Senin, 29 Desember 2008

Penyair yang Menulis Naskah Pidato Politik Presiden Soekarno



















oleh Asep Sambodja


Siapakah penyair yang menulis konsep pidato politik Presiden Soekarno? Mungkin generasi sekarang banyak yang tidak tahu. Kalau penulis naskah pidato Presiden Soeharto mungkin banyak yang tahu, salah satunya adalah Yusril Ihza Mahendra, dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) yang juga mantan Menteri Hukum dan Perundang-undangan itu.
Lantas, siapa penyair yang menulis pidato politik Presiden Soekarno itu? Tidak lain adalah Njoto atau Iramani. Penyair ini lahir di Bondowoso, Jawa Timur, 17 Januari 1923. Lelaki yang juga dikenal sebagai pemain musik dan pengarang lagu ini dikenal sebagai Pemimpin Redaksi Harian Rakjat, koran politik terbesar dengan oplah 23.000 eksemplar yang pernah terbit di Indonesia pada kurun waktu 1950-1965.
Njoto juga dikenal sebagai pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI), tepatnya menjabat sebagai Wakil Ketua II di Politbiro PKI. Ia juga menjabat sebagai Menteri Negara yang diperbantukan pada Presidium Kabinet Dwikora di bawah kepemimpinan Soekarno.
Dalam buku Yang Saya Alami Peristiwa G30S yang ditulis Soebandrio (2006), setelah terjadi peristiwa G30S 1965 dan sebelum PKI resmi dibubarkan, Njoto bersama dua pimpinan PKI lainnya, yakni Dipa Nusantara Aidit (Ketua CC PKI sekaligus Menko/Wakil Ketua MPRS) dan Mohammad H. Lukman (Wakil Ketua PKI sekaligus Menteri/Wakil Ketua DPR GR) ditangkap hidup-hidup dan kemudian mereka dibunuh tanpa proses pengadilan, atau dalam bahasa Soebandrio, mereka “dieliminasi dengan cara tersendiri” (hlm. 124).
Satu lagi petinggi PKI yang ditangkap dan diadili adalah Sudisman, yang divonis mati pada Juli 1967 dan dieksekusi pada 1968 (Ricklefs, 2005). Persidangan Sudisman dan Sjam Kamaruzzaman diliput secara luas oleh pers dan diikuti oleh pengamat politik seperti Ben Anderson.
Soebandrio (2006) juga menjelaskan, Soeharto memerintahkan tentara menembak mati Njoto, Aidit, dan Lukman, dan mereka memang ditembak mati tanpa proses hukum yang berlaku. “Itulah cara Jenderal Soeharto melindungi diri agar kedoknya tidak terbongkar di pengadilan jika ketiga pimpinan PKI itu diadili,” tulis Soebandrio (hlm. 124).
Sastrawan Martin Aleida, yang juga rekan kerja Njoto di jurnal kebudayaan Zaman Baru, yang diterbitkan Lembaga Kebudayaan Lekra (Lekra), memberikan kesaksian atas Njoto menjelang kematiannya. Berikut ini saya kutip tiga alinea yang ditulis Martin Aleida (2003) dalam buku kumpulan cerpen Leontin Dewangga.

“Saya menyaksikan seorang pemimpin redaksi yang baru pulang dari kamar interogasi dengan kulit belakangnya yang lumat digilas ekor pari yang dikeringkan. Karena tak mau menyebutkan di mana teman-temannya bersembunyi, dia dibenamkan ke dalam bak mandi dan dipaksa menghabiskan sepiring penuh sambal merah. Dari kawan yang menjadi pesakitan ini, bagaimanapun saya mendapat pelajaran yang sangat berharga tentang apa pemimpin redaksi itu. Siksa tak kuasa membalikkan hatinya menjadi pendurhaka. Dia tetap tutup mulut. Seorang sersan yang baik hati, yang belakangan bercerita kepada saya, mengatakan bahwa sang wartawan sedikit pun tidak menjerit menerima siksaan. Dia hanya menggigil menahan nyeri. Seperti orang kedinginan.
Sudah lama saya tak bertemu dengan Iramani, seorang budayawan terkemuka yang menjadi idola saya. Dan saya tidak akan pernah bertemu dengan dia lagi. Karena kabar yang dibawa oleh mulut-mulut yang sedang dibungkam membisikkan bahwa dia dibon dari tahanan militer dan dipaksa berdiri di depan regu tembak yang tidak pernah memperoleh perintah yang sah. Dengan meratap di dalam hati, saya hanya bisa melihat istrinya yang dikurung berjejalan dengan anak-anaknya, termasuk bayinya yang baru berusia beberapa bulan, di dalam ruang gelap bekas dapur dari markas militer itu. (Aleida, 2003: viii-ix)
Sebagai kenang-kenangan untuk kawan yang saya kagumi, yang karismatik dan memukau kalau berbicara maupun menulis, saya persembahkan “Ode untuk Selembar KTP”. Satu nyanyian pemujaan pada ketabahan, ketahanan istri Iramani dalam menanggung penderitaan sebagai istri wartawan, publisis, politikus, tokoh partai, budayawan, dan teman dekat Bing Slamet, yang terlahir dengan nama Nyoto. (Aleida, 2003: xvi)

Dalam buku Prahara Budaya yang disusun D.S. Moeljanto dan Taufiq Ismail (1995), Njoto memang menjadi salah satu penggagas berdirinya Lekra. Bersama D.N. Aidit, M.S. Ashar, dan A.S. Dharta (Klara Akustia), ia berinisiatif mendirikan Lekra pada 17 Agustus 1950.
Dalam buku Lekra Tak Membakar Buku yang disusun Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan (2008), organisasi Lekra mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam satu dasawarsa sejak awal kelahirannya. Hal ini dapat dilihat dari hasil Kongres Nasional di Solo, Jawa Tengah pada 24-29 Januari 1959, yang menempatkan sastrawan dan seniman terkemuka Indonesia sebagai anggota pimpinan Lekra Pusat saat itu. Sebagai gambaran, mereka yang duduk sebagai Anggota Pimpinan Pusat Lekra hasil kongres nasional itu antara lain Affandi, Boejoeng Saleh, Hendra Gunawan, Henk Ngantung, H.R. Bandaharo, Joebaar Ajoeb, Pramoedya Ananta Toer, Rivai Apin, Sudharnoto, S. Rukiah Kertapati, dan Njoto.
Yang pasti, selain bergerak di bidang politik, Njoto juga aktif menulis esai budaya dan puisi di Harian Rakjat yang dipimpinnya. Karena tulisan-tulisannya itulah Njoto menjadi sosok yang sangat disegani saat itu. Baik oleh pihak kawan maupun lawan politiknya.
Dalam kesempatan ini, saya ingin membicarakan sembilan puisi Njoto (Iramani) yang terdapat dalam buku Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra Harian Rakjat 1950-1965 yang dieditori Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan (2008), yakni “Tahun Baru”, “Catatan Peking”, “Jangtoe”, “Yenan”, “Shanghai”, “Merah Kesumba”, “Variasi Haiku”, “Variasi Cak”, dan “Pertemuan di Paris”. Perlu saya jelaskan di sini bahwa petinggi-petinggi PKI juga lazim menulis puisi. Selain Njoto, D.N. Aidit, H.R. Bandaharo, dan Sudisman juga menulis puisi.
Garis besar puisi-puisi Njoto menyuarakan antifeodalisme dan antiimperialisme Amerika Serikat. Pada 1961, misalnya, D.N. Aidit dan Njoto sama-sama menulis puisi tentang pembunuhan terhadap Perdana Menteri Konggo, Patrice Emery Lumumba, yang diduga dilakukan oleh “boneka Amerika”. Keduanya juga memperlihatkan solidaritas sastrawan Asia-Afrika yang diikrarkan pada 1955.

D.N. Aidit:
Yang Mati Hidup Kembali

Lama nian aku tak menangis.
tidak karena mata sudah mengering
atau hati membeku dingin,
tapi kali ini dengan taksedar
hati kepala penuh tak tertahan
butir-butir airmata membasahi koran pagi
orang hitam berhati putih itu
dibunuh siputih berhati hitam!

Tapi bukankah pembunuh terbunuh?
Lumumba sendiri hidup selama-lamanya
Lumumba mati hidup abadi!
Kini dunia tidak untuk siputih yang hitam
tapi untuk semua
putih, kuning, sawomatang, hitam….
Kini udara penuh Lumumba
karena Lumumba berarti merdeka.

14-2-1961

Njoto:
Merah Kesumba

Darah Lumumba Merah Kesumba
darah Lumumba Merah Kesumba
Konggo!
laparmu lapar kami
lapar revolusi

Darah Lumumba Merah Kesumba
darah Lumumba Merah Kesumba
Konggo!

