajak Medy Loekito yang berjudul “Usia”—posisinya sebagai anak yang tumbuh dewasa secara “mekanis”, teringat kembali masa lalu (yang sedih atau gembira tetap saja menimbulkan penyesalan, berapa pun kadarnya).

aku lahir dan terperangkap
usia menjejali pelbagai situasi
menit ke hari ke abad
terkurung tak lagi mungkin punya harap
kapankah masa kanakku kembali?

Perhatikan pula sajak “Sketsa Bayang”: tidakkah kaupikir sungguh mengesalkan/ menjadi begitu penurut/ sendiri hilangkan pikir dari segala angan/ berangkat dewasa mengukur langkah/ untuk berkhir pada gelap. Gagasan sejenis juga terdapat dalam sajak “An Abstruse Obsession”, “Di Buaian Tua”, dan “Epilogue”.
Dalam sebuah sajak yang berjudul “Jika” (yang dimuat di majalah kebudayaan Genta Budaya edisi 8/III/September 2002), Medy bergelut dengan konsep waktu -- sesuatu yang bisa menjadikannya anak-anak dan bisa menjadikannya seorang ibu (orangtua).
Dalam sajak tersebut, Medy memang berperan sebagai aku lirik anak-anak, yang seandainya ada waktu ia ingin bermain boneka, tapi seandainya tak ada waktu, ia ingin memberi bunga mawar pada sang ibu. Sebagai pertanda bahwa konsep ibu demikian merasuk dalam jiwa Medy Loekito. Berikut saya kutip seluruh isi sajak “Jika”:

Jika

jika hari adalah waktu
kuingin ia punya boneka
dan mengajakku bermain

jika hari bukanlah waktu
kuingin ia punya mawar merah
untuk kuberikan pada ibu

Sajak minimalis (memanfaatkan sedikit kata untuk mendapatkan makna yang maksimal) seperti itu pada akhirnya menjadi gaya Medy dalam melahirkan karya-karya terbarunya. Dan kehadiran Medy dalam dunia perpuisian Indonesia cukup membawa ciri tersendiri, meskipun bukan sesuatu yang sama sekali baru, karena mirip sajak haiku Jepang atau gaya Sitor Situmorang saat menulis sajak “Malam Lebaran” atau Sutardji Calzoum Bachri saat menulis sajak “Luka” dan “Kalian”.
Medy terlihat begitu menonjol karena kebanyakan puisi yang lahir pada masanya cenderung menggunakan kata-kata yang berlebihan, atau menggunakan istilah Sutardji, “kebanyakan menggunakan kata-kata yang hingar bingar dalam ungkapan massal”.
Sosok “Ibu” memang cukup menonjol dalam sajak-sajak Medy. Bukan saja ibu yang menderita dan berdarah-darah dalam melindungi anak-anaknya, tapi juga sosok ibu yang memberi kasih sayang dan perhatian sewajarnya, seperti yang tampak dalam sajak “Ibu”.

Ibu

setiap pagi kautuang cinta-cinta ke dalam cangkir
terbaca dengan mudahnya pada asap dan hening teh
lalu dengan cinta mengalir dalam tubuh
kami mulai perlawatan
kumpulkan luka-luka dan kabar derita
sementara hatimu tak pernah ragu tak pernah pura-pura
pada keluh kesah kesedihan hati

petang hari setelah perlawatan
kau sisir luka-luka di baju kami
lalu lelaplah mata dalam tidur
sementara kau rajut jalinan cinta
untuk kau tuang esok
ke dalam cangkir-cangkir kami


Kota
Dalam kumpulan sajak Jakarta, Senja Hari, selain konsep ibu yang demikian menonjol dan menarik untuk dipahami, potret Jakarta sebagai kota metropolitan, megapolitan, bahkan kosmopolitan pun tergambar dengan baik dalam sajak-sajak Medy. Hanya saja, jangan berharap menemukan gemerlap kota Jakarta dalam buku ini. Yang tampak justru kemuraman dan sudut-sudut bau kota Jakarta. Medy membawa pembaca ke pelosok Jakarta “yang lain”—tapi justru sangat dekat dengan kenyataan sehari-hari, bukan Jakarta yang ada dalam impian kaum urban, bukan pula yang dimitoskan banyak orang sebagai kota yang bergelimangan cahaya.
Sajak “The Inferno” merupakan sebuah sajak Medy Loekito yang sangat menusuk. Kota (Jakarta) yang semula memikat banyak orang karena menawarkan berbagai lapangan kerja, telah berubah sebagai “ranjang bordil dan meja judi” yang menyisihkan “bunga-bunga”, menyisihkan orang-orang biasa.
Sudut pandang yang digunakan Medy dalam memotret wajah Jakarta adalah sudut pandang seorang manusia yang terasing dalam hiruk pikuk keramaian yang tak acuh pada manusia dan kemanusiaan. Ia senantiasa melihat keindahan alam yang sempat melintasi Jakarta dari tanah-tanah becek yang bau sampah, dari gubuk-gubuk.
Sajak-sajak yang berjudul “Jakarta (I)” hingga “Jakarta (XI)” (sonder VII dan VIII) serta beberapa sajak seperti “Jakarta, Senja Hari”, “Jalan-jalan di Jakarta”, “Jakarta dan Gelandangan”, dan “Berkatilah Jakarta, Tuhan” menunjukkan keangkuhan ibukota.
Gambaran Jakarta yang murung (tepatnya, realitas Jakarta dan bukan mitos Jakarta) bisa ditangkap dari kutipan sajak-sajak di bawah ini:

Jakarta, Senja Hari

di balik gubuk-gubuk
matahari bulat merah
direjam jembatan-jembatan beton

Jakarta (V)

setiap malam
kubaringkan gedung-gedung batu berhimpitan lelah
menjadi lahan berpetak-petak seperti sawah
lalu kutebar benih-benih penuh kasih
yang tumbuh menjadiu serigala-serigala
setiap pagi

setiap pagi
kubangunkan gedung-gedung batu berhimpitan kantuk
menjadi pusara-pusara makam maha luas
lalu kuukir nama-nama penuh cinta
yang tumbuh menjadi iblis-iblis
setiap malam

Selain itu juga terbaca ironi, persaingan yang tajam seperti di dalam rimba, dan wajah letih Jakarta:

berjuta kenangan terbantai setiap hari di sini
tak guna mencari hari-hari silam
kawan lama pun tak juga jumpa
(“Jakarta (IV)”)

tak lagi kumengerti kemana jalan-jalan ini mampu
berjuta manusia tersesat
bersama kucing-kucing, tikus, dan kecoa
berjalan atas terompah-terompah angkara
berebut piring-piring berisi airmata
(“Jalan-jalan di Jakarta”)

siapa yang tak menangis melihat Jakarta
ia seperti penderita kusta yang tak boleh mati
(“Berkatilah Jakarta, Tuhan”)


Mati
“It seems as though I were a galley-slave, chained to death; every time life moves the chains rattle and death withers everything - and that happens every minute.” Seorang eksistensialis Denmark, Soren Kierkegaard menghayati kematian seperti sesuatu yang mengerikan, karena ada latar belakang trauma yang terus-menerus, akibat kematian saudara-saudaranya secara beruntun. “Aku seperti budak yang terbelenggu pada maut atau kematian; setiap waktu hidup bergerak, maka bergemerincing rantai itu dan maut meluluhlantakkan segalanya—dan ini terjadi setiap menit.”
Sementara kematian bagi Medy Loekito bukan sesuatu yang membebani dan menakutkan, melainkan menjadi suatu “persemaian baru” bagi hidup yang akan datang, untuk melanjutkan “mimpi” di alam lain, atau sebagai salah satu mata rantai dalam sirkulasi kehidupan manusia, yang semula tidak ada kemudian ada dan kembali ke ketiadaan, dengan campur tangan Tuhan.

Tentang Mati
mati tak selalu tanah basah/ dan bunga pucat kehilangan warna, saudara/ kulihatlah langit yang terkubur dengan indahnya/ ditaburi awan jingga dan putih/ bermekaran di tangan Tuhan

Perhatikan pula sajak “Musim Gugur”, “Pemakaman”, “Akhir”, dan “Tulisan Pusara”, dimana Medy tidak lagi menganggap jasad sebagai sesuatu yang berarti, melainkan roh (yang bermekaran di tangan Tuhan)-lah yang penting, karena jasad itu nantinya hanya akan berserak di selangkangan cacing-cacing banci (“Tulisan Pusara”).Karenanya, penyair tak ingin ada airmata yang menetes, dan kematian tidak perlu ditangisi. Dan jangan titikkan airmata/di hari pemakaman, awal perlawatan baru (“Pemakaman”), jangan tangisi/kita pisah bukan lantaran nasib/hanya tak sengaja Tuhan dalam perjalanan ke kota (“Tulisan Pusara”).
Tiga sajak yang menggambarkan kematian dengan indah—sesuatu yang tidak menakutkan, karena mors certa, hora incerta (maut itu pasti, tak mungkin kita sangkal).

Pemakaman

di tanah sepi dimana dedaun bergurat pelangi/ disatukanlah segala yang fana/ kembali kepada bumi/ singkirkan catatan-catatan dunia/ simpan bayang-bayang hari lalu/ ke balik jendela rumah usang/ dan jangan titikkan airmata/ di hari pemakaman, awal perlawatan baru/ telah diikrarkan

Pesan

jika telah kau baringkan aku di tanah/ sesekali kenanglah/ lalu taburkan cinta-cinta dari hatimu yang tak pernah/ henti menetes/ agar padam bara neraka

The Epitaph (2)

(berjuta penyair terpendam di sini)/ siapa mau membeli puisi/koran-koran penuh reklame/ musik cuma menjual teknologi/ aku punya lapar/ tapi tak satu puisiku/ menjanjikan kenyang

Konsep neraka, mimpi, Tuhan, hidup di dunia lain, fana, dunia, nasib, telah menjadi susuatu yang akrab dengan penyair, sehingga tidak lagi menjadi hal yang angker. Gagasan yang sama dapat kita temui dalam sajak “Dan Kematian Makin Akrab” Subagio Sastrowardoyo, yang menyatakan, “kematian hanya selaput gagasan yang gampang diseberangi,” (Lihat Subagio Sastrowardoyo, Dan Kematian Makin Akrab, Jakarta: Grasindo, 1995).


Dalam “The Epitaph (2)”, Medy menggambarkan makam para penyair, yang ditakdirkan senantiasa hidup merana: sendiri, kesepian, dan cenderung mengikuti gaya hidup kaum sufi.


Epilog


Wanita Adalah Bumi
takdirlah wanita lahir sebagai bumi/ dirajam kaki-kaki jembatan kaki-kaki gedung/ dari lukanya tumbuh doa-doa/ berbuah anak-anak negeri


Tanpa perempuan, tanpa seorang ibu, tanpa ada bumi (tanah-air), kehidupan akan berhenti sampai di sini. Adam barangkali akan terus hidup menyendiri, menjadi penyair yang menulis elegi setiap hari, menulis puisi tentang kesepian demi kesepian, mati dalam kesendirian, dan tak akan ada sejarah.


Wanita adalah bumi, kata Medy, yang bisa ditanami apa saja, yang menahan luka semua siksa lelaki, dan selalu menghasilkan “anak-anak negeri”—cikal-bakal bangsa—bangsa yang ada di muka bumi.


Seorang eksistensialis kelahiran Oldenburg, Jerman, Karl Jaspers, sebagaimana dikutip Fuad Hassan dalam Berkenalan dengan Eksistensialisme (Jakarta: Pustaka Jaya, 1973), menyatakan bahwa setiap manusia dalam situasinya sendiri-sendiri tampil dengan kekhususannya dalam mengamati dunianya. Karenanya tidak mungkin kita sampai pada penemuan esensi yang tunggal, universal, dan mutlak.


Demikian pula Medy Loekito yang memandang dirinya sendiri, kehidupan Jakarta di sekelilingnya, dan kematian, dengan sudut pandang yang sangat pribadi. Ada suatu waktu ia memerlukan keteguhan sebagai pohon besar yang rimbun, yang melindungi rumput-rumput kecil yang ada dalam jangkauannya.


Di sisi lain ia melihat sebuah masyarakat Jakarta yang busuk kehidupan rohaninya, meski secara kasatmata Jakarta seperti sebuah rumah kaca pada siang hari dan gemerlap lampu pohon cemara pada malam hari, sehingga bisa dimengerti bahwa dalam pandangan Medy Loekito, sosok ibu memegang peranan yang sangat penting—yang sesungguhnya tak terkatakan, tapi dapat digambarkan Medy dengan luar biasa dalam sajak “Ibu”; sementara anak-anak tidur terlelap, “kau rajut jalinan cinta untuk kau tuang esok ke dalam cangkir-cangkir kami.”


Ya, sesederhana itu kelihatannya. Tapi sesungguhnya di balik itu semua adalah perjuangan yang mengeluarkan keringat, darah, bahkan mempertaruhkan nyawa demi kelangsungan hidup sang anak. Dalam sebuah sajak yang berjudul “Sesungguhnya”, perjuangan seorang ibu itu dilampiaskan Medy dengan kata-kata, “aku begitu dendam kepada nasib yang membual.”


Citayam, Maret 2002


1 komentar:

Medy mengatakan...

aduh, terima-kasih Mas Asep, aku seneng buangets bisa mendapat tempat di dalam rumahmu. kita nyambung ya, soale kemarin baru aja aku baca2 lagi "menjelma rahwana" sambil teringat Mas Asep. thanks ya Mas, caramu "menterjemahkan" puisiku sangat sensasional, sampe bikin aku panik.