Selasa, 22 September 2009

Sedihnya Abadi



oleh Cunong Nunuk Suraja


Ia Menulis Puisi Sedih

by Asep Sambodja (notes) Yesterday at 10:22pm

ia merasa sebagai laki-laki paling malang sedunia
ia menulis puisi cinta
antara ibunya dengan laki-laki entah siapa

ia merasa sangat peduli dengan adik-adiknya
yang tertidur dengan tenang
di bawah batu-batu nisan
di taman makam bukan pahlawan

hanya ibunya yang belum ia bunuh
meski ia tahu ibunya selingkuh

ia merasa sebagai laki-laki paling malang di dunia
ia menulis puisi cinta
dengan darah yang mengalir dari jari-jarinya

tapi puisi itu tak pernah selesai ditulisnya
tak kan pernah selesai
karena sang ibu menangis
di depan jasadnya


Citayam, 22 September 2009
Asep Sambodja


Jauh lama sekali nun di tahun 1967 penyair yang telah jadi dewa sastra menuliskan DukaMu Abadi yang bermula dari sabda, Memang kerena Dia yang mengucap sabda dalam kondisi dan situasi apapun. Lain dengan penyair terkini yang masih melilitkan sunyi sepi sendiri dalam bait-baitnya karena kehilangan cinta monyet remaja. Di era facebook, puisi sudah bukan lagi sebuah meditasi atau kontemplasi. Puisi sudah harus berteori kata Pak Loektamaji. Tapi TS Pinang hanya mau kritik akademisi yang berderet catatan kaki untuk menunjukkan betapa luasnya bacaan penghardik puisi itu. Sedang Hudan Hidayat maunya menyejajarkan diri pada penulis berlabel nobel yang terakreditasi, tapi apa lacur dunia masih mendiskriminasi dengan membelah jadi minimal tiga. Dan jangan tanya apa hak dunia ketiga kecuali tempat buang hajat segala produk budaya, dari teori sampai pola hidup yang tersirat, termasuk makan dan berpakaian. Selera harus mengglobal sebagai ciri kemodernan sikap budaya kekinian. Tren yang membunuh selera lokal. Tak pelak lagi Asep Sambodja juga menawarkan kisah yang lokal mengglobal dengan kisahan tentang lelaki yang teraniaya:

tapi puisi itu tak pernah selesai ditulisnya
tak kan pernah selesai
karena sang ibu menangis
di depan jasadnya

Kematian yang meradang atas kekecewaan dan ketidakberdayaan menyatakan cinta karena peristiwa awal yang boleh juga diangkat lagi peristiwa Sysiphus yang mendorong batu, atau Oedipus yang mengawini ibunya, ataupun Malin Kundang yang jadi batu, bahkan Sangkuriang maupun Bandung Bondowoso yang kelak tak berhasil memperistri perempuan yang masih ada hubungan darah karena kegagalan menyediakan maskawin. Penyair yang ingin menuliskan puisi cinta itu juga gagal sebelum dia menyingkap gaun perselingkuhan ibunda dengan darah yang dituliskan habis sebelum larik cinta itu memuisi. Puisi yang membicarakan masalah purba dengan wacana global mendera sikap paskakolonial yang memunculan the other (liyan). Liyan yang masih misteri dalam pusi itu!

Kata pembuka dengan diskripsi tokoh kisahan puisi Asep Sambodja dengan jelas telah menawarkan mitos modern yang kuno tentang cinta gelap atau terlarang. Cinta tanpa perjanjian terikat kecuali syahwat. Dan cinta syahwat ini mengikat aku lirik yang merasa teraniaya sedunia. Simak ungkapan lugasnya:

ia merasa sebagai laki-laki paling malang sedunia
ia menulis puisi cinta
antara ibunya dengan laki-laki entah siapa

Cinta liar itu telah memojokkan aku lirik pada sikap yang hopeless and no choice. Tak mampunya mencari the other yang menyusupi jejak kelakian pada kepesonaan perempuan akan nikmat sesaat yang mengorbankan harta titipan dengan tanpa harga senilai pahlawan. Perhatikan ungkapan aku lirik yang makin kehabisan akal menghadapi bencana siang hari bagi kehidupannya:

ia merasa sangat peduli dengan adik-adiknya
yang tertidur dengan tenang
di bawah batu-batu nisan
di taman makam bukan pahlawan

Wacana yang digulirkan aku lirik seakan menjadi penyelamat fatalis dan nihilis mentok pada sikap bahwa sorga di bawah telapak kaki ibu, menggugurkan niat menyelesaikan cerita perselingkuhan buah dari peradaban neo-modern yang kadang seperti politikus yang bersikap kucing dan tikus yang terlihat pada film kartun Tom and Jerry.
Sejauh bango terbang ke langit yang akhirnya singgah juga ke rawa yang berbecek ria demikianlah akhir pengkisahan anak manusia yang masih percaya sorga ada di telapak kaki ibu. Tak ada keberanian membunuh penyebab kedukaan yang mengabadi kecuali mengakhiri dengan harakiri yang patriotik dengan darah sendiri. Boleh dikata sebuah keniscayaan yang tersiakan. Gambaran generasi muda yang tahan dipuji tak tahan menghadapi kritik dan buntu berhadapan dengan masalah yang menurut tingkat pengalaman hidupnya terlalu pelik. Dasar remaja kencur menuntut kebenaran yang sukar terbuktikan adanya wabah perselingkuhan dan tidak pernah terlintas di benak aku lirik kalau dirinya mungkin juga hasil genetika rekayasa bayi perselingkuhan.

Lengkaplah sudah gaung DukaMu Abadi pada jejak lelaki pada pupuh puisi Asep Sambodja:

ia merasa sebagai laki-laki paling malang di dunia
ia menulis puisi cinta
dengan darah yang mengalir dari jari-jarinya


Kembali duka itu mengabadi karena puisi darah itu tak pernah eksis dan hilang dalam imaji pembaca yang cukup kritis.

Bogor seusai hari Fitri 2009

Tidak ada komentar: