Jumat, 25 September 2009

Kesaksian Rendra di Tahun 1967




oleh Asep Sambodja

Kesaksian Tahun 1967

Dunia yang akan kita bina adalah dunia baja
kaca dan tambang-tambang yang menderu
Bumi bakal tidak lagi perawan
tergarap dan terbuka
sebagai lonte yang merdeka
Mimpi yang kita kejar, mimpi platina berkilatan
Dunia yang kita injak, dunia kemelaratan
Keadaan yang menyekap kita, rahang serigala yang menganga

Nasib kita melayang seperti awan
Menantang dan menertawakan kita
menjadi kabut dalam tidur malam
menjadi surya dalam kerja siangnya
Kita akan mati dalam teka-teki nasib ini
dengan tangan-tangan yang angkuh dan terkepal
Tangan-tangan yang memberontak dan bekerja
Tangan-tangan yang mengoyak sampul keramat
dan membuka lipatan surat suci
yang tulisannya ruwet tak bisa dibaca


Apa yang hendak dikatakan Rendra dengan puisi “Kesaksian Tahun 1967”? Jawabannya sangat sederhana. Rendra ingin memberikan kesaksian mengenai kondisi Indonesia pada 1967. Dikatakan “kondisi Indonesia” karena sebuah karya seni, termasuk karya sastra senantiasa terkait dengan ruang dan waktu. Soal waktu sudah disebutkan secara eksplisit oleh penyair melalui judul puisi ini, lalu bagaimana dengan ruang?
Sapardi Djoko Damono pernah mengatakan bahwa karya sastra tidak begitu saja jatuh dari langit. Ada yang menciptakannya. Dalam hal ini, Rendra sebagai penyair dan dramawan besar Indonesia membaca kehidupan sosial politik di negerinya dan memberikan kesaksian melalui puisi tersebut.
Saya menilai kegelisahan eksistensial Rendra sangat menonjol dalam puisi itu, meskipun yang dibicarakan adalah persoalan kehidupan masyarakatnya. Persoalan-persoalan kehidupan itu diserap dan dihayatinya kemudian diekspresikan melalui “Kesaksian Tahun 1967” setelah mengalami proses pengendapan. Kata-kata yang digunakan Rendra sangat khas; idiom yang digunakannya juga terbaca dalam puisi-puisinya yang lain.

Bumi bakal tidak lagi perawan
tergarap dan terbuka
sebagai lonte yang merdeka

Inilah yang menarik: Persoalan di masyarakat yang dibaca oleh para penyair bisa sama, namun puisi yang tercipta bisa berbeda. Artinya, masing-masing penyair memiliki cara penghayatan yang berbeda-beda pula; baik penghayatan terhadap kehidupan maupun penghayatan pada setiap kata sebagai piranti puisi. Sebagai contoh, sebagian penyair Lekra yang saya baca cenderung menghadirkan kenyataan secara telanjang dalam puisi, sementara Rendra, misalnya, kenyataan itu telah mengalami pengolahan dalam dirinya, sehingga yang hadir dalam puisi adalah kenyataan dalam wujudnya yang lain, yang telah mengalami internalisasi dalam diri penyair.
Tahun 1967 di Indonesia adalah masa bulan madu rezim Orde Baru dengan kekuasaan. Soekarno telah menjadi bagian dari sejarah dan PKI sedang gencar-gencarnya digencet presiden baru. Situasi sosial politik yang digambarkan Rendra bisa terbaca dalam baris-baris simbolik seperti ini:

Dunia yang kita injak, dunia kemelaratan
Keadaan yang menyekap kita, rahang serigala yang menganga

Bait kedua puisi “Kesaksian Tahun 1967” sarat dengan pergulatan hidup seorang Rendra yang penuh vitalitas. Ia bicara tentang nasib; sesuatu yang tak bisa lepas dari campur tangan Tuhan. Nasib sama seperti kehidupan itu sendiri. Sama-sama tidak ada kepastian. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi satu detik ke depan? Begitu juga dengan nasib, meskipun ada firman Tuhan yang mengatakan bahwa “Allah tidak mengubah nasib seseorang kecuali mereka mengubah keadaan.” Artinya, Tuhanlah yang memegang nasib kita. Sampai-sampai Rendra menulis, “Kita akan mati dalam teka-teki nasib ini.” Hanya kematianlah yang pasti dalam kehidupan manusia. Selebihnya hanya teka-teki.
Karena ketidakpastian seperti itulah setiap insan membutuhkan pegangan atau pedoman. Hanya saja, pada saat itu, saat puisi itu ditulis, Rendra merasakan tak ada pedoman yang bisa menyejukkan hatinya, atau meluluhkan jiwa pemberontakannya. Kalaupun ada, maka pedoman atau “surat suci” itu “tulisannya ruwet tak bisa dibaca”.

Citayam, 26 September 2009

1 komentar:

Donny mengatakan...

surat suci yang tulisannya ruwet itu merujuk kemana ya bang? Apa maksudnya merujuk pada Al-qur'an yang pemahamannya belum mendapat interpretasi yang pas buat Rendra sampai dia membuat puisi tersebut?

maaf kalau komentarnya, sekedar ciloteh lapau aja nih bang,

salam