Selasa, 03 November 2009

Fakta dalam Cerpen Martin Aleida




oleh Asep Sambodja

“Saya pikir, ternyata saya tidak lebih berharga dari sebutir debu.” Kutipan ini terdapat dalam cerpen “Ratusan Mata di Mana-mana” yang terdapat dalam buku Mati Baik-baik, Kawan karya Martin Aleida (2009).
Apa yang ditulis Martin Aleida dalam cerpen tersebut memang seperti sebuah memoar seorang sastrawan Lekra pada masa 1971-1984, masa-masa pembungkaman sastrawan Lekra dan mulai berdirinya majalah Tempo. Di majalah berita mingguan itulah Martin Aleida bekerja sekaligus mencari nafkah sebagai wartawan olahraga dan kesehatan. Padahal di majalah itu banyak sekali sastrawan-sastrawan Manikebu, seperti Goenawan Mohamad, Bur Rasuanto, A. Bastari Asnin, Usamah, dan lain-lain.
Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan seorang sastrawan Lekra masuk ke sarang sastrawan Manikebu. Tentu timbul perasaan “tidak lebih berharga dari sebutir debu”, yang sewaktu-waktu bisa dikibaskan dengan kemoceng. Tapi, itulah cara bagi sastrawan Lekra dan anggota PKI lainnya untuk bertahan hidup, karena hampir semua pintu untuk mencari nafkah sudah ditutup Rezim Orde Baru. Bisa jadi pula sebenarnya di antara sesama sastrawan atau seniman masih memungkinkan terjalinnya tali silaturahmi meskipun ada perbedaan ideologi di antara mereka.
Cukup banyak fakta yang diangkat Martin Aleida dalam cerpen itu, dan ternyata sangat mengejutkan. Di antaranya adalah kedekatan Salim Said dengan Sarwo Edhie Wibowo. Kedekatan itu digambarkan Martin dengan kedatangan Sarwo Edhie ke tempat kos Salim Said. Siapa yang tidak kenal Sarwo Edhie Wibowo? Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) ini di mata sebagian orang dielu-elukan karena telah membunuh ratusan ribu orang PKI. Tapi, di mata orang-orang PKI, termasuk di mata sastrawan Lekra seperti Martin Aleida, tangan Sarwo Edhie Wibowo yang juga mertua Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono itu berlumuran darah. Bagaimana kaitan sesungguhnya antara Sarwo Edhie Wibowo dengan wartawan Tempo Salim Said, yang kini jadi pengamat militer, tak terjelaskan dalam cerpen itu.
Tapi, peristiwa itu menyadarkan Martin Aleida, bahwa ternyata ada “mata di mana-mana”, termasuk rekan kerjanya di majalah Tempo. Sebagai sastrawan Lekra yang berafiliasi dengan PKI, tentu saja Martin bersyukur karena Salim Said tidak memperkenalkan jati diri Martin kepada Sarwo Edhie. Di mata Martin, Sarwo Edhie Wibowo adalah “legendaries hidup yang mengaku telah menghabisi tiga juta orang komunis dalam gerakan penumpasan yang dipimpinnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali” (Aleida, 2009: 124).
Yang menyakitkan adalah ketika mengetahui bahwa teman seperjuangan kita ternyata adalah seorang pendurhaka. Dalam cerpen tersebut, Martin Aleida menyebut nama Sartono—saya menduga ini nama sebenarnya, karena nama-nama tokoh yang ada dalam cerpen semi memoar ini adalah nama-nama yang sebenarnya—yang dulu di zaman Orde Lama menjadi aktivis Lekra, begitu hidup di zaman Orde Baru menjadi interogator di Markas Komando Daerah Militer Jayakarta (Kodam Jaya). Dan, yang diinterogasi adalah kawannya sendiri. “Nasib telah menjelma menjadi sungai yang besar dan deras, yang memisahkan jalan hidup kita berdua! Aku di sini. Kau di situ, dan cuma sebagai seorang pendurhaka!” (Aleida, 2009: 120).
Banyak nama yang disebut atau terlibat dalam cerpen ini. Di antaranya Fikri Jufri, Eka Budianta, Ed Zoelverdi, Syu’bah Asa, Putu Wijaya, dan Usamah. Dari cerpen itu pula kita tahu bahwa yang menemukan slogan “Enak Dibaca dan Perlu” adalah Usamah. Pembaca juga tahu bagaimana intrik-intrik juga terjadi di dalam sebuah majalah berita, apalagi majalah berita yang sarat memuat berita politik.
Sebagaimana cerpen-cerpennya dalam Leontin Dewangga, cerpen-cerpen yang terdapat dalam Mati Baik-baik, Kawan juga merupakan sebuah kesaksian. Ciri khas sebagai sastrawan Lekra juga tampak dalam karya Martin Aleida ini, yakni menceritakan apa yang benar-benar terjadi dalam masyarakatnya, dengan menggunakan teknik penceritaan yang memperhatikan betul nilai artistiknya. Sehingga, karya sastra yang tercipta, dalam hal ini cerpen-cerpen Martin Aleida, adalah karya yang benar-benar berisi, bukan karya yang kosong.
Saya teringat pada tulisan Arif Bagus Prasetyo dalam buku 60 Puisi Indonesia Terbaik 2009 yang diterbitkan Pena Kencana. Ia bermimpi suatu saat kelak akan membaca karya-karya semacam “Sair Kedatangan Sri Maharadja Siam di Betawi” yang ditulis berdasarkan peristiwa “jang soenggoeh-soenggoeh terdjadi”. Dengan demikian, pembaca karya sastra akan mendapatkan wawasan setelah membaca karya sastra tersebut.
Apa yang dilakukan Martin Aleida sudah lebih dari itu. Dia tidak saja bercerita tentang sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, tapi dia juga memberikan perspektif yang relatif baru, yakni dari sudut pandang sang korban politik Orde Baru. Yang membuat cerpen-cerpen Martin Aleida lebih menarik adalah dia sendiri juga menjadi korban. Jadi, dia tidak perlu lagi berpura-pura untuk menyuarakan kepedihan orang lain, melainkan ia tinggal menuturkan cerita secara jujur saja, secara apa adanya. Maka yang terbaca adalah keindahan.
Saya juga memimpikan hal yang sama dengan Arif B. Prasetyo, bahwa sejatinya sastrawan juga tidak membutakan matanya dengan apa yang terjadi di lingkungannya. Dalam hal ini, saya menilai konsep kesenian yang digagas dan dibuat sastrawan-sastrawan Lekra dalam Mukaddimah Lekra (28 Januari 1959) merupakan sesuatu yang menarik. Untuk menyebut beberapa di antaranya, saya kutip sebagai berikut. Pertama, rakyat adalah satu-satunya pencipta kebudayaan. Kedua, keragaman bangsa kita ini menyediakan kemungkinan yang tiada terbatas untuk penciptaan yang sekaya-kayanya serta seindah-indahnya. Ketiga, Lekra mendorong inisiatif yang keratif, mendorong keberanian kreatif, dan menyetujui setiap aliran bentuk dan gaya, selama ia setia pada kebenaran, keadilan dan kemajuan, dan selama ia mengusahakan keindahan artistik yang setinggi-tingginya.

Citayam, 4 November 2009

1 komentar:

Idroes Bin Haroen mengatakan...

membaca cerpen2 martin aleida, bagai mengalami kemuraman masa lalu. penuh asap hitam, gigil masalalu yang artistik. novel 'jamalangik tak pernah menangis' adalah kesaksian lain yang tidak kalah mendebarkan.