revolusimu revolusi kami
revolusimu revolusi kita
revolusi dunia


Kedua puisi di atas sangat ekspresif dan memperlihatkan adanya kecaman terhadap pembunuh. Menarik bahwa dalam puisi itu D.N. Aidit mengatakan “bukankah pembunuh terbunuh?” dan “Lumumba mati hidup abadi”. Pernyataan Aidit ini sangat dalam maknanya, benarkah pembunuh terbunuh dan yang mati hidup abadi? Kita bisa menafsir bahwa pembunuh yang melakukan kejahatan itu akan senantiasa dihantui atau dibayang-bayangi oleh tindakan kejinya sendiri. Sementara Lumumba yang dibunuh akan terus dikenang orang, minimal perjuangannya untuk bangsa Konggo akan terus dikenang hingga sekarang.
Sedangkan Njoto merefleksikan kemarahan yang luar biasa atas pembunuhan PM Konggo itu, dengan mengatakan “darah Lumumba merah kesumba” yang berarti darah Lumumba merah menyala. Perjuangan rakyat Konggo adalah perjuangan “kami”, bahkan perjuangan “kita” yang menunjukkan solidaritas yang tinggi bangsa Indonesia (pelopor persekutuan negara-negara Non Blok) terhadap Lumumba dan Konggo pada umumnya.
Setidaknya ada empat puisi Njoto yang lahir saat ia mengadakan lawatan ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada Oktober 1959, yakni “Catatan Peking”, “Yenan”, “Shanghai”, dan “Jangtoe”. Dua di antaranya saya kutip secara lengkap:


Yenan

Tepat jam empat
8-10-59 waktu setempat
Pesawat mendarat di Yenan keramat

Kami hirup udara sepuaspuas
Kami bernafas sebebas bebas!

Dulu Mekah tempatsuci
Taat Masyumi
Sekarang biar mampus
Washington lebih kudus;
buat kami kaum revolusioner
Yenan tempat suci yang primer

Yenan tua Yenan gua
Heroik tapi sederhana
Yenan baru Yenan mercu
Pabrik muncul satu persatu
Yenan baru Yenan buku
Ilmu maju selajulaju
Ya, Yenan kini Yenan Komune
Tunduk gunung tinggitinggi
Airsungaipun menyisih menepi

Yenan suci
Yenan abadi,
Tiongkok Rakyat
Tiongkok Baru

Dari Yenan
revolusi membakar
dari Yenan
kemenangan berkobar

Yenan…Stan 9.10.59



Shanghai

Di Shanghai
Srigala pernah berkuasa
Di Shanghai
Manusia kini kuasa

Shanghai rumah
Petualangpetualang laknat?
Shanghai rumah
Proletariat!
Selamattinggal papan ditaman Huangpu
“orang Tionghoa dan anjing dilarang masuk”
Taman ini taman Tiongkok
Anjingpun boleh masuk
Cuma imperialis yang tidak!

Troli trem dan bis
tak habishabis
dan pekerjapekerja bekerjalembur
tak tidurtidur
membangun sosialisme
membangun sosialisme
banyak dan cepat
baik dan hemat
ini garis... buat semua
semua
kejar Inggris!
kita bantingtulang bertahuntahun
biar bahagia seribu tahun
langkah nikmat
jika kekuasaan ditangan rakyat!

Mengintip cahaja
dari balik jendela
matahari pagi
datang membuai
Kukenakan kemeja
Kusingsingkan lengannja:
jalan Maucetung
jalan kami
jalan Maucetung
jalan Asia

Shanghai 20-10-59


Pesan yang ingin disampaikan Njoto melalui kedua puisi tersebut sangat jelas, yakni ingin menjelaskan kiblat PKI yang mengarah ke Yenan, bukan ke Mekah atau Washington. Ini sejalan dengan kebijakan Presiden Soekarno yang menggalang Poros Jakarta-Phnompenh-Hanoi-Beijing-Pyongyang yang antiimperealis, yang kemudian dikukuhkan dalam pidato presiden 17 Agustus 1965.
Dalam puisi “Shanghai”, sebuah papan pengumuman di Taman Huangpu yang semula bertuliskan “Orang Tionghoa dan anjing dilarang masuk” sudah dirubuhkan. Tulisan yang sangat diskriminatif itu dihancurkan. Kini, kata sang penyair tak kalah galaknya, siapa pun boleh memasuki taman itu, termasuk anjing, kecuali kaum imperialis. Sekali lagi, semangat antiimperialis inilah yang menonjol dalam puisi-puisi Njoto. Termasuk dalam puisinya yang berjudul “Catatan Peking” dan “Variasi Cak”.
Penulisan puisi semacam ini menunjukkan sikap dan komitmen politik Njoto yang sangat tegas dan jelas. Sebagai sastrawan Lekra, apalagi Njoto adalah salah satu pendirinya, sikap politik yang demikian memang sudah lazim di kalangan sastrawan Lekra, karena mereka berpegang teguh pada konsep “seni untuk rakyat” yang menerapkan prinsip “politik adalah panglima”.
Dengan demikian, teranglah bahwa puisi-puisi sastrawan Lekra, termasuk puisi Njoto, sarat dengan sikap politik penyairnya, yang dalam hal ini tidak boleh menyimpang dari garis kebijakan partai. Kalau berhadapan dengan tema-tema globalisasi saat itu, maka sikapnya tegas: antiimperialisme.
Sebenarnya tidak ada yang salah, tidak ada yang keliru dengan konsep seperti itu. Lagi pula siapa di dunia ini yang mendukung imperialisme? Hanya orang-orang yang haus kekuasaanlah yang bersikap demikian. Hanya negara-negara yang tamak, rakus, dan biadablah yang proimperialisme.
Dari kepenyairan Njoto atau Iramani ini pula kita bisa membaca bahwa sastra dapat berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan gagasan-gagasan politik seseorang. Tentu saja sesuai dengan visi politik masing-masing sastrawan. Kita lihat bahwa petinggi-petinggi PKI memanfaatkan karya sastra, dalam hal ini puisi, untuk mengekspresikan gagasan politiknya itu. Selain Njoto, D.N. Aidit, Sudisman, dan H.R. Bandaharo menulis puisi untuk maksud demikian. Bahkan nama yang disebut terakhir dinilai Goenawan Mohamad sebagai penyair Lekra yang berhasil, yang patut diperhitungkan selain Agam Wispi dan Amarzan Ismail Hamid.
Puisi, dengan demikian, memiliki arti penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan memiliki posisi yang sangat penting sebagai media ekspresi bagi politikus. Biasanya politikus yang akrab dengan puisi atau karya sastra cenderung memiliki empati atau kepekaan terhadap rakyatnya, konstituennya, orang yang diwakilinya. Mereka yang membaca karya sastra, apalagi menulis karya sastra akan bersikap jujur pada rakyatnya, karena mereka senantiasa diasah untuk jujur pada dirinya sendiri. Selalu begitu.
Sebagai penulis naskah pidato politik Presiden Soekarno, tentu hubungan di antara mereka terjalin sangat akrab. Hal ini tercermin dalam puisi “Pertemuan di Paris” yang saya kutip untuk mengakhiri tulisan ini.


Pertemuan di Paris

Pagi ini dihotel “Crillon”
(aku datang dari “Napoleon”)
Bung Karno memeluk aku erat-erat;
(sejumlah mentari diseputar kami melihat)
Selamat jalan Bung Njoto –
Salamku kepada kawan-kawan kita di Moskow.
Di chambre separo
kami diskusikan sensasi sehari sebelumnya;
sambil menghirup cafe dan vin rose
jatuhnya Chrusjcov dari tahta.
Kuceritakan betapa Bung Aidit menasehatkan
jangan diktatur proletariat dihapuskan –
sebab kalau ada usaha penggulingan?
Namun Chrusjcov bukanlah Chrusjcov
kalau tak bersikeras lagi tak dapat –
dia tersungkur oleh “negara seluruh Rakyat“!
Lalu berceriteralah Bung Karno
bahwa dua minggu yang lalu di Moskow
bertengkar ia dengan tsar revisionisme itu
yang – pula karena kepalabatu –
mendorong Bung Karno di Kairo berseru;
Hidup ko-existensi antara Moskow dan Washington!
Mana mungkin yang macam itu antara Jakarta dan London
Atau Sihanouk dan Lyndon Johnson!
Kau kenal pengganti-penggantinya, tanya beliau, aku kenal.
Aku menggelengkan kepala, bukan kesal
Tapi gemas aku akhirnya bikin perbandingan;
Disini di Paris berserakan striptease
Dengan pokalnya di Kongo, di Kuba dan di Vietnam
Bukankah revisionisme juga bermain striptease?
Arus tak kendat-kendatnya di Seine
Manusia terus berkunjungan ke Montmartre,
Dikota 4 revolusi dan 5 republik ini
Tempat Marx dan Engels, Lenin dan Cachin pernah bekerja

udara tak sehangat Asia, dimana api
revolusi membakari sosok-sosok GI jengki
dan segala boneka dari Rachman sampai ke “Gurkha”.
Bersama Szuma Wen-zen di Tour d’argent, gelisah
Aku merasa Tour d’Eifel rendah
Dan di Champs Elisee terasa benar Arc de Triomph lesu –
Kapan proletariat Eropa Barat ini bangkit menyerbu
Bastille-bastille abad kita
markas besar Nato dan armada-armadanya,
pangkalan-pangkalannya, tentara pendudukannya?
Didepan lift “Crillon”, diserambi bawah
Kutatap senyum Bung Karno, lembut seperti seorang ayah –

dua pejuang berpisah sedang hati bertemu.
Reaksi dunia juga yang pilu.


Citayam, 29 Desember 2008

1 komentar:

Ronny So mengatakan...

mengapa kekayaan ini, sekian lama tak terungkap. mengapa puisi yang mencerminkan identitas danjati diri ini tenggelam begitu saja. generasi muda mestinya bisa belajar dari banyak hal yang terpendam selama ini