Selasa, 14 Oktober 2008

Membicarakan Perempuan di Radio Bahana



oleh Asep Sambodja

Pada hari Kamis pagi, 17 April 2003, dua penyiar Radio Bahana FM, Jakarta, Ella dan Leoni, dari studio menelpon ke HP saya dan menanyakan, kenapa banyak lagu di Indonesia yang menjadikan perempuan sebagai objek mereka, dan terkadang menggunakan kiasan yang aneh-aneh seperti "mata indah bola pimpong" dan ada pula yang nyrempet-nyrempet ke masalah seks?
Saya katakan, perempuan sebenarnya hanyalah salah satu sumber ilham (inspirasi) bagi pencipta lagu atau penyair di antara banyak hal yang ada di muka bumi ini. Dan sejak dulu pula perempuan menarik perhatian pencipta lagu atau penyair, karena dalam diri perempuan itu ada daya tarik tersendiri, ada cinta, keindahan, dan yang paling menarik adalah misteri yang tersimpan di dalam diri perempuan itu sendiri.
Perempuan yang bersuara lembut (penyiar rata-rata memiliki kelebihan seperti ini) terus menanyakan, misteri seperti apa?
Bagi pencipta lagu atau penyair yang berjenis kelamin laki-laki, sejak dulu hingga sekarang selalu penasaran dengan misteri yang ada dalam diri perempuan. Saya katakan sejak dulu, maksudnya adalah sejak zaman nabi Adam. Nabi Adam adalah orang pilihan, tapi kenapa dia bisa tergoda oleh seorang perempuan (Hawa) untuk “memakan buah kuldi” atau yang saya terjemahkan dengan melakukan hubungan seksual? Pasti ada sesuatu yang menyebabkan laki-laki selalu ingin mengetahui misteri perempuan itu, baik yang ada dalam diri perempuan maupun faktor-faktor eksternal yang melingkupi perempuan itu. Kalau pencipta lagu itu menggambarkan laki-laki, kan malah aneh. Yang kita tahu kan penggambaran tentang laki-laki itu adalah mengenai kegagahan, ketampanan, dan kebuayaan, atau laki-laki yang brengsek, seperti yang kita dengar dari lagu dangdut “Mabuk Lagi” itu.
Tapi, kenapa pengarang lagu selalu menonjol-nonjolkan hal-hal yang berkaitan dengan bagian tubuh tertentu dari perempuan. Anda sebagai penyair bagaimana melihat hal ini?
(Aduh, saya sudah dibaptis atau dibaiat jadi penyair. Padahal, saya sendiri cenderung mengatakan penyair itu tidak jauh beda dengan orang gila). Saya pikir tidak semua pencipta lagu melakukan hal-hal seperti itu. Ebiet G. Ade itu menulis tentang perempuan dengan baik. Lagu “Camellia” itu mengisahkan tentang misteri perempuan. Meskipun perempuan itu sudah meninggal, tapi ia masih meninggalkan cinta atau kesan yang mendalam dalam diri penciptanya, dalam hal ini Ebiet G. Ade. Jadi, jangan digeneralisir. Kalau membicarakan sesuatu dengan cara menggeneralisir seperti itu, rasanya kurang tepat.
Kira-kira, kenapa dipakai kiasan seperti “mata indah bola pimpong”? Bola pimpong kan gede? Itu hanya merupakan gaya pengucapan si penyair atau pencipta lagu. Tapi, kita harus melihat kiasan itu dalam konteks lagu yang dinyanyikan Iwan Fals. Lagu itu kan berisi ungkapan yang lugu dan apa adanya dari seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Dan sebenarnya hal-hal seperti ini kan yang paling disukai oleh perempuan. Tinggal bagaimana perempuan menanggapinya.

Tapi kenapa harus seperti “bola pimpong”?
Ya sebaiknya lagu atau karya sastra atau karya seni jangan diartikan secara harfiah seperti itu. Kalau diartikan secara harfiah, maka tidak ada bedanya dengan berita. Begitu juga bagi pengarang lagu, kalau dia menulis lirik lagu persis seperti apa yang kita lihat atau sama persis dengan fakta, maka akan menjadi berita. Jadi, jangan diartikan secara harfiah. Sama halnya dengan ungkapan “wajahmu seperti rembulan”, yang kalau diartikan secara harfiah, maka tidak akan kena.
Kenapa perempuan digambarkan secara stereotip, sementara perempuan selalu berubah. Bukankah sudah ada perempuan yang profesor, dokter, yang pintar-pintar sudah banyak, kenapa yang digambarkan hanya melulu mata yang indah, bibir yang merekah seperti delima?
Saya setuju dengan pendapat seperti itu. Saya setuju bahwa perempuan selalu berubah. Justru karena itulah keingintahuan laki-laki terhadap perempuan juga tidak akan berhenti sampai kapan pun. Karena mereka terus berubah dan misteri yang ada dalam diri mereka pun semakin kompleks, semakin tak terjamah, semakin tidak bisa dimengerti. Sedangkan soal ungkapan-ungkapan itu, sekali lagi, hanyalah gaya ucap dan jangan diartikan secara harfiah. Apakah cinta bisa diungkapkan secara harfiah?
Bagaimana dengan lagu-lagu yang nyrempet-nyrempet ke masalah seksual seperti lagunya Ari Lasso itu?
Wah, saya belum pernah mendengarkan lagu Ari Lasso yang nyrempet-nyrempet seperti itu. Saya sering mendengarkan lagu-lagu dangdut. Seperti sekarang-sekarang ini kan saya penasaran menonton Inul karena ramainya di pemberitaan. [Belakangan baru saya dengar lagu Ari Lasso yang "nyerempet-nyerempet", padahal maksud lagu itu adalah soal hati perempuan. Kalau kita bisa memegang hati perempuan, maka kita bisa menaklukkannya--pakai tanda petik. Cuma, dalam lagu itu kata "hati" tidak diucapkan secara gamblang, melainkan diolah kesana-kemari hingga menimbulkan asosiasi yang tidak begitu beres. Ngeres. Ngeres dari perspektif si penafsir, dalam hal ini pendengar].
Suka Inul juga?
Ya, dan lagi ramainya pemberitaan membuat saya ingin melihat dan bahkan ketemu. Ulama-ulama yang melarang Inul itu kan ulama yang kurang kerjaan. Masalah goyang seperti itu diributkan, sementara masalah lain yang lebih besar, seperti masalah korupsi, malah tidak diperhatikan. Dan kelakuan ulama seperti itu kan sudah dikritik oleh Gus Mus (K.H. Mustofa Bisri). Malah, ketika ketemu Inul langsung untuk konfirmasi, Inul malah mengatakan, ulama yang melarangnya bergoyang seperti ngebor itu justru mendatangi dan mengatakan pada Inul, “Kalau kamu nggak saya larang, kamu nggak akan seperti ini.” Itu kan omong kosong.
Itu memang sudah rejekinya Inul, kata penyiar Radio Bahana, sambil mengucapkan terima kasih.

Catatan Tambahan atawa Tambah Cacatan
Saya memang tidak kaget ditelepon Radio Bahana, karena ini yang kedua kalinya. Yang jadi pertanyaan saya, kok saya disuruh bicara tentang perempuan? Saya akui tidak ada kapasitas saya untuk bicara soal perempuan. Karena, bagi saya, perempuan itu satu-satunya makhluk hidup yang sulit dirumuskan. Jadi, sampai sekarang pun sebenarnya saya tidak betul-betul mengerti dan memahami perempuan (apalagi dengan baik). Membicarakan perempuan itu tidak usah pakai kata-kata, cukup pakai bahasa hati saja. Belai dia. Peluk dia. Cium dia. Sayangi dia. Habis perkara. Selanjutnya, terserah Anda.

Lebak Bulus, April 2003

Tidak ada komentar